NAWA TATARANING PANGURIPAN JANMA
Nawa Tataraning Panguripan Janma: Sembilan Tataran Kehidupan Manusia dalam Uttamopadesa
Hakikat Nawa Tataraning Panguripan Janma
Dalam Uttamopadesa, manusia dipandang sebagai pribadi yang terus bertumbuh dalam menjalani kehidupan. Pertumbuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan usia, pengetahuan, atau pengalaman, tetapi juga menyangkut perkembangan kesadaran dalam memahami diri, kehidupan, sesama, alam, dan hakikat keberadaan.
Pemahaman tersebut dirangkum dalam Nawa Tataraning Panguripan Janma, yaitu sembilan tataran kehidupan manusia yang menggambarkan perkembangan dari keberadaan jasmani menuju kesadaran terhadap Kasunyatan Langgeng.
Nawa Tataraning Panguripan Janma bukanlah pembagian kasta atau tingkatan derajat manusia. Seseorang tidak menjadi lebih tinggi nilainya hanya karena dianggap berada pada tataran tertentu. Kesembilan tataran tersebut merupakan lapisan kehidupan yang saling berkaitan dan berkembang secara bertahap maupun bersamaan.
Pemahaman ini menjadi salah satu bagian dari kawruh sejati, karena manusia tidak hanya diajak mengetahui sesuatu secara teori, tetapi juga mengenali kehidupan melalui pengalaman dan laku nyata. Dari sinilah kawruh urip sejati memperoleh maknanya: pengetahuan tentang kehidupan yang diwujudkan dalam cara hidup.
Sementara itu, kawruh kasunyatan mengarahkan manusia untuk melihat kehidupan sebagaimana adanya, bukan semata-mata berdasarkan keinginan, prasangka, atau kepentingan pribadi.
Dengan demikian, Nawa Tataraning Panguripan Janma dapat dipahami sebagai peta untuk mengenali perkembangan kehidupan manusia secara utuh.
1. Tataran Jasmani — Raga
Tataran Jasmani merupakan dasar kehidupan manusia yang berkaitan dengan keberadaan raga. Tubuh menjadi sarana untuk bekerja, belajar, berkarya, berhubungan dengan sesama, dan menjalankan tanggung jawab kehidupan.
Raga bukan sekadar bagian luar dari manusia. Melalui tubuh, seluruh pengalaman kehidupan berlangsung. Karena itu, menjaga kesehatan, kebersihan, kecukupan istirahat, makanan yang baik, serta keseimbangan aktivitas merupakan bagian dari laku kehidupan.
Namun, manusia tidak berhenti pada keberadaan jasmani. Raga adalah sarana, bukan keseluruhan hakikat manusia.
Dalam kawruh urip sejati, pemeliharaan raga memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu menjaga agar tubuh mampu menjadi sarana bagi kehidupan yang baik. Raga yang terpelihara membantu manusia menjalankan kewajiban, berkarya, dan mengembangkan kesadaran.
2. Tataran Daya Panguripan
Di balik kehidupan jasmani terdapat daya yang memungkinkan manusia bergerak dan menjalani kehidupannya. Inilah yang disebut Daya Panguripan.
Daya panguripan berkaitan dengan tenaga, semangat, vitalitas, dan kemampuan manusia untuk menjalankan aktivitas kehidupan.
Keseimbangan daya panguripan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi tubuh. Cara berpikir, keadaan batin, kebiasaan hidup, lingkungan, dan cara manusia menghadapi persoalan juga ikut memengaruhinya.
Manusia yang hidup tanpa keseimbangan dapat mudah kehilangan tenaga kehidupan, bukan semata-mata karena tubuhnya lemah, tetapi karena kehidupannya tidak tertata.
Karena itu, menjaga daya panguripan berarti menjaga keseimbangan hidup secara menyeluruh.
3. Tataran Pangraos
Pangraos merupakan dimensi kehidupan yang berkaitan dengan pengalaman perasaan manusia. Kasih, kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kecewa, harapan, dan berbagai perasaan lainnya merupakan bagian dari kehidupan.
