BENARKAH KITA MANUSIA BEBAS?

kawruh sejati hal kebebasan

Kita sering merasa bebas.

Bebas memilih pekerjaan, memilih pasangan, menentukan jalan hidup, menyampaikan pendapat, bahkan memilih apa yang ingin dilakukan hari ini. Selama tidak ada orang yang memaksa, kita menganggap diri kita sebagai manusia yang merdeka.

Tetapi benarkah kita benar-benar bebas?

Pertanyaan sederhana ini ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Sebab, sesuatu yang kita sebut sebagai “pilihan sendiri” belum tentu lahir dari kesadaran yang benar-benar jernih.

Bisa jadi kita memilih karena kebiasaan. Bisa jadi karena ketakutan. Bisa jadi karena keinginan. Bisa jadi karena pengalaman masa lalu. Bahkan bisa jadi karena sesuatu dalam diri kita yang belum pernah kita sadari.

Di sinilah pertanyaan tentang kebebasan menjadi menarik jika dilihat melalui kawruh sejati dan kawruh kasunyatan.

Bebas Memilih Belum Tentu Bebas.
Secara sederhana, manusia disebut bebas ketika mempunyai pilihan.

Saya mau pergi atau tidak.
Saya mau berkata atau diam.
Saya mau melakukan atau tidak melakukan.

Namun, apakah memiliki pilihan otomatis berarti kita bebas?

Bayangkan seseorang yang marah lalu berkata kasar. Setelah itu ia mengatakan, “Itu pilihanku. Aku bebas mengatakan apa saja.”

Benarkah?

Ia memang memilih untuk berkata kasar. Tetapi apakah pilihan itu lahir dari kesadaran yang jernih, atau hanya dari rasa marah yang sedang menguasai dirinya?

Contoh lain lebih sederhana.

Seseorang ingin membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena melihat orang lain memilikinya. Ia merasa bebas memilih untuk membeli.
Padahal pilihannya mungkin didorong oleh keinginan untuk diakui.

Jadi, persoalannya bukan hanya apakah kita bisa memilih, melainkan apa yang sebenarnya menggerakkan pilihan kita.

Cipta, Rasa, dan Karsa.
Dalam pemahaman kawruh sejati, kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari cipta, rasa, dan karsa.

Cipta berkaitan dengan cara kita berpikir dan memandang sesuatu.

Rasa berkaitan dengan keadaan batin yang memberi warna terhadap pengalaman.

Karsa berkaitan dengan kehendak yang kemudian mendorong seseorang menuju tindakan.

Ketiganya tidak berdiri sendiri.

Apa yang kita pikirkan dapat memengaruhi rasa. Rasa dapat memengaruhi kehendak. Kehendak kemudian mendorong tindakan.

Karena itu, seseorang mungkin merasa dirinya sedang memilih secara bebas, padahal pilihannya merupakan hasil dari rangkaian proses batin yang tidak pernah ia perhatikan.

Di sinilah pentingnya mengenali diri.

Bukan untuk mengatakan bahwa semua pilihan manusia sudah ditentukan, melainkan untuk melihat bahwa kebebasan mempunyai kedalaman yang lebih besar daripada sekadar kemampuan memilih.

Kawruh Sejati Tidak Sekadar Mengajarkan “Apa”.
Kawruh sejati bukan sekadar kumpulan pengetahuan tentang kehidupan.

Pengetahuan dapat memberi tahu kita tentang banyak hal. Tetapi mengetahui sesuatu belum tentu membuat kita memahami diri sendiri.

Seseorang bisa mengetahui bahwa kemarahan merugikan.
Namun ketika marah, ia tetap meledak.

Seseorang bisa mengetahui bahwa keserakahan tidak pernah membuat manusia benar-benar puas.

Namun ia tetap mengejar sesuatu tanpa batas.

Seseorang bisa mengetahui pentingnya ketenangan.

Namun pikirannya sendiri terus berlari ke mana-mana.

Maka muncul pertanyaan:

Kalau sudah tahu, mengapa belum berubah?

Pertanyaan inilah yang membawa kita dari sekadar pengetahuan menuju kawruh.

Kawruh sejati tidak berhenti pada apa yang diketahui oleh cipta. Ia mengajak manusia melihat bagaimana pengetahuan itu hadir dalam kehidupan, bagaimana rasa bekerja, bagaimana karsa bergerak, dan bagaimana semuanya membentuk perilaku.

Kawruh Kasunyatan dan Kejujuran Melihat Diri.
Sementara itu, kawruh kasunyatan dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk memahami kenyataan kehidupan secara lebih jernih melalui proses pengolahan dan pemurnian diri.

Di sini manusia tidak cukup hanya bertanya:

“Apa yang benar?”

Tetapi juga perlu bertanya:

“Apakah aku mampu melihat kebenaran tanpa dikaburkan oleh keinginanku sendiri?”

Ini pertanyaan yang jauh lebih sulit.

Sebab manusia sering kali ingin melihat kenyataan sesuai dengan apa yang ingin dipercayainya.

Ketika sesuatu sesuai keinginan, kita menyebutnya benar.

Ketika bertentangan dengan keinginan, kita mudah menyebutnya salah.

Padahal kenyataan tidak selalu mengikuti keinginan manusia.

Karena itu, perjalanan menuju kawruh kasunyatan membutuhkan kejujuran batin.
Kita perlu berani melihat cipta sebagaimana adanya.

Mengakui rasa sebagaimana adanya.

Dan menyadari karsa sebagaimana adanya.

