KAWRUH SEJATI DAN PEMBENTUKAN BUDI

kawruh sejati dan pembentukan budi

Kalau Budi Tidak Berubah, Apa yang Sebenarnya Kita Ketahui?

Banyak orang berbicara tentang Kawruh Sejati seolah-olah Kawruh Sejati adalah pengetahuan yang sangat tinggi, rahasia kehidupan yang hanya dapat dipahami oleh orang tertentu, atau sesuatu yang membuat seseorang merasa telah menemukan kebenaran yang selama ini dicari. Ada pula yang menganggap bahwa semakin banyak seseorang mengetahui istilah tentang kehidupan, batin, kesadaran, atau hakikat manusia, semakin dekat pula dirinya dengan Kawruh Sejati. Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting dan sering justru dilupakan: jika semua pengetahuan itu tidak membuat budi seseorang menjadi lebih baik, apakah ia benar-benar telah memahami Kawruh Sejati?

Pertanyaan tersebut mungkin terasa menohok, tetapi justru di situlah persoalannya. Sebab Kawruh Sejati seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan yang membuat manusia merasa lebih tahu daripada orang lain. Kawruh Sejati semestinya menjadi penerangan yang membuat manusia mampu melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih, memahami kelemahannya, mengendalikan dorongan yang merusak, serta membentuk budi yang semakin matang melalui laku kehidupan.

Pengetahuan dapat membuat seseorang pandai berbicara, tetapi belum tentu membuatnya mampu mengendalikan diri. Pengetahuan dapat membuat seseorang mengetahui apa yang baik dan buruk, tetapi belum tentu membuatnya memilih yang baik ketika kepentingannya sedang terancam. Bahkan seseorang dapat menjelaskan kesabaran dengan sangat indah, tetapi kehilangan kesabaran ketika menghadapi orang yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa mengetahui belum tentu memahami, dan memahami belum tentu menjalankan.

Di sinilah letak pentingnya hubungan antara Kawruh Sejati dan pembentukan budi.

“Kawruh Sejati bukan tentang siapa yang paling tahu. Kawruh Sejati adalah tentang bagaimana pengetahuan membentuk manusia menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan."
- Dhimas Purnomo -
Kawruh Sejati Bukan Sekadar Pengetahuan.
Kata “kawruh” dapat dipahami sebagai pengetahuan atau pemahaman, sedangkan “sejati” menunjuk kepada sesuatu yang sungguh-sungguh atau benar. Namun, Kawruh Sejati tidak semestinya dipersempit menjadi sekadar kumpulan pengetahuan yang harus dipercaya. Kawruh Sejati lebih tepat dipahami sebagai pengetahuan yang membawa manusia kepada pemahaman yang lebih jernih tentang kehidupan dan dirinya sendiri, kemudian diuji melalui pengalaman dan diwujudkan dalam laku.

Karena itu, seseorang tidak otomatis menjadi lebih dekat kepada Kawruh Sejati hanya karena membaca banyak buku, menghafal banyak ajaran, mengikuti berbagai diskusi, atau mampu menjelaskan konsep kehidupan dengan bahasa yang sangat meyakinkan.

Semua itu baru berada pada wilayah pengetahuan.

Persoalan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pengetahuan tersebut masuk ke dalam dirinya.

Apakah ia menjadi lebih mampu mengendalikan kemarahan? Apakah ia menjadi lebih jujur ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah ia mampu menerima kritik tanpa langsung merasa direndahkan? Apakah ia mampu menahan keinginan ketika mengetahui bahwa keinginannya dapat merugikan orang lain? Apakah ia semakin berhati-hati dalam menilai orang lain? Apakah ia berani mengakui bahwa dirinya sendiri masih banyak kekurangan?

Jika jawabannya tidak, maka mungkin yang bertambah baru pengetahuannya, belum tentu kebijaksanaannya.

Kawruh Sejati Seharusnya Mengubah Cara Manusia Menjalani Hidup.
Kawruh Sejati tidak memiliki banyak arti apabila hanya menambah isi kepala tanpa mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Pengetahuan yang benar seharusnya membawa perubahan pada cara seseorang melihat dirinya, melihat orang lain, dan mengambil keputusan.

Manusia hidup melalui tiga wilayah penting yang dapat disebut sebagai cipta, rasa, dan karsa. Cipta berkaitan dengan kemampuan berpikir dan memahami, rasa berkaitan dengan kemampuan merasakan serta menyadari keadaan batin, sedangkan karsa berkaitan dengan kehendak yang mendorong manusia untuk bertindak.

Ketiganya saling berhubungan. Apa yang dipikirkan dapat memengaruhi rasa, apa yang dirasakan dapat memengaruhi kehendak, dan kehendak akhirnya diwujudkan melalui tindakan.

Karena itu, apabila seseorang mengaku memahami Kawruh Sejati tetapi pikirannya masih dipenuhi kesombongan, perasaannya mudah dikuasai kebencian, dan kehendaknya selalu mengejar kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan akibatnya, maka masih ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam pemahamannya.

Kawruh Sejati bukan sekadar membuat manusia tahu, tetapi seharusnya membantu manusia menata diri.

Pembentukan Budi Adalah Ujian Kawruh Sejati.
Budi tidak terbentuk hanya karena seseorang mengetahui banyak nasihat tentang kebaikan. Budi terbentuk ketika pengetahuan tersebut bertemu dengan kehidupan nyata.

Ketika seseorang dipuji, apakah ia langsung merasa paling hebat?