Dalam Uttamopadesa, pangraos tidak perlu dimatikan atau ditolak. Yang diperlukan adalah mengenali, memahami, dan memurnikannya.
Perasaan yang tidak dikenali dapat menguasai manusia. Sebaliknya, perasaan yang dipahami dapat menjadi sumber kelembutan dan kebijaksanaan.
Pangraos yang semakin bening
memungkinkan manusia mengembangkan kesabaran, kasih sayang, empati, pengertian, dan kemampuan untuk menerima keadaan tanpa kehilangan keteguhan diri.
Karena itu, kematangan manusia tidak dapat diukur hanya dari banyaknya pengetahuan. Cara seseorang memperlakukan sesama juga menunjukkan sejauh mana pangraosnya berkembang.
4. Tataran Cipta
Cipta merupakan kemampuan manusia untuk berpikir, memahami, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan.
Melalui cipta, manusia dapat mempelajari pengalaman, mengenali sebab dan akibat, membedakan sesuatu secara lebih jernih, serta mempertimbangkan tindakan sebelum melakukannya.
Cipta yang berkembang bukan berarti manusia harus mengetahui segala sesuatu. Justru kesadaran terhadap keterbatasan pengetahuan membuat manusia lebih terbuka untuk belajar.
Dalam kawruh sejati, pengetahuan tidak berhenti pada banyaknya informasi. Pengetahuan menjadi berarti ketika mampu mengubah cara manusia melihat kehidupan.
Karena itu, cipta perlu terus diasah melalui pembelajaran, pengalaman, pengamatan, dan mawas diri.
5. Tataran Jati Dhiri
Setelah mengenali raga, daya kehidupan, perasaan, dan pikirannya, manusia mulai memahami dirinya secara lebih mendalam.
Inilah Tataran Jati Dhiri.
Jati dhiri bukan sekadar nama, pekerjaan, kedudukan, keluarga, kekayaan, atau identitas sosial. Jati dhiri berkaitan dengan kesadaran mengenai siapa dirinya, apa tanggung jawabnya, bagaimana ia menjalani kehidupan, dan nilai apa yang diwujudkan melalui tindakannya.
Kesadaran terhadap jati dhiri tidak dimaksudkan untuk melahirkan keangkuhan. Sebaliknya, semakin seseorang memahami dirinya, semakin ia menyadari tanggung jawabnya terhadap kehidupan.
Manusia tidak hidup sendirian. Setiap tindakan memiliki akibat terhadap dirinya sendiri, sesama, dan lingkungan.
Karena itu, mengenali jati dhiri merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju kawruh urip sejati.
6. Tataran Kawicaksanan Batin
Kawicaksanan Batin lahir ketika pengalaman kehidupan tidak sekadar menjadi kenangan, tetapi berubah menjadi pemahaman.
Orang yang mengalami banyak hal belum tentu menjadi bijaksana. Kebijaksanaan tumbuh ketika pengalaman mampu diolah menjadi pengertian.
Pada tataran ini, manusia mulai melihat persoalan kehidupan secara lebih luas. Ia tidak mudah menghakimi, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, serta mampu melihat suatu persoalan dari berbagai sisi.
Kawicaksanan batin bukan berarti meninggalkan akal. Sebaliknya, akal, pengalaman, kejernihan batin, dan kedewasaan diri berjalan bersama.
Semakin matang kebijaksanaan batin, semakin sedikit manusia dikuasai oleh kepentingan sesaat. Tindakannya mulai diarahkan oleh pertimbangan yang lebih luas dan bermanfaat.
7. Tataran Kaweningan
Kaweningan menggambarkan keadaan batin yang semakin jernih dan tenang.
Kaweningan bukan berarti manusia tidak lagi mengalami persoalan, kesedihan, atau perasaan yang tidak menyenangkan. Kehidupan tetap menghadirkan berbagai keadaan. Perbedaannya terletak pada cara manusia menghadapinya.
Manusia yang memiliki kaweningan tidak mudah terseret oleh gejolak kehidupan. Ia mampu melihat persoalan tanpa memperbesar persoalan tersebut dengan prasangka dan kepentingan dirinya sendiri.
