BENINGKAN RASA, CIRI KAWRUH SEJATI
Membeningkan rasa atau beninging rasa merupakan salah satu ciri penting Kawruh Sejati. Jika kawruh sejati benar-benar dipahami dan dihayati, pengetahuan yang diperoleh semestinya tidak hanya membuat manusia semakin banyak mengetahui, tetapi juga membuat rasa dalam dirinya semakin halus.
Pengetahuan yang semakin luas tetapi membuat seseorang semakin keras, mudah merendahkan orang lain, merasa paling benar, atau tidak peduli terhadap keadaan sesama belum menunjukkan bahwa kawruh sejati telah hidup dalam dirinya.
Sebab, pengetahuan yang benar seharusnya membawa perubahan dalam cara manusia memandang dan memperlakukan kehidupan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya menggunakan pikiran untuk memahami sesuatu. Manusia juga memiliki rasa untuk menangkap keadaan, merasakan penderitaan, memahami kebahagiaan, menghargai kehidupan, dan mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan. Karena itu, membeningkan rasa menjadi bagian penting dalam perjalanan memahami kawruh sejati.
Apa Arti Membeningkan Rasa?
Membeningkan rasa berarti menjadikan rasa semakin peka, halus, dan tidak mudah dikuasai oleh kepentingan diri sendiri.
Rasa yang bening bukan berarti seseorang harus selalu merasa sedih ketika melihat penderitaan atau selalu bersikap lembut dalam segala keadaan. Kehalusan rasa lebih dalam daripada sekadar kelembutan sikap.
Rasa yang bening membuat manusia mampu memahami keadaan secara lebih utuh sehingga tidak mudah bertindak hanya berdasarkan dorongan sesaat.
Seseorang yang memiliki rasa bening akan lebih berhati-hati ketika berbicara karena ia menyadari bahwa kata-kata dapat melukai. Ia juga mempertimbangkan tindakannya karena memahami bahwa perbuatannya dapat memberikan akibat kepada orang lain.
Dengan demikian, beninging rasa bukan sekadar keadaan perasaan, melainkan kemampuan manusia untuk menempatkan dirinya dalam kehidupan bersama.
Kawruh Sejati Membuat Rasa Semakin Halus.
Salah satu tanda penting kawruh sejati adalah perubahan kualitas rasa. Jika seseorang semakin banyak memahami kehidupan tetapi semakin mudah membenci, merendahkan, memanfaatkan, atau menyakiti sesama, maka pengetahuan tersebut perlu kembali diperiksa.
Pengetahuan seharusnya membantu manusia melihat kehidupan dengan lebih luas, bukan membuat dirinya semakin tertutup dalam kepentingan pribadi.
Rasa yang semakin halus membuat manusia mampu melihat bahwa setiap orang memiliki keadaan, pengalaman, kesulitan, dan perjuangannya masing-masing.
Ia tidak mudah menghakimi hanya berdasarkan apa yang tampak dari luar. Ia belajar memahami sebelum memberikan penilaian.
Inilah salah satu hubungan penting antara kawruh sejati dan rasa. Kawruh sejati bukan hanya perkara mengetahui sesuatu, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut membentuk cara manusia memperlakukan kehidupan.
Kepekaan terhadap Keadaan Orang Lain.
Rasa yang bening membuat manusia memiliki kepekaan terhadap keadaan orang lain. Kepekaan bukan berarti ikut mencampuri seluruh persoalan orang lain.
Kepekaan berarti mampu menyadari bahwa orang lain juga memiliki perasaan, kebutuhan, kesulitan, dan martabat yang harus dihargai.
Ketika melihat seseorang sedang mengalami kesulitan, manusia dengan rasa yang semakin bening tidak langsung menyalahkan atau merendahkannya. Ia berusaha memahami keadaan sebelum memberikan penilaian.
Begitu pula ketika melihat seseorang memperoleh keberhasilan. Rasa yang bening tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk iri. Ia mampu menghargainya tanpa merasa bahwa keberhasilan tersebut mengurangi nilai dirinya sendiri.
Kemampuan seperti ini menunjukkan bahwa rasa tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh kepentingan pribadi.
Tidak Mudah Menyakiti dan Merendahkan.
Membeningkan rasa juga berkaitan erat dengan cara manusia memperlakukan sesama.
Ada orang yang merasa dirinya lebih tinggi karena memiliki pengetahuan lebih banyak, kedudukan lebih baik, kekayaan lebih besar, atau pengalaman yang lebih luas. Jika keadaan tersebut membuat seseorang senang merendahkan orang lain, berarti pengetahuannya belum sepenuhnya menghasilkan kehalusan rasa.
