NAWA PRASANTI BATIN UTTAMOPADESA

nawa prasanti batin
Nawa Prasanti Batin dan Pambening Cipta, Rasa, Karsa

Ketenteraman batin tidak lahir begitu saja dari keadaan kehidupan yang tenang.
Ketenteraman merupakan buah dari keadaan diri yang semakin tertata. Seseorang dapat berada dalam keadaan yang serba berkecukupan, tetapi belum tentu merasakan ketenteraman. Sebaliknya, seseorang yang menghadapi berbagai keterbatasan masih dapat menjaga ketenangan dirinya ketika cipta, rasa, dan karsanya berada dalam keadaan yang selaras.

Dalam kerangka Uttamopadesa, keadaan batin manusia tidak dapat dilepaskan dari tiga unsur penting, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta berkaitan dengan cara manusia berpikir dan memandang kehidupan. Rasa berkaitan dengan bagaimana manusia merasakan serta menghayati berbagai keadaan. Karsa berkaitan dengan kehendak yang mendorong manusia menentukan pilihan dan melakukan tindakan.

Ketiga unsur tersebut saling berhubungan. Cipta yang keruh dapat mempengaruhi rasa. Rasa yang tidak tertata dapat memengaruhi karsa. Karsa yang tidak luhur kemudian dapat melahirkan tindakan yang menjauhkan manusia dari ketenteraman.

Karena itu Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa menempatkan pembenahan ketiga unsur tersebut sebagai salah satu dasar utama, yaitu :
“Ngupadi Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa.”

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan mengenai keadaan batin yang ideal. Kata ngupadi menunjukkan adanya usaha. Weninging cipta, tulusing rasa, dan luhuring karsa tidak cukup hanya diinginkan, tetapi perlu terus diupayakan dalam kehidupan.

Weninging Cipta.
Cipta yang wening bukan berarti manusia tidak lagi memiliki pikiran yang beragam. Pikiran tetap bergerak, menimbang, mengingat, memperkirakan, dan mencari jalan keluar. Yang berubah adalah cara manusia berhubungan dengan pikirannya.

Cipta yang belum wening mudah dikuasai prasangka. Ketika mendengar perkataan seseorang, ia segera memberikan penilaian. Ketika menghadapi suatu keadaan, ia langsung membayangkan kemungkinan buruk. Ketika memperoleh keberhasilan, ia mudah merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Weninging cipta mengajarkan manusia untuk memberi ruang sebelum mengambil keputusan. Ia belajar melihat keadaan dengan lebih jernih, membedakan antara kenyataan dan dugaan, serta tidak menjadikan keinginannya sendiri sebagai ukuran tunggal terhadap kehidupan.

Kejernihan cipta juga membuat manusia lebih mudah menerima bahwa dirinya dapat keliru. Hal ini berkaitan erat dengan salah satu prinsip Nawa Prasanti Batin, yaitu :
“Kasunyataning Laku katon lumantar Nora Ngendelake Nalar Kumingsun.”

Nalar tetap digunakan, tetapi tidak dijadikan alat untuk membesarkan diri. Manusia boleh memiliki pendapat, tetapi tidak harus merasa bahwa pendapatnya selalu benar.

Tulusing Rasa.
Jika cipta berkaitan dengan cara memandang, rasa berkaitan dengan cara mengalami kehidupan. Rasa yang tulus tidak berarti manusia tidak boleh merasa sedih, kecewa, marah, atau takut. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana rasa tersebut diperlakukan.

Rasa yang tidak tertata dapat membuat manusia hidup dalam iri, dendam, pamrih, atau keinginan untuk memperoleh pengakuan. Ia merasa senang ketika dipuji dan merasa hancur ketika dicela. Ketenteramannya menjadi tergantung pada penilaian orang lain.

Tulusing rasa membawa manusia kepada keadaan yang lebih bebas dari ketergantungan semacam itu. Ia tetap dapat menerima pujian tanpa menjadikannya kebutuhan utama. Ia juga dapat menerima kritik tanpa langsung menganggapnya sebagai serangan.

Tulusing rasa kemudian dapat terlihat melalui hubungan dengan sesama, yaitu :
“Kasunyataning Laku katon lumantar Asih mring Sesami.”

Asih kepada sesama menjadi salah satu tanda bahwa rasa telah berkembang ke arah yang lebih tulus. Asih bukan hanya perasaan, melainkan sikap yang tampak dalam cara berbicara, memperlakukan orang lain, membantu, menghormati, dan menjaga agar tindakan tidak menimbulkan penderitaan yang tidak perlu.

Luhuring Karsa.
Karsa merupakan daya kehendak yang membawa manusia menuju tindakan. Karena itu luhuring karsa menjadi bagian penting dalam pembentukan ketenteraman.

Manusia dapat mengetahui sesuatu sebagai kebaikan, tetapi tetap memilih tindakan yang bertentangan dengan pengetahuannya. Di sinilah terlihat bahwa pengetahuan saja belum cukup. Kehendak perlu diarahkan.

Luhuring karsa berarti kehendak tidak semata-mata mengikuti kesenangan atau kepentingan pribadi. Manusia belajar mempertimbangkan akibat dari pilihannya. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga “Apakah yang saya inginkan selaras dengan kehidupan?”

