SEJATINING URIP DUDU KARSA

Wus rinonce ing jroning sukma,
tan kasat mata,
sinamun ing lakuning janmi,
sira ngira minangka karsanira,
wanci surya wus surup,
wengi tan kendhat lampahira.
Sejatining Urip Dudu Karsa
— KAWRUH SEJATI —
Ada sesuatu yang senantiasa menyertai perjalanan manusia, tetapi tidak selalu disadari keberadaannya. Ia tidak kasatmata dan tidak mudah ditunjuk, namun kehadirannya seolah menyatu dengan seluruh perjalanan hidup. Manusia menggunakannya dalam menjalani kehidupan, membuat pilihan, menentukan arah, dan melakukan berbagai hal yang dianggap sebagai kehendaknya sendiri.
Karena begitu dekat dengan pengalaman sehari-hari, manusia kemudian mudah menganggap bahwa apa yang menggerakkan langkahnya merupakan sesuatu yang sepenuhnya berasal dari dirinya. Di sinilah sebuah pertanyaan mulai muncul: benarkah yang selama ini disebut sebagai karsa merupakan sejatinya kehidupan?

Karsa dalam Kehidupan Manusia.
Karsa pada dasarnya berkaitan dengan kehendak manusia untuk melakukan sesuatu. Ketika seseorang menginginkan sesuatu kemudian berusaha mewujudkannya, di dalam proses tersebut terdapat karsa. Ketika seseorang memilih untuk bekerja, belajar, membantu orang lain, meninggalkan kebiasaan buruk, atau mengambil keputusan tertentu dalam hidupnya, semuanya berlangsung melalui daya kehendak yang mendorongnya untuk bergerak. Karena itu, karsa mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa karsa, berbagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki seseorang mungkin tidak akan pernah diwujudkan menjadi laku.

Namun, pentingnya karsa tidak serta-merta menjadikan karsa sebagai hakikat kehidupan. Sesuatu yang digunakan untuk menjalani kehidupan belum tentu merupakan hakikat dari kehidupan itu sendiri. Kaki digunakan untuk berjalan, tetapi kaki bukan perjalanan. Pikiran digunakan untuk memahami, tetapi pikiran bukan keseluruhan kehidupan. Demikian pula karsa digunakan manusia untuk menentukan dan menjalani berbagai hal, tetapi hal itu belum membuktikan bahwa karsa adalah Sejatining Urip.

sejatining urip

Ketika Karsa Dianggap Sebagai Diri
Manusia mempunyai kecenderungan untuk menganggap segala sesuatu yang berlangsung di dalam dirinya sebagai bagian dari “aku”. Ketika berpikir, ia mengatakan “pikiranku”; ketika merasa, ia mengatakan “rasaku”; ketika menginginkan sesuatu, ia mengatakan “keinginanku”; dan ketika melakukan sesuatu, ia mengatakan “aku yang melakukannya”. Pernyataan-pernyataan tersebut memang wajar dalam kehidupan sehari-hari, tetapi jika direnungkan lebih dalam, semuanya menyimpan sebuah anggapan yang belum tentu benar, yaitu bahwa apa yang dialami dan dilakukan manusia otomatis merupakan hakikat dirinya.

Hal yang sama terjadi pada karsa. Ketika muncul suatu kehendak kemudian diwujudkan menjadi tindakan, manusia merasa bahwa kehendak tersebut sepenuhnya berasal dari dirinya. Ia merasa sebagai pemilik sekaligus pengendali kehendaknya. Padahal karsa dapat berubah seiring pengalaman, keadaan, pengetahuan, lingkungan, dan perjalanan hidup seseorang. Apa yang sangat dikehendaki hari ini belum tentu masih dikehendaki beberapa tahun kemudian. Apa yang dahulu dianggap penting dapat menjadi tidak berarti setelah seseorang mengalami perubahan dalam kehidupannya. Jika karsa senantiasa berubah, maka patut direnungkan apakah sesuatu yang berubah-ubah itu dapat disebut sebagai Sejatining Urip.

“Sira Ngira Minangka Karsanira”.
Larik “sira ngira minangka karsanira” menjadi bagian yang menarik karena tidak mengatakan secara langsung bahwa apa yang dianggap sebagai karsa itu salah. Kata “ngira” justru memberikan ruang untuk merenung. Engkau mengira bahwa itu adalah karsamu. Dengan demikian, yang dipertanyakan bukan keberadaan karsa, melainkan anggapan manusia terhadap karsa itu sendiri.