Dalam keadaan yang semakin bening, manusia dapat melihat sesuatu secara lebih sederhana dan apa adanya.
Kaweningan menjadi salah satu jalan penting dalam kawruh kasunyatan, karena untuk memahami kenyataan kehidupan, manusia perlu terlebih dahulu belajar melihat dengan jernih.
8. Tataran Kasalarasan
Kasalarasan merupakan kesadaran bahwa manusia bukan bagian yang terpisah dari kehidupan.
Manusia hidup bersama manusia lainnya. Ia bergantung pada alam, menggunakan berbagai sumber kehidupan, dan menerima manfaat dari tatanan kehidupan yang jauh lebih luas daripada dirinya sendiri.
Dari kesadaran tersebut lahirlah sikap menghormati sesama, menjaga lingkungan, menghargai perbedaan, dan tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran bagi segala sesuatu.
Kasalarasan bukan berarti semua orang harus memiliki pemikiran dan kehidupan yang sama. Kasalarasan justru memungkinkan keberagaman tetap berada dalam hubungan yang harmonis.
Manusia yang memahami kasalarasan akan lebih berhati-hati dalam bertindak karena menyadari bahwa kehidupan saling berhubungan.
Dengan demikian, kawruh sejati tidak hanya mengubah hubungan manusia dengan dirinya sendiri, tetapi juga mengubah hubungannya dengan seluruh kehidupan.
9. Tataran Kasunyatan Langgeng
Kasunyatan Langgeng merupakan tataran pemahaman yang paling dalam mengenai hakikat kehidupan.
Pada tataran ini, manusia semakin menyadari bahwa kehidupan bukan milik pribadi. Manusia hadir dalam sebuah tatanan kehidupan yang lebih luas, berasal dari Sang Sumber Panguripan dan berada dalam hukum kehidupan yang melampaui kepentingan dirinya.
Kesadaran tersebut tidak cukup hanya dipahami melalui kata-kata. Ia perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia mulai melepaskan kelekatan terhadap kepentingan diri, tidak mudah dikuasai pamrih, serta semakin mampu menjalani kehidupan dengan ketenteraman dan kebijaksanaan.
Kasunyatan Langgeng bukan sekadar tujuan untuk dibicarakan atau konsep untuk dipercayai. Ia merupakan pemahaman yang semakin nyata melalui laku kehidupan.
Karena itu, kawruh kasunyatan pada akhirnya harus menjadi pengalaman hidup. Apa yang diketahui harus tercermin dalam perilaku.
Di sinilah hubungan antara kawruh sejati, kawruh urip sejati, kawruh kasunyatan, dan Uttamopadesa menjadi jelas: pengetahuan tentang kehidupan memperoleh nilai ketika diwujudkan dalam laku yang benar.
Kesatuan Nawa Tataraning Panguripan Janma
Kesembilan tataran tersebut tidak berdiri sendiri. Raga membutuhkan daya panguripan. Daya kehidupan berhubungan dengan keadaan pangraos. Pangraos memengaruhi kejernihan cipta. Dari perkembangan tersebut manusia semakin mengenali jati dirinya, mengembangkan kebijaksanaan batin, mencapai kaweningan, memahami kasalarasan, dan semakin dekat pada pemahaman terhadap Kasunyatan Langgeng.
Namun, hubungan tersebut tidak harus dipahami sebagai tangga yang kaku.
Seseorang dapat memiliki pengetahuan tinggi tetapi belum mampu mengendalikan dirinya. Seseorang dapat memiliki pengalaman luas tetapi belum memiliki kebijaksanaan. Sebaliknya, seseorang yang sederhana dapat memiliki kejernihan dan ketenteraman yang mendalam.
Karena itu, Nawa Tataraning Panguripan Janma lebih tepat dipahami sebagai peta perkembangan kehidupan, bukan ukuran untuk menilai tinggi-rendahnya seseorang.
Inti ajaran ini bukan mengejar sebuah gelar atau mencapai status tertentu, melainkan memperbaiki kualitas kehidupan dari hari ke hari.
