KAWRUH SEJATI DAN PENGENDALIAN DIRI
Ketika marah, kita disuruh menahan marah.
Ketika ingin membalas, kita disuruh diam.
Ketika tergoda, kita disuruh menolak.
Ketika kecewa, kita disuruh bersabar.
Semua itu memang bagian dari pengendalian diri.
Namun, apakah Kawruh Sejati hanya mengajarkan manusia untuk menahan diri?
Ternyata tidak sesederhana itu.
Dalam pemahaman Kawruh Sejati, persoalan pengendalian diri tidak berhenti pada pertanyaan, “Mampukah aku menahan diri?”
Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah:
“Siapa yang sebenarnya harus dikendalikan?”
Sebab sebelum manusia mampu mengendalikan perilakunya, ia perlu memahami apa yang menggerakkan perilaku tersebut.
Di sinilah hubungan antara Kawruh Sejati dan pengendalian diri menjadi sangat penting.
Pengendalian Diri Bukan Sekadar Menahan Diri.
Seseorang bisa saja terlihat tenang, tetapi batinnya penuh kemarahan.
Ia tidak berkata kasar, tetapi pikirannya terus menyimpan kebencian.
Ia tidak membalas, tetapi diam-diam berharap orang lain mendapatkan balasan yang lebih buruk.
Secara lahiriah ia tampak mampu mengendalikan diri.
Tetapi apakah benar demikian?
Jika pengendalian diri hanya berarti menekan tindakan, maka persoalan sebenarnya belum selesai.
Dorongan itu masih ada.
Kemarahan masih ada.
Keinginan untuk membalas masih ada.
Keserakahan masih ada.
Kesombongan masih ada.
Hanya saja semuanya belum diwujudkan dalam tindakan.
Karena itu, Kawruh Sejati memandang pengendalian diri bukan sekadar kemampuan menghentikan tindakan, melainkan proses memahami dan menata sumber tindakan itu sendiri.
Di sinilah manusia mulai berhadapan dengan dirinya sendiri.
Cipta, Rasa, dan Karsa.
Dalam Kawruh Sejati, kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari cipta, rasa, dan karsa.
Cipta berkaitan dengan bagaimana manusia memahami, memikirkan, dan membentuk pandangan.
Rasa berkaitan dengan apa yang dialami dan dirasakan dalam batin.
Sedangkan karsa berkaitan dengan dorongan untuk melakukan sesuatu.
Ketiganya saling berhubungan.
Apa yang dipikirkan dapat memengaruhi rasa.
Apa yang dirasakan dapat memengaruhi kehendak.
Dan kehendak kemudian diwujudkan melalui tindakan.
Karena itu, ketika seseorang melakukan sesuatu, tindakan tersebut biasanya tidak muncul begitu saja.
Ada proses yang mendahuluinya.
Cipta membentuk pemahaman. Rasa memberi warna pada pengalaman. Karsa mendorong tindakan.
Jika ketiganya tidak tertata, manusia mudah kehilangan kendali.
Sebaliknya, ketika cipta, rasa, dan karsa semakin jernih, pengendalian diri tidak lagi terasa sebagai paksaan.
Mengapa Manusia Sulit Mengendalikan Diri?
Salah satu penyebabnya adalah manusia sering lebih mengenal dunia di luar dirinya daripada mengenal apa yang berlangsung di dalam dirinya.
Ia mengetahui bagaimana orang lain bersikap.
Ia mengetahui kesalahan orang lain.
Ia mengetahui apa yang tidak disukainya.
Tetapi ketika ditanya:
“Mengapa engkau marah?”
Jawabannya sering sederhana:
“Karena dia membuatku marah.”
Di sinilah persoalannya.
Manusia sering menyerahkan kendali dirinya kepada keadaan di luar dirinya.
Orang lain berkata sesuatu, ia marah.
Orang lain memuji, ia senang.
Orang lain merendahkan, ia tersinggung.
Orang lain menolak, ia kecewa.
Seolah-olah keadaan di luar dirinya memiliki kekuasaan penuh atas keadaan batinnya.
Padahal, Kawruh Sejati mengajak manusia melihat lebih dalam.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana cipta, rasa, dan karsa merespons apa yang terjadi.
Pengendalian Diri Dimulai dari Kesadaran.
Pengendalian diri yang sejati tidak dimulai dari larangan.
