KAWRUH SEJATI HASIL PIKIRAN?
Ketika seseorang berpikir sangat dalam, membaca banyak buku, mempelajari filsafat, kemudian menemukan sebuah kesimpulan yang menurutnya benar, apakah kesimpulan itu dapat disebut Kawruh Sejati?
Atau jangan-jangan ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hasil pemikiran manusia?
Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi pintu untuk memahami salah satu persoalan penting dalam Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan menurut pemahaman Uttamopadesa.
Pikiran Mampu Menemukan Banyak Hal.
Manusia memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa.
Dengan pikiran, manusia dapat mengamati kehidupan, membandingkan pengalaman, mengingat masa lalu, memperkirakan masa depan, menyusun teori, menemukan ilmu pengetahuan, bahkan mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri.
Pikiran merupakan alat yang sangat penting.
Namun, kemampuan berpikir memiliki batas.
Pikiran bekerja berdasarkan sesuatu yang pernah diterima, dialami, diamati, dipelajari, atau dibayangkan. Dari berbagai bahan tersebut, pikiran menyusun hubungan dan menghasilkan kesimpulan.
Karena itu, hasil pikiran dapat benar, tetapi juga dapat keliru.
Seseorang dapat berpikir dengan sangat cerdas tetapi tetap menghasilkan kesimpulan yang salah.
Bahkan dua orang yang sama-sama cerdas dapat mempunyai kesimpulan yang berbeda terhadap persoalan yang sama.
Di sinilah muncul pertanyaan penting:
Jika pikiran masih dapat keliru, apakah Kawruh Sejati merupakan hasil dari pikiran?
Kawruh Sejati Bukan Produk Pikiran.
Dalam kerangka pemikiran Uttamopadesa, Kawruh Sejati bukan hasil ciptaan pikiran manusia.
Pikiran tidak menciptakan Kawruh Sejati.
Pikiran hanya berusaha mengenali, memahami, dan menjelaskan sesuatu yang lebih dahulu ada.
Perbedaannya sangat mendasar.
Jika seseorang berpikir:
“Menurut pikiranku, inilah kebenaran.”
Maka yang dihasilkan adalah kesimpulan pikiran.
Tetapi ketika manusia mampu menyadari sesuatu yang melampaui kepentingan, prasangka, keinginan, dan keterbatasan dirinya, maka prosesnya sudah berbeda.
Kawruh Sejati bukan sesuatu yang dibuat agar sesuai dengan keinginan manusia.
Justru manusia yang perlu membenahi dirinya agar mampu memahami apa yang benar.
Dengan kata lain:
Kawruh Sejati tidak mengikuti pikiran manusia. Pikiran manusialah yang perlu ditata agar mampu menerima terang Kawruh Sejati.
Lalu Dari Mana Kawruh Sejati Berasal?
Dalam pemahaman Uttamopadesa, Kawruh Sejati berhubungan dengan Prabhawaning Panguripan, sumber daya kehidupan yang menjadi asal keberadaan.
Karena itu, Kawruh Sejati tidak diposisikan sebagai hasil kecerdasan intelektual seseorang.
Manusia tidak menciptakan sumber kebenaran.
Manusia hanya berusaha mengenalinya.
Perumpamaan sederhananya adalah cahaya.
Mata tidak menciptakan cahaya.
Mata hanya menerima cahaya sehingga sesuatu dapat terlihat.
Demikian pula pikiran.
Pikiran bukan pencipta Kawruh Sejati. Pikiran merupakan salah satu sarana manusia untuk memahami dan menerjemahkan apa yang disadarinya.
Namun, sarana tersebut harus berada dalam keadaan yang cukup bening.
Sebab cermin yang kotor tidak mampu memantulkan bayangan dengan jelas.
Cipta yang Keruh Menghasilkan Pemahaman yang Keruh.
Di sinilah konsep cipta, rasa, dan karsa menjadi penting.
Cipta adalah daya pikir dan cara manusia memandang kehidupan. Ketika cipta dipenuhi kepentingan pribadi, prasangka, ketakutan, keserakahan, kemarahan, dan keinginan untuk membenarkan diri sendiri, maka apa yang dipahami juga mudah terpengaruh oleh keadaan tersebut.
Seseorang mungkin merasa telah menemukan kebenaran. Padahal yang ditemukan hanyalah sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
Karena itu, dalam jalan Kawruh Kasunyatan, persoalannya bukan hanya bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan.
Persoalannya adalah:
Siapa yang sedang menggunakan pengetahuan tersebut?
Apakah manusia yang sedang mencari kebenaran?
Ataukah ego yang sedang mencari pembenaran?
Pertanyaan ini sangat penting.
Sebab manusia dapat menggunakan pengetahuan untuk mencari kebenaran, tetapi dapat pula menggunakan pengetahuan untuk mempertahankan kesalahannya.
Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan memiliki hubungan yang erat, tetapi bukan sesuatu yang sama.
Secara sederhana, Kawruh Sejati menerangi, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan proses manusia memahami dan menjalani kebenaran dalam kehidupan.
Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan informasi.
Sementara Kawruh Kasunyatan bukan sekadar teori filsafat.
Keduanya seharusnya menghasilkan perubahan dalam kehidupan manusia.
Jika seseorang mengaku mengetahui kebenaran tetapi cipta, rasa, dan karsanya tetap dikuasai oleh keserakahan, kebencian, kesombongan, dan keinginan menyakiti sesama, maka pengetahuannya belum menjadi pemahaman yang hidup.
Kebenaran seharusnya terlihat dalam laku.
Karena itu, ukuran pemahaman bukan hanya seberapa banyak seseorang dapat berbicara tentang kebenaran, tetapi seberapa jauh kebenaran tersebut mengubah dirinya.
Pikiran Bukan Musuh.