Kawruh sejati justru semestinya membuat manusia semakin memahami keterbatasan dirinya.
Semakin banyak mengetahui, seseorang seharusnya semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami. Kesadaran tersebut membuatnya tidak mudah memandang rendah orang lain.
Rasa yang bening tidak mencari kesempatan untuk menyakiti. Ia tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan untuk mendapatkan keuntungan atau meninggikan dirinya sendiri.
Tidak Memanfaatkan Sesama.
Kehalusan rasa juga terlihat dari kemampuan manusia menahan diri untuk tidak memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi.
Dalam kehidupan, manusia tentu memiliki kebutuhan dan kepentingan. Memperjuangkan kebutuhan bukan sesuatu yang salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kepentingan pribadi dicapai dengan mengorbankan orang lain secara tidak adil.
Rasa yang bening membantu manusia mempertimbangkan akibat dari tindakannya. Sebelum mengambil sesuatu, ia mempertimbangkan apakah tindakannya merugikan orang lain.
Sebelum menggunakan kelemahan seseorang, ia menyadari bahwa kesempatan tersebut sebenarnya merupakan ujian bagi dirinya sendiri.
Di sinilah kawruh sejati memiliki hubungan dengan laku nyata. Pengetahuan tentang kebaikan tidak cukup hanya dipahami. Pengetahuan tersebut perlu diwujudkan dalam cara manusia memperlakukan sesama.
Membeningkan Rasa Bukan Berarti Menjadi Lemah.
Ada anggapan bahwa manusia yang memiliki rasa halus akan mudah dimanfaatkan karena terlalu lembut kepada orang lain.
Pemahaman tersebut kurang tepat.
Rasa yang bening bukan kelemahan. Seseorang tetap dapat bersikap tegas tanpa kebencian. Ia dapat mengatakan tidak tanpa merendahkan. Ia dapat menolak perbuatan yang salah tanpa harus membenci orang yang melakukannya.
Justru rasa yang bening membantu manusia membedakan antara ketegasan dan kekerasan.
Kekerasan sering lahir dari dorongan untuk mengalahkan. Ketegasan lahir dari kemampuan mempertahankan sesuatu yang dianggap benar tanpa kehilangan penghargaan terhadap manusia lain.
Karena itu, membeningkan rasa bukan berarti menghilangkan kekuatan. Sebaliknya, manusia belajar menggunakan kekuatan dengan lebih bijaksana.
Bersyukur Tanpa Harus Memiliki Segalanya.
Rasa yang bening juga berkaitan dengan kemampuan bersyukur. Manusia sering menganggap bahwa dirinya baru dapat merasa cukup apabila seluruh keinginannya terpenuhi.
Padahal keinginan manusia dapat terus bertambah. Setelah memperoleh satu hal, muncul keinginan terhadap hal berikutnya.
Jika kebahagiaan selalu digantungkan pada terpenuhinya keinginan, manusia akan sulit merasa cukup.
Kawruh sejati membantu manusia melihat bahwa menerima kenyataan bukan berarti berhenti berusaha. Manusia dapat bersyukur terhadap apa yang telah dimiliki sambil tetap berusaha memperbaiki keadaan.
Syukur membuat manusia tidak terus-menerus hidup dalam rasa kekurangan. Ia mampu menghargai kehidupan yang sedang dijalani tanpa kehilangan semangat untuk menjadi lebih baik.
Menerima Kenyataan dan Tetap Berusaha.
Membeningkan rasa tidak berarti pasrah terhadap segala keadaan. Ada perbedaan antara menerima kenyataan dan menyerah kepada keadaan. Menerima kenyataan berarti berani melihat keadaan sebagaimana adanya tanpa terus-menerus melawannya dalam pikiran.
Setelah itu, manusia masih dapat menentukan tindakan yang baik untuk memperbaikinya. Misalnya, ketika mengalami kegagalan, manusia dapat mengakui bahwa kegagalan memang telah terjadi. Ia tidak perlu terus menyalahkan keadaan. Namun, penerimaan tersebut bukan berarti berhenti belajar.
Ia dapat mengambil pelajaran, memperbaiki kekurangan, kemudian mencoba kembali.
Rasa yang bening membuat manusia mampu menerima apa yang belum dapat diubah, sekaligus tetap berusaha mengubah apa yang memang masih dapat diperbaiki.
Membeningkan Rasa dalam Kehidupan Sehari-hari.
Beninging rasa tidak perlu dimulai dari perkara yang besar. Ia dapat dilatih melalui berbagai keadaan sederhana.