Ia dimulai dari kesadaran.
Ketika kemarahan muncul, jangan buru-buru bertanya:
“Bagaimana supaya aku tidak marah?”
Perhatikan terlebih dahulu:
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diriku?”
Ada rasa tersinggung.
Ada keinginan untuk diakui.
Ada harapan yang tidak terpenuhi.
Ada rasa takut kehilangan harga diri.
Ada keinginan agar orang lain mengikuti kehendak kita.
Ketika semua itu mulai terlihat, manusia tidak lagi sekadar menjadi korban dari emosinya.
Ia mulai melihat dirinya sendiri.
Inilah salah satu fungsi penting Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati bukan sekadar memberikan pengetahuan tentang kehidupan, tetapi menjadi jalan untuk mengenali gerak cipta, rasa, dan karsa dalam diri.
Semakin seseorang mampu melihat dirinya dengan jernih, semakin kecil kemungkinan dirinya dikuasai oleh dorongan sesaat.
Menahan Diri Berbeda dengan Memahami Diri.
Ada perbedaan besar antara menahan diri dan memahami diri.
Menahan diri berarti:
“Aku ingin melakukan itu, tetapi aku tidak boleh.”
Memahami diri berarti:
“Aku melihat keinginan itu muncul, memahami asalnya, dan tidak membiarkannya menguasai tindakanku.”
Yang pertama membutuhkan tenaga untuk terus menekan.
Yang kedua menghasilkan kejernihan.
Misalnya seseorang dihina.
Ia memiliki dua kemungkinan.
Pertama, ia menahan kemarahan karena takut akibatnya.
Kedua, ia memahami bahwa penghinaan tersebut telah menyentuh sesuatu dalam dirinya, lalu memilih tindakan yang tidak dikendalikan oleh kemarahan.
Keduanya mungkin menghasilkan tindakan yang sama: tidak membalas.
Tetapi keadaan batinnya berbeda.
Pada yang pertama, kemarahan mungkin masih membara.
Pada yang kedua, kemarahan mulai kehilangan kekuasaannya.
Di sinilah pengendalian diri berubah menjadi penguasaan diri.
Kawruh Kasunyatan dan Latihan Pengendalian Diri.
Jika Kawruh Sejati memberikan penerangan mengenai bagaimana manusia memahami dirinya, maka Kawruh Kasunyatan berkaitan dengan bagaimana manusia menjalani proses memahami dan menata kehidupan sebagaimana adanya.
Manusia tidak cukup mengetahui bahwa dirinya harus mengendalikan diri. Ia harus menjalankannya dalam kehidupan nyata.
Ketika menghadapi persoalan, ketika berhadapan dengan orang yang tidak disukai, ketika keinginannya tidak terpenuhi, ketika mendapatkan pujian, ketika mendapatkan penghinaan—di situlah kawruh diuji.
Sebab pengetahuan yang hanya berada di dalam pikiran belum menjadi laku. Kawruh menjadi berarti ketika memengaruhi cara manusia berpikir, merasa, dan bertindak.
Karena itu, pengendalian diri bukan latihan yang hanya dilakukan ketika keadaan sulit.
Ia merupakan bagian dari laku hidup. Setiap peristiwa menjadi kesempatan untuk melihat apakah cipta, rasa, dan karsa masih mudah dikuasai oleh keadaan.
Pengendalian Diri Bukan Berarti Menjadi Pasif.
Ada kesalahpahaman bahwa orang yang mampu mengendalikan diri berarti orang yang selalu diam, mengalah, dan menerima segala sesuatu.
Tidak demikian.
Pengendalian diri bukan berarti kehilangan keberanian. Bukan pula berarti membiarkan ketidakbenaran.
Manusia tetap dapat berkata tegas.
Tetap dapat menolak.
Tetap dapat mengambil keputusan.
Tetap dapat bertindak.
Yang berubah adalah sumber tindakannya.
Ia tidak bertindak semata-mata karena ledakan emosi.
Ia tidak bertindak hanya karena ingin membalas.
Ia tidak bertindak karena dorongan ego sesaat.
Tindakan lahir dari cipta yang lebih jernih, rasa yang lebih tertata, dan karsa yang lebih terkendali.
Dengan demikian, pengendalian diri justru dapat melahirkan ketegasan yang lebih matang.
Dari Mengendalikan Diri Menuju Mengenali Diri.