Manusia belajar merawat raganya, menata kehidupannya, memahami perasaannya, menggunakan pikirannya dengan jernih, mengenali jati dirinya, mengembangkan kebijaksanaan, mencapai kaweningan, hidup selaras dengan sesama dan alam, serta semakin memahami hakikat kehidupan.
Inilah salah satu makna penting kawruh urip sejati.
Nawa Tataraning Panguripan Janma sebagai Jalan Kehidupan
Dalam pandangan Uttamopadesa, kehidupan bukan sekadar perjalanan dari lahir menuju tua dan kemudian berakhir. Kehidupan juga merupakan kesempatan untuk mengembangkan kualitas diri.
Setiap pengalaman dapat menjadi bahan pembelajaran. Setiap kesalahan dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Setiap hubungan dengan sesama dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kasih dan kebijaksanaan.
Karena itu, kawruh sejati bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Kawruh sejati menjadi hidup ketika manusia mampu menggunakannya untuk memperbaiki perilaku.
Begitu pula kawruh kasunyatan tidak berhenti pada pembahasan tentang hakikat kehidupan. Kasunyatan perlu dikenali melalui kehidupan yang nyata.
Pada akhirnya, Nawa Tataraning Panguripan Janma mengajak manusia untuk menjalani kehidupan secara utuh: menjaga raga, menata daya kehidupan, memurnikan pangraos, menjernihkan cipta, mengenali jati dhiri, menumbuhkan kebijaksanaan, mencapai kaweningan, membangun kasalarasan, dan semakin memahami Kasunyatan Langgeng.
Dengan demikian, kehidupan tidak hanya dijalani, tetapi juga dipahami. Dan ketika kehidupan mulai dipahami, manusia tidak lagi sekadar mencari jawaban tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Ia mulai menemukan jawabannya melalui cara ia menjalani kehidupan itu sendiri.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa yang dimaksud Nawa Tataraning Panguripan Janma?
Nawa Tataraning Panguripan Janma adalah sembilan tataran kehidupan manusia dalam pemikiran Uttamopadesa yang menggambarkan perkembangan manusia dari kehidupan jasmani menuju kesadaran terhadap Kasunyatan Langgeng.
Apakah Nawa Tataraning Panguripan Janma merupakan tingkatan derajat manusia?
Tidak. Kesembilan tataran tersebut bukan ukuran tinggi-rendahnya derajat manusia, melainkan gambaran mengenai berbagai lapisan perkembangan kehidupan dan kesadaran manusia.
Apa hubungan Nawa Tataraning Panguripan Janma dengan kawruh sejati?
Kawruh sejati merupakan pengetahuan yang tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Nawa Tataraning Panguripan Janma membantu manusia memahami perkembangan dirinya agar pengetahuan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Apa yang dimaksud kawruh urip sejati?
Kawruh urip sejati dapat dipahami sebagai pengetahuan mengenai kehidupan yang tidak hanya diketahui secara intelektual, tetapi dijalani dan dibuktikan melalui perilaku sehari-hari.
Apa hubungan kawruh kasunyatan dengan Uttamopadesa?
Dalam kerangka Uttamopadesa, kawruh kasunyatan mengarahkan manusia untuk mengenali kenyataan kehidupan secara jernih dan menjadikannya dasar dalam menjalani kehidupan yang selaras.
Apakah Kasunyatan Langgeng dapat dicapai hanya melalui pengetahuan?
Tidak. Pengetahuan merupakan bagian dari perjalanan. Pemahaman yang mendalam perlu diwujudkan melalui laku kehidupan, kejernihan batin, kebijaksanaan, dan keselarasan dalam menjalani kehidupan.
Mengapa kesembilan tataran disebut satu kesatuan?
Karena setiap tataran saling berkaitan. Perkembangan manusia tidak hanya terjadi pada satu sisi. Kehidupan jasmani, daya kehidupan, pangraos, cipta, jati dhiri, kebijaksanaan, kaweningan, kasalarasan, dan pemahaman terhadap kasunyatan berkembang sebagai satu keutuhan.
Baca juga artikel tentang :
HAKEKAT KAWRUH SEJATI
HAKEKAT KAWRUH SEJATI



Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.