Manusia memang mempunyai kehendak dan melakukan berbagai pilihan. Akan tetapi, apakah seluruh kehendak itu muncul begitu saja tanpa dipengaruhi apa pun? Keinginan seseorang dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan, lingkungan, kebiasaan, pengetahuan, keadaan batin, bahkan berbagai peristiwa yang pernah dialaminya. Semua itu membentuk cara seseorang melihat kehidupan dan kemudian memengaruhi keputusan yang diambilnya. Maka ketika seseorang mengatakan, “Aku memilih ini karena memang itu kehendakku,” masih terdapat ruang untuk bertanya: dari mana kehendak tersebut muncul?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyangkal kemampuan manusia dalam menentukan pilihan. Sebaliknya, pertanyaan itu mengajak manusia untuk melihat karsanya dengan lebih jernih. Jangan sampai manusia hanya mengikuti apa yang muncul sebagai kehendak, tetapi tidak pernah memahami bagaimana kehendak itu terbentuk dan apa yang sesungguhnya menggerakkannya.

Karsa Bukan Sesuatu yang Harus Ditolak.
Memahami bahwa Sejatining Urip dudu Karsa bukan berarti karsa harus dihilangkan. Karsa tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia karena melalui karsa seseorang dapat mewujudkan pemahaman menjadi tindakan. Seseorang yang mengetahui bahwa dirinya perlu memperbaiki perilaku, misalnya, tetap membutuhkan kehendak untuk melakukan perubahan tersebut. Pengetahuan tanpa laku tidak akan menghasilkan perubahan yang nyata dalam kehidupan.

Karena itu, persoalannya bukan bagaimana menghapus karsa, melainkan bagaimana manusia memahami karsa. Karsa yang tidak dikenali dapat membawa seseorang mengikuti dorongan-dorongan yang muncul begitu saja, sedangkan karsa yang dipahami dapat menjadi daya untuk menjalani kehidupan secara lebih sadar. Dalam konteks ini, pengenalan terhadap karsa merupakan bagian dari perjalanan manusia untuk mengenali dirinya sendiri.

Kawruh Sejati tidak mengajak manusia memusuhi cipta, rasa, ataupun karsa. Ketiganya merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia dan mempunyai fungsi masing-masing. Yang perlu dihindari adalah menyamakan salah satu dari ketiganya dengan hakikat kehidupan itu sendiri.

Cipta, Rasa, dan Karsa.
Manusia berpikir melalui cipta, mengalami kehidupan melalui rasa, dan menjalani kehendaknya melalui karsa. Ketiga unsur tersebut membentuk sebagian besar pengalaman manusia. Karena itu, manusia sering kali mengenali dirinya melalui ketiganya. Ia merasa bahwa dirinya adalah apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya, atau apa yang dikehendakinya.

Namun, apabila diperhatikan dengan saksama, ketiganya terus mengalami perubahan. Pikiran berubah ketika pengetahuan bertambah. Rasa berubah ketika keadaan berubah. Karsa berubah ketika tujuan dan pengalaman berubah. Sesuatu yang kemarin dianggap benar dapat dipandang berbeda hari ini. Keinginan yang dahulu begitu kuat dapat kehilangan daya tariknya setelah seseorang mengalami perjalanan hidup tertentu.

Jika demikian, maka pencarian tentang Sejatining Urip tidak seharusnya berhenti pada cipta, rasa, dan karsa. Ketiganya dapat menjadi jalan untuk mengenali kehidupan, tetapi bukan berarti ketiganya merupakan hakikat kehidupan itu sendiri.

Yang Sudah Ada di Dalam Diri.
Syair pembuka mengatakan “Wus rinonce ing jroning sukma”, sesuatu yang telah terjalin di dalam sukma. Ia tidak digambarkan sebagai sesuatu yang harus dicari di tempat yang jauh. Ia juga tidak disebut secara terang agar pembaca segera memperoleh sebuah jawaban. Justru kesamaran itu memberikan ruang bagi manusia untuk mengarahkan perhatian ke dalam dirinya sendiri.