Pada akhirnya, pembahasan tentang Kawruh Sejati dan pengendalian diri membawa manusia kepada pertanyaan yang lebih mendasar.
Mengapa manusia harus mengendalikan dirinya?
Bukan semata-mata supaya terlihat baik di hadapan orang lain.
Bukan supaya dianggap bijaksana.
Bukan pula sekadar supaya tidak melakukan kesalahan.
Pengendalian diri diperlukan agar manusia tidak terus-menerus menjadi permainan dari dorongan yang belum dipahaminya sendiri.
Selama manusia tidak mengenali gerak batinnya, ia mudah dikendalikan oleh cipta, rasa, dan karsanya sendiri.
Ia merasa bebas, padahal sering hanya mengikuti dorongan.
Ia merasa mengambil keputusan, padahal keputusan itu mungkin lahir dari kemarahan.
Ia merasa memilih, padahal pilihannya dibentuk oleh ketakutan, keinginan, atau kepentingan dirinya sendiri.
Maka, semakin dalam seseorang memahami Kawruh Sejati, semakin jelas bahwa pengendalian diri bukan sekadar persoalan menahan keinginan.
Lebih jauh dari itu, pengendalian diri adalah proses menuju kebebasan dari penguasaan dorongan-dorongan yang belum disadari.
Penutup: Siapa yang Mengendalikan Siapa?
Pada akhirnya, pertanyaan tentang pengendalian diri kembali kepada diri manusia sendiri.
Ketika marah, siapa yang mengendalikan?
Ketika takut, siapa yang mengendalikan?
Ketika dipuji, siapa yang mengendalikan?
Ketika dihina, siapa yang mengendalikan?
Apakah kita yang mengendalikan cipta, rasa, dan karsa?
Ataukah justru cipta, rasa, dan karsa yang mengendalikan kita?
Di situlah Kawruh Sejati menjadi penting.
Sebab mengetahui tentang pengendalian diri belum tentu membuat seseorang mampu mengendalikan dirinya.
Yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi kesadaran dan laku.
Kawruh Sejati menerangi. Kawruh Kasunyatan menguji dalam kehidupan.
Dan pengendalian diri menjadi salah satu bentuk nyata dari kejernihan cipta, rasa, dan karsa.
Pada akhirnya, manusia tidak sedang belajar menjadi orang yang pandai menahan diri.
Ia sedang belajar menjadi manusia yang tidak mudah dikuasai oleh dirinya sendiri.
“Pengendalian diri bukan ketika kita mampu menahan tindakan, tetapi ketika cipta, rasa, dan karsa tidak lagi menyeret kita tanpa kesadaran.”
- kawruh sejati -
FAQ
1. Apa hubungan Kawruh Sejati dengan pengendalian diri?
Kawruh Sejati membantu manusia memahami gerak cipta, rasa, dan karsa sehingga seseorang tidak mudah dikuasai oleh dorongan batinnya sendiri.
2. Apakah pengendalian diri berarti menahan emosi?
Tidak hanya menahan emosi. Pengendalian diri lebih dalam daripada sekadar menekan perasaan. Ia mencakup kemampuan memahami sumber emosi dan menentukan tindakan dengan kesadaran.
3. Apa peran cipta, rasa, dan karsa dalam pengendalian diri?
Cipta membentuk pemahaman, rasa memberi warna pada pengalaman, dan karsa mendorong tindakan. Ketiganya perlu ditata agar tindakan tidak dikuasai dorongan sesaat.
4. Apakah orang yang diam berarti mampu mengendalikan diri?
Belum tentu. Seseorang dapat diam secara lahiriah tetapi masih dikuasai kemarahan, kebencian, atau keinginan membalas. Pengendalian diri menyangkut keadaan batin sekaligus tindakan.
5. Apa bedanya menahan diri dengan menguasai diri?
Menahan diri dapat berarti menghentikan tindakan yang muncul dari dorongan tertentu. Menguasai diri lebih jauh: seseorang memahami dorongan tersebut sehingga tidak mudah dikendalikan olehnya.
6. Mengapa pengendalian diri penting dalam Kawruh Kasunyatan?
Karena kawruh tidak cukup hanya diketahui. Ia perlu diwujudkan dalam laku kehidupan. Pengendalian diri menjadi salah satu bentuk nyata dari proses menata cipta, rasa, dan karsa.
Baca juga artikel tentang :


Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.