Bukan untuk menghakimi diri sendiri, tetapi untuk mengenal apa yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Jadi, Apakah Kita Tidak Bebas?
Tidak sesederhana itu.

Mengatakan manusia sama sekali tidak bebas juga merupakan kesimpulan yang terlalu cepat.

Manusia tetap mempunyai kemampuan untuk memilih dan bertindak.

Namun kebebasan dapat memiliki tingkat kedalaman yang berbeda.

Ada orang yang memilih berdasarkan dorongan sesaat.

Ada yang memilih berdasarkan kebiasaan.

Ada yang memilih berdasarkan pertimbangan.

Dan ada pula yang mulai mampu melihat dorongan dalam dirinya sebelum menentukan tindakan.

Semakin seseorang mengenali dirinya, semakin besar kemungkinan ia tidak sekadar menjadi pengikut dorongan cipta, rasa, dan karsa yang muncul secara spontan.

Di sinilah kebebasan menjadi lebih matang.

Bukan bebas melakukan apa saja, tetapi bebas dari ketidaksadaran yang membuat kita terus-menerus dikendalikan oleh dorongan yang tidak kita kenali.

Kebebasan Tidak Berarti Menuruti Semua Keinginan.
Ini bagian yang sering terbalik.

Sebagian orang menganggap kebebasan berarti:

“Aku boleh melakukan apa pun yang aku mau.”

Padahal kalau setiap keinginan harus selalu dituruti, manusia justru bisa menjadi tawanan keinginannya sendiri.

Jika marah harus dilampiaskan, kita diperbudak kemarahan.

Jika ingin dipuji harus selalu dipenuhi, kita diperbudak pengakuan.

Jika ingin memiliki sesuatu harus selalu dituruti, kita diperbudak keinginan.

Jika takut membuat kita selalu mundur, kita diperbudak ketakutan.

Lalu di mana kebebasannya?

Karena itu, pengendalian diri bukan lawan dari kebebasan.

Justru kemampuan untuk tidak selalu diperintah oleh dorongan sesaat dapat menjadi bagian penting dari kebebasan.

Mungkin Kita Baru Mulai Bebas Ketika Mulai Sadar.
Barangkali pertanyaan “Benarkah kita bebas?” memang tidak membutuhkan jawaban sederhana.

Kita bebas, tetapi kebebasan itu tidak selalu berarti bahwa setiap pilihan kita sudah lahir dari kesadaran yang jernih.

Kadang kita hanya memilih apa yang didorong oleh pikiran.

Kadang kita mengikuti rasa.

Kadang kita menjalankan kehendak yang bahkan tidak pernah kita periksa.

Maka perjalanan kawruh sejati dan kawruh kasunyatan bukan sekadar mencari jawaban tentang dunia di luar diri.

Perjalanan itu juga merupakan keberanian untuk melihat ke dalam.

Apa yang sedang kupikirkan?
Apa yang sedang kurasakan?
Apa yang sebenarnya kuinginkan?
Mengapa aku memilih ini?

Dan yang paling penting:
Apakah aku sedang memilih, atau hanya sedang mengikuti sesuatu yang tidak kusadari?

Mungkin di situlah letak pertanyaan yang sesungguhnya.

Kita tidak perlu buru-buru mengatakan bahwa manusia bebas atau tidak bebas.
Sebab bisa jadi, kebebasan yang paling dalam bukanlah ketika kita dapat melakukan apa saja yang kita inginkan, melainkan ketika kita mulai memahami apa yang menggerakkan diri kita sebelum kita bertindak.
- kawruh sejati -
Dan ketika cipta mulai jernih, rasa mulai tertata, serta karsa tidak lagi berjalan secara membuta, mungkin pada saat itulah manusia mulai menemukan bentuk kebebasan yang lebih sejati.

Benarkah kita bebas?

Jawabannya mungkin bukan sesuatu yang perlu kita terima begitu saja.
Barangkali, kita sendiri yang harus mengalaminya.

ajaran kawruh

FAQ

Apa hubungan kebebasan dengan kawruh sejati?
Kawruh sejati mengajak manusia memahami kehidupan dan dirinya secara lebih mendalam. Dalam konteks kebebasan, manusia tidak hanya melihat kemampuan memilih, tetapi juga memahami bagaimana cipta, rasa, dan karsa memengaruhi pilihan tersebut.

Apa yang dimaksud kawruh kasunyatan?
Kawruh kasunyatan merupakan upaya untuk memahami kenyataan kehidupan secara lebih jernih melalui pengenalan dan pengolahan diri. Ia tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berkaitan dengan bagaimana seseorang menjalani dan memahami kenyataan dalam kehidupannya.

Apakah manusia benar-benar bebas?
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan bertindak. Namun, tidak setiap pilihan otomatis lahir dari kesadaran yang jernih. Kebebasan dapat menjadi lebih matang ketika seseorang mampu mengenali dorongan batin yang memengaruhi pilihannya.

Apakah mengendalikan diri berarti kehilangan kebebasan?
Tidak. Pengendalian diri justru dapat membantu seseorang tidak menjadi tawanan kemarahan, ketakutan, keinginan, atau dorongan sesaat. Kebebasan bukan berarti selalu menuruti semua keinginan.

Apa kaitan cipta, rasa, dan karsa dengan kebebasan?
Cipta mempengaruhi cara seseorang memahami keadaan, rasa memberi warna terhadap pengalaman, sedangkan karsa mendorong kehendak menuju tindakan. Memahami ketiganya membantu manusia melihat proses yang berada di balik keputusan dan perilakunya.

Baca juga artikel tentang :
HAKEKAT KAWRUH SEJATI

identitas penulis

Komentar