Manusia selama ini sibuk menjalani kehidupan. Ia bekerja, membangun hubungan, mengejar cita-cita, menghadapi persoalan, membuat keputusan, dan terus bergerak dari satu pengalaman menuju pengalaman berikutnya. Dalam semua itu, cipta, rasa, dan karsa bekerja secara bersamaan. Namun, manusia sering lebih memperhatikan hasil dari semua proses tersebut daripada menyadari apa yang membuat seluruh pengalaman kehidupan itu dapat berlangsung.

Di sinilah gagasan tentang Jatining Panguripan menjadi penting. Yang sudah ada dalam diri tidak serta-merta berarti cipta, rasa, atau karsa. Justru pencarian yang lebih dalam mengarah kepada sesuatu yang menjadi dasar berlangsungnya kehidupan. Ia bukan sekadar pengalaman yang datang dan pergi, melainkan sesuatu yang menjadi dasar dari pengalaman itu sendiri.

Pengalaman Hidup Bukan Jatining Panguripan.
Setiap manusia memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Ada keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan, pertemuan dan perpisahan, harapan yang terwujud maupun keinginan yang tidak tercapai. Semua pengalaman tersebut membentuk perjalanan seseorang dan memberikan pengaruh terhadap cara ia berpikir, merasa, serta menentukan langkah berikutnya.

Karsa bekerja di tengah seluruh pengalaman tersebut. Manusia menghendaki sesuatu, kemudian berusaha mencapainya. Ketika keadaan berubah, karsanya pun dapat berubah. Karena itu, karsa merupakan bagian dari perjalanan hidup, bukan sesuatu yang harus dipisahkan dari kehidupan. Namun, sesuatu yang menjadi bagian dari perjalanan tidak otomatis menjadi hakikat dari kehidupan.

Seperti perjalanan yang berbeda dengan jalan yang dilalui, pengalaman hidup juga berbeda dengan hakikat kehidupan. Manusia mengalami kehidupan melalui berbagai bentuk pengalaman, tetapi pengalaman itu sendiri bukan berarti merupakan Jatining Panguripan.

Mengapa Sejatining Urip Sulit Disadari?
Salah satu sebabnya adalah karena manusia terlalu dekat dengan kehidupannya sendiri. Ia tidak pernah berada di luar kehidupannya untuk mengamatinya secara keseluruhan. Setiap saat ia berpikir, merasa, menghendaki, dan bertindak. Semua berlangsung begitu alami sehingga jarang sekali muncul pertanyaan tentang apa yang mendasari semua itu.

Sesuatu yang selalu hadir justru sering menjadi sesuatu yang paling sulit disadari. Manusia cenderung mencari sesuatu yang luar biasa, sementara yang paling mendasar dalam kehidupannya mungkin justru telah hadir sejak awal. Karena itu, persoalan dalam mengenali Jatining Panguripan bukan selalu karena ia tidak ada, melainkan karena perhatian manusia terlalu sibuk mengikuti pengalaman yang muncul di permukaan.

Karsa pun demikian. Manusia sibuk menjalankan kehendaknya sehingga lupa memperhatikan hakikat dari kehendak itu sendiri. Ia sibuk memilih, tetapi jarang bertanya tentang siapa atau apa yang sebenarnya sedang memilih. Ia sibuk menjalani laku, tetapi jarang berhenti untuk memahami hakikat dari kehidupan yang sedang dijalaninya.

Dari Karsa Menuju Kawruh Sejati.
Dari sinilah perjalanan menuju Kawruh Sejati dapat dimulai. Bukan dengan menolak cipta, rasa, dan karsa, melainkan dengan mengenali ketiganya secara lebih jernih. Manusia perlu mengetahui bagaimana pikirannya bekerja, bagaimana rasanya terbentuk, dan bagaimana kehendaknya mendorong tindakan. Dengan mengenali semuanya, manusia tidak lagi mudah menyamakan pengalaman dirinya dengan hakikat dirinya.
Kawruh Kasunyatan membantu manusia melihat kenyataan yang berlangsung dalam kehidupan. Cipta, rasa, dan karsa dapat diamati melalui perilaku, pengalaman, dan laku sehari-hari. Dari sana manusia belajar mengenali dirinya, termasuk berbagai kecenderungan yang selama ini tidak disadarinya.

Sementara itu, Kawruh Sejati membawa pertanyaan tersebut lebih jauh. Jika cipta bukan Sejatining Urip, rasa bukan Sejatining Urip, dan karsa juga bukan Sejatining Urip, lalu apakah yang disebut sebagai Jatining Panguripan? Pertanyaan inilah yang membuat pencarian tidak berhenti pada pengalaman, tetapi bergerak menuju pemahaman yang lebih mendasar.