Prinsip keenam Nawa Prasanti Batin mengarah kepada hal tersebut:
“Kasunyataning Laku katon lumantar Selaras ing Tatanan Panguripan.”

Kehendak yang luhur tidak berjalan dengan memaksakan diri kepada kehidupan. Ia berusaha mencari keselarasan.

Ketiganya harus menjadi laku
Weninging cipta, tulusing rasa, dan luhuring karsa belum menjadi kenyataan apabila hanya berhenti sebagai gagasan. Karena itu prinsip berikutnya menegaskan:
“Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa kedah kasunyatan ing Laku.”

Inilah titik penting dalam Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa. Cipta yang wening harus terlihat dalam cara mengambil keputusan. Rasa yang tulus harus terlihat dalam hubungan dengan sesama. Karsa yang luhur harus terlihat dalam tindakan.

Dengan demikian, kualitas batin tidak hanya diukur dari apa yang seseorang katakan mengenai dirinya, tetapi dari apa yang benar-benar dilakukan ketika menghadapi kehidupan.

Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya sabar. Namun kesabaran itu baru dapat dilihat ketika ia menghadapi keadaan yang menguji kesabarannya.

Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya mengasihi sesama. Namun asih tersebut baru menjadi kasunyatan ketika ia berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan atau tidak memberikan keuntungan kepadanya.

Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya sederhana. Namun prasaja baru terlihat ketika ia memiliki kesempatan untuk memamerkan kelebihan tetapi memilih tidak melakukannya.

Hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan ketenteraman.
Ketenteraman batin tumbuh ketika ketiga unsur tersebut semakin selaras. Cipta yang jernih membantu manusia melihat keadaan secara lebih tepat. Rasa yang tulus membuat manusia tidak mudah dikuasai pamrih dan kebencian. Karsa yang luhur membantu manusia memilih tindakan yang tidak bertentangan dengan nilai yang diyakininya.
Apabila ketiganya berjalan bersama, konflik di dalam diri berkurang.

Sebaliknya, apabila cipta mengatakan sesuatu tetapi rasa menolaknya, sementara karsa justru melakukan hal yang berlawanan, manusia mengalami ketidaksesuaian di dalam dirinya sendiri.

Karena itu Nawa Prasanti Batin bukan sekadar ajaran mengenai “tenang”. Ia merupakan jalan untuk menata keseluruhan kehidupan batin sehingga apa yang dipikirkan, dirasakan, dikehendaki, dan dilakukan semakin selaras.

Dari pembenahan menuju prasanti.
Ketenteraman akhirnya bukan keadaan yang dipaksakan. Ia tumbuh sebagai buah.

Ketika cipta semakin wening, manusia tidak mudah terseret oleh pikiran yang keruh.

Ketika rasa semakin tulus, manusia tidak terlalu bergantung pada pengakuan.

Ketika karsa semakin luhur, tindakan menjadi lebih terarah.

Dari sana tumbuh ketenteraman yang tidak terlalu bergantung kepada keadaan di luar diri.

Hal ini kembali kepada prinsip pertama:
“Aja ngendelake tentreming batin marang kahanan ing jaba; awit sajatining tentrem iku tuwuh saka jroning dhiri.”

Ketenteraman yang demikian bukan berarti manusia tidak lagi mengalami perubahan kehidupan. Justru manusia menjadi lebih mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan dasar dirinya.

Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa dengan demikian menunjukkan bahwa jalan menuju ketenteraman tidak dimulai dari usaha mengubah seluruh dunia agar sesuai dengan keinginan manusia.

Jalan tersebut dimulai dari keberanian untuk membenahi diri sendiri.

Cipta dijernihkan. Rasa dituluskan. Karsa diluhurkan. Kemudian semuanya diwujudkan dalam laku.

Pada akhirnya, ketenteraman bukan hanya sesuatu yang dirasakan, tetapi sesuatu yang tercermin dalam kehidupan.

FAQ Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa.
Apa hubungan cipta, rasa, dan karsa dengan Nawa Prasanti Batin?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan unsur penting yang perlu dibenahi agar ketenteraman dapat tumbuh dari dalam diri.

Apa yang dimaksud weninging cipta?
Weninging cipta adalah keadaan pikiran yang semakin jernih, tidak mudah dikuasai prasangka, kesombongan, dan penilaian yang tergesa-gesa.

Apa arti tulusing rasa?
Tulusing rasa berarti rasa yang semakin tulus, tidak dikuasai pamrih, iri, kebencian, atau kebutuhan berlebihan terhadap pengakuan.

Apa arti luhuring karsa?
Luhuring karsa berarti kehendak yang diarahkan kepada tindakan yang luhur dan selaras dengan kehidupan.

Mengapa ketiganya harus diwujudkan dalam laku?
Karena pengetahuan dan pemahaman belum menjadi kasunyatan apabila tidak terlihat dalam tindakan nyata.

Apakah ketenteraman berarti tidak pernah marah atau sedih?
Tidak. Ketenteraman berarti mampu menghadapi berbagai rasa tanpa membiarkan gejolak tersebut sepenuhnya menguasai tindakan.  

Komentar