Lalu apakah pikiran harus ditinggalkan?
Tidak.
Pikiran bukan musuh.
Justru pikiran sangat diperlukan.
Tanpa pikiran, manusia akan kesulitan memahami pengalaman, menyusun pengetahuan, mempertimbangkan tindakan, dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Yang perlu diwaspadai bukan keberadaan pikiran, melainkan ketika manusia menganggap semua hasil pikirannya sebagai kebenaran mutlak.
Pikiran harus menjadi alat, bukan penguasa.
Ia perlu dibimbing oleh kejernihan cipta, keseimbangan rasa, dan ketulusan karsa.
Ketika pikiran berada dalam keadaan demikian, ia dapat menjadi sarana yang sangat kuat untuk memahami kehidupan.
Seseorang mungkin merasa telah menemukan kebenaran. Padahal yang ditemukan hanyalah sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
- kawruh sejati -
Mengapa Manusia Sering Mengira Hasil Pikirannya sebagai Kebenaran?
Karena manusia memiliki kecenderungan untuk mempercayai apa yang sesuai dengan dirinya.
Ketika sebuah gagasan sesuai dengan keinginan, pengalaman, kelompok, atau keyakinannya, manusia lebih mudah menerimanya.
Sebaliknya, ketika sebuah kenyataan bertentangan dengan kepentingannya, manusia sering menolaknya meskipun kenyataan tersebut jelas.
Inilah salah satu bentuk keruhnya cipta.
Maka pencarian Kawruh Sejati bukan sekadar kegiatan menambah informasi. Ia merupakan perjalanan membersihkan cara manusia melihat.
Semakin bening cipta, semakin mampu seseorang membedakan antara kebenaran dan pembenaran.
Kawruh Sejati Harus Mengubah Laku.
Pada akhirnya, pertanyaan “Kawruh Sejati hasil pikiran?” membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam:
Apa tanda bahwa seseorang benar-benar memahami Kawruh Sejati?
Jawabannya tidak cukup ditemukan dalam banyaknya kata-kata.
Kawruh Sejati seharusnya mempengaruhi kehidupan.
Cipta menjadi lebih jernih.
Rasa menjadi lebih halus.
Karsa menjadi lebih tertata.
Perilaku menjadi lebih selaras.
Manusia semakin mampu mengendalikan dirinya dan semakin berkurang dorongan untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
Inilah salah satu titik penting Kawruh Kasunyatan.
Kebenaran bukan hanya sesuatu yang dipikirkan.
Kebenaran harus dihayati dan diwujudkan dalam laku.
Jadi, Kawruh Sejati Hasil Pikiran?
Jawabannya: bukan.
Pikiran dapat menghasilkan pengetahuan, teori, pendapat, konsep, dan kesimpulan.
Namun, Kawruh Sejati tidak lahir hanya dari aktivitas berpikir.
Pikiran berfungsi sebagai sarana untuk memahami dan menjelaskan.
Manusia tidak menciptakan Kawruh Sejati. Manusia hanya berusaha mengenalinya.
Karena itu, semakin seseorang merasa dirinya paling tahu, semakin penting baginya untuk memeriksa kembali kejernihan cipta.
Sebab mungkin saja yang dianggap sebagai kebenaran sejati sebenarnya hanya hasil pikiran yang sedang mencari pembenaran.
Sebaliknya, ketika cipta mulai bening, rasa semakin halus, dan karsa semakin selaras, manusia memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami kenyataan dengan lebih jernih.
Ia adalah pertanyaan tentang siapa diri kita ketika mencari kebenaran.
Dan mungkin, justru di situlah perjalanan menuju Kawruh Sejati benar-benar dimulai.
Pikiran bukan pencipta Kawruh Sejati. Pikiran merupakan salah satu sarana manusia untuk memahami dan menerjemahkan apa yang disadarinya.
- kawruh sejati -
FAQ
Apa yang dimaksud Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati adalah pemahaman tentang kebenaran yang tidak semata-mata merupakan hasil olah pikiran manusia. Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati berkaitan dengan Prabhawaning Panguripan dan menjadi penerang bagi manusia dalam memahami kehidupan.
Apakah pikiran tidak penting dalam memahami Kawruh Sejati?
Pikiran tetap penting. Pikiran menjadi sarana untuk mengamati, memahami, mengolah, dan menjelaskan pengalaman. Namun, pikiran bukan pencipta Kawruh Sejati.
Apa hubungan Kawruh Sejati dengan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Sejati menjadi penerang, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan proses manusia memahami kenyataan dan menjalankannya dalam kehidupan. Karena itu, keduanya saling berhubungan.
Mengapa cipta harus dibersihkan?
Cipta yang dipenuhi prasangka, kepentingan, ketakutan, dan keinginan membenarkan diri dapat membuat manusia sulit membedakan kebenaran dari pembenaran. Karena itu, kejernihan cipta menjadi bagian penting dalam perjalanan memahami Kawruh Kasunyatan.
Apa tanda seseorang mulai memahami Kawruh Sejati?
Salah satu tandanya adalah perubahan laku. Cipta menjadi lebih jernih, rasa semakin halus, karsa semakin tertata, dan perilaku semakin mampu mencerminkan kesadaran terhadap kebenaran.
Apakah Kawruh Sejati sama dengan pengetahuan?
Tidak. Pengetahuan dapat diperoleh melalui belajar, membaca, mengingat, mengamati, dan berpikir. Kawruh Sejati memiliki makna yang lebih mendalam karena berkaitan dengan pemahaman terhadap kebenaran dan bagaimana kebenaran tersebut dihayati dalam kehidupan.
Baca juga artikel tentang :
HAKEKAT KAWRUH SEJATI
HAKEKAT KAWRUH SEJATI


Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.