Pada akhirnya, “Sejatining Urip dudu Karsa” bukanlah ajakan untuk berhenti berkehendak atau berhenti bertindak. Kalimat tersebut merupakan ajakan untuk tidak tergesa-gesa menganggap karsa sebagai hakikat kehidupan. Karsa adalah bagian dari laku manusia, sarana untuk menjalani pengalaman hidup, dan daya yang membuat seseorang dapat mewujudkan kehendaknya dalam tindakan. Namun, sesuatu yang digunakan dalam menjalani kehidupan belum tentu merupakan Sejatining Urip itu sendiri.

Mungkin karena itulah syair tersebut memilih kata “ngira”: sira ngira minangka karsanira. Engkau mengira sebagai karsamu. Bukan sebuah vonis, melainkan sebuah pertanyaan yang perlahan membuka ruang kesadaran. Ketika manusia mulai mempertanyakan apa yang selama ini dianggap sebagai “aku”, maka perjalanan menuju Kawruh Sejati pun mulai menemukan jalannya.

Sebab bisa jadi, yang selama ini kita sebut sebagai karsaku hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Sedangkan Sejatining Urip berada lebih dalam daripada apa yang kita pikirkan, rasakan, kehendaki, dan lakukan.

Dan di sanalah pertanyaan berikutnya menunggu untuk ditemukan: jika Sejatining Urip bukan karsa, lalu apakah Sejatining Urip itu?
Seseorang mungkin merasa telah menemukan kebenaran. Padahal yang ditemukan hanyalah sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
- kawruh sejati -
FAQ
Apa arti Sejatining Urip dudu Karsa?
Sejatining Urip dudu Karsa berarti hakikat kehidupan tidak dapat disamakan dengan karsa atau kehendak manusia. Karsa merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang digunakan manusia untuk menjalani laku, tetapi bukan Jatining Panguripan itu sendiri.

Apa yang dimaksud dengan karsa?
Karsa adalah daya kehendak yang mendorong manusia untuk menentukan pilihan, melakukan sesuatu, dan menjalani kehidupan melalui tindakan. Karsa menjadi salah satu bagian penting dalam dinamika cipta, rasa, dan karsa.

Apakah karsa harus dihilangkan?
Tidak. Karsa tidak perlu dihilangkan. Yang diperlukan adalah mengenali dan memahami karsa sehingga manusia tidak sekadar mengikuti kehendak yang muncul, tetapi mampu melihat bagaimana kehendak tersebut bekerja dalam kehidupannya.

Apa hubungan karsa dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati mengajak manusia memahami bahwa karsa merupakan bagian dari pengalaman dan laku kehidupan, bukan otomatis merupakan hakikat kehidupan. Dengan mengenali karsa, manusia dapat mulai membedakan antara apa yang dialami dengan apa yang menjadi dasar dari pengalaman tersebut.

Apakah cipta, rasa, dan karsa merupakan Sejatining Urip?
Dalam kerangka pembahasan ini, cipta, rasa, dan karsa merupakan dinamika kehidupan manusia. Ketiganya penting untuk menjalani kehidupan, tetapi tidak dengan sendirinya dapat disamakan dengan Sejatining Urip.

Apa hubungan Jatining Panguripan dengan Sejatining Urip?
Jatining Panguripan menunjuk kepada hakikat kehidupan yang lebih mendasar daripada pengalaman cipta, rasa, dan karsa. Karena itu, pencarian Sejatining Urip tidak berhenti pada apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki manusia.

Mengapa manusia sulit menyadari Jatining Panguripan?
Karena manusia terlalu dekat dengan pengalaman hidupnya sendiri. Cipta, rasa, dan karsa berlangsung setiap saat sehingga dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Manusia lebih sering memperhatikan pengalaman yang muncul daripada menyadari dasar yang memungkinkan pengalaman tersebut berlangsung.

Apa tujuan memahami bahwa Sejatining Urip dudu Karsa?
Tujuannya bukan menolak kehendak atau tindakan manusia, melainkan menempatkan karsa pada kedudukan yang tepat. Dengan memahami karsa, manusia dapat mulai membedakan antara kehendak, pengalaman hidup, dan hakikat kehidupan.


identitas penulis

Komentar