Belajar mendengarkan tanpa selalu memotong pembicaraan, menjaga ucapan agar tidak melukai, menghargai orang yang berbeda pendapat, tidak menertawakan kelemahan orang lain, membantu ketika memang mampu membantu, serta tidak mengambil keuntungan dari kesulitan sesama merupakan bentuk nyata dari latihan membeningkan rasa.
Manusia juga dapat melatih diri dengan memperhatikan apa yang muncul dalam rasa ketika melihat keberhasilan orang lain, menerima kritik, menghadapi penghinaan, atau berada dalam keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan.
Dari sana manusia dapat mengenali apakah rasa dalam dirinya masih mudah dikuasai iri, marah, kecewa, atau keakuan. Proses tersebut membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri.
Ukuran Kawruh Sejati Terlihat dari Perubahan Rasa.
Pada akhirnya, ukuran kawruh sejati tidak hanya terlihat dari seberapa banyak seseorang mampu menjelaskan suatu pengetahuan, tetapi dari perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Jika pengetahuan membuat cipta semakin jernih dan rasa semakin bening, maka pengetahuan tersebut mulai memberikan kehidupan.
Rasa yang bening membuat manusia semakin menghargai sesama, semakin peka terhadap penderitaan, semakin berhati-hati dalam bertindak, dan semakin mampu bersyukur atas kehidupan.
Ia tidak harus menjadi manusia yang sempurna. Ia masih dapat marah, kecewa, sedih, dan mengalami berbagai pergulatan.
Namun, ia belajar agar berbagai keadaan tersebut tidak sepenuhnya menguasai dirinya.
Inilah salah satu makna penting kawruh sejati: pengetahuan yang benar seharusnya tidak berhenti sebagai sesuatu yang diketahui, tetapi menjadi sesuatu yang mengubah manusia.
Menjernihkan cipta membuat manusia semakin mampu melihat dengan jernih.
Membeningkan rasa membuat manusia semakin mampu merasakan dengan halus.
Keduanya kemudian perlu diwujudkan melalui laku yang baik dalam kehidupan.
Dengan demikian, beninging rasa bukan sekadar konsep, melainkan bagian dari perjalanan manusia untuk menghidupkan kawruh sejati dalam dirinya.
FAQ Membeningkan Rasa.
1. Apa yang dimaksud dengan membeningkan rasa?
Membeningkan rasa adalah proses menjadikan rasa semakin halus, peka, dan tidak mudah dikuasai oleh iri hati, kebencian, kepentingan pribadi, maupun dorongan untuk menyakiti orang lain.
2. Apa hubungan membeningkan rasa dengan kawruh sejati?
Membeningkan rasa merupakan salah satu tanda bahwa kawruh sejati mulai memberikan perubahan dalam diri manusia. Pengetahuan yang benar semestinya membuat manusia semakin menghargai kehidupan dan sesama.
3. Apakah rasa yang bening berarti tidak boleh marah?
Tidak. Marah dapat muncul sebagai bagian dari kehidupan manusia. Yang penting adalah kemampuan untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai ucapan dan tindakan sehingga merugikan diri sendiri maupun orang lain.
4. Apakah membeningkan rasa berarti harus selalu mengalah?
Tidak. Rasa yang bening tidak sama dengan kelemahan. Manusia tetap dapat bersikap tegas, menolak sesuatu yang salah, dan mempertahankan kebenaran tanpa harus membenci atau merendahkan orang lain.
5. Bagaimana cara melatih rasa agar semakin bening?
Latihan dapat dilakukan dengan menjaga ucapan, belajar mendengarkan, menghargai perbedaan, tidak mudah menghakimi, peka terhadap keadaan orang lain, serta mengamati dorongan iri, benci, dan keakuan yang muncul dalam diri.
6. Apa tanda rasa mulai bening?
Tandanya antara lain semakin peka terhadap keadaan sesama, tidak mudah merendahkan, mampu menghargai keberhasilan orang lain, tidak mudah menyakiti, serta mampu bersyukur tanpa harus memiliki semua yang diinginkan.
7. Apakah bersyukur berarti menerima keadaan tanpa berusaha?
Tidak. Bersyukur berarti mampu menghargai apa yang telah dimiliki dan menerima kenyataan dengan kesadaran, sementara usaha untuk memperbaiki keadaan tetap dilakukan melalui tindakan yang baik.
8. Mengapa rasa penting dalam kawruh sejati?
Karena kawruh sejati tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami sesuatu. Pengetahuan tersebut juga harus membentuk cara manusia merasakan, menghargai, dan memperlakukan kehidupan.

Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.