Ketika dikritik, apakah ia langsung marah?

Ketika mendapatkan keuntungan, apakah ia masih mempertimbangkan keadilan?

Ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan, apakah ia mampu tetap menghargainya?

Ketika memiliki kesempatan untuk membalas kesalahan orang lain, apakah ia mampu mempertimbangkan akibat tindakannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada seberapa banyak seseorang mampu berbicara tentang Kawruh Sejati.

Sebab budi terlihat bukan ketika manusia sedang menjelaskan dirinya, melainkan ketika dirinya sedang diuji oleh keadaan.

Orang yang berbicara tentang kesabaran belum tentu sabar. Orang yang berbicara tentang kejujuran belum tentu jujur. Orang yang berbicara tentang kesadaran belum tentu sadar terhadap dirinya sendiri. Orang yang berbicara tentang pengendalian diri belum tentu mampu mengendalikan dirinya ketika kepentingannya terganggu.

Maka, kehidupan sehari-hari sesungguhnya merupakan tempat pengujian Kawruh Sejati yang sangat nyata.

Jangan Mengaku Menemukan Kebenaran Jika Diri Sendiri Belum Berubah.
Salah satu jebakan dalam perjalanan mencari pengetahuan adalah munculnya perasaan bahwa dirinya telah menemukan sesuatu yang lebih tinggi daripada orang lain.

Begitu seseorang merasa memiliki pengetahuan yang lebih benar, ia dapat dengan mudah terjebak dalam kesombongan. Ia mulai merasa pendapatnya paling tepat, pemahamannya paling dalam, dan orang lain dianggap belum mengerti.

Padahal, pengetahuan yang benar semestinya justru membuat seseorang semakin mampu melihat keterbatasan dirinya.

Semakin banyak seseorang memahami kehidupan, seharusnya semakin hati-hati ia dalam mengklaim kebenaran. Ia belajar membedakan antara kenyataan yang benar-benar dialami, pemahaman yang sedang berkembang, dugaan pribadi, dan kepercayaan yang diterima dari orang lain.

Sikap seperti ini penting karena manusia sangat mudah mengira bahwa apa yang ia pikirkan adalah kenyataan. Padahal pikiran hanyalah alat untuk memahami kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri.

Karena itu, Kawruh Sejati membutuhkan kejernihan dalam melihat diri sendiri.

Budi Tidak Dibentuk oleh Kata-Kata.
Budi dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan berulang kali.

Seseorang menjadi lebih sabar karena berkali-kali belajar menghadapi keadaan yang menguji kesabarannya. Seseorang menjadi lebih jujur karena berkali-kali memilih kejujuran meskipun berhadapan dengan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan secara tidak benar. Seseorang menjadi lebih mampu mengendalikan diri karena berkali-kali belajar mengenali dorongan sebelum mengubahnya menjadi tindakan.

Dengan demikian, pembentukan budi adalah sebuah proses.

Tidak ada manusia yang langsung sempurna hanya karena memahami suatu ajaran. Bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman mendalam pun tetap dapat melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah kesediaannya untuk menyadari kesalahan, mengoreksi diri, dan kembali memperbaiki laku.

Di sinilah Kawruh Sejati menjadi sesuatu yang hidup.

Ia tidak hanya berada di dalam buku, tulisan, atau percakapan, tetapi hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang dibuat manusia setiap hari.

Kawruh Sejati Tidak Mengubah Manusia Secara Otomatis.
Ada satu hal yang perlu ditegaskan: bukan Kawruh Sejati yang secara otomatis mengubah kehidupan manusia. Manusialah yang berubah karena memilih memahami dan menjalankan apa yang diketahuinya.

Pengetahuan hanyalah penerang.

Lampu dapat menerangi jalan, tetapi lampu tidak berjalan menggantikan manusia. Demikian pula Kawruh Sejati dapat memberikan pemahaman tentang kehidupan, tetapi manusia sendiri yang harus menentukan bagaimana pemahaman tersebut digunakan.

Jika seseorang mengetahui bahwa kemarahan dapat merusak hubungan, tetapi tetap memilih melampiaskan kemarahan, masalahnya bukan kekurangan pengetahuan. Jika seseorang mengetahui bahwa keserakahan dapat merugikan orang lain, tetapi tetap mengejar keuntungan dengan mengorbankan orang lain, masalahnya bukan karena ia belum pernah mendengar nasihat tentang kebaikan.

Masalahnya berada pada laku.

Karena itu, Kawruh Sejati membutuhkan keberanian untuk mempraktikkan pemahaman dalam kehidupan nyata.

Ukuran Kawruh Sejati Ada pada Laku.
Kita sering mencari ukuran yang rumit untuk mengetahui apakah seseorang telah memahami Kawruh Sejati. Padahal, ukurannya dapat dilihat dari sesuatu yang sangat sederhana: bagaimana ia menjalani kehidupan.

Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan baginya?

Bagaimana ia bersikap ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya?

Bagaimana ia menghadapi kritik?

Bagaimana ia menggunakan kekuasaan ketika memilikinya?

Bagaimana ia bersikap ketika tidak ada orang yang mengetahui tindakannya?

Dan yang paling penting, bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri ketika menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa Kawruh Sejati dari wilayah gagasan menuju wilayah laku.

Sebab kehidupan adalah tempat pengetahuan diuji.

Dari Kawruh Menuju Budi.
Pada akhirnya, tujuan dari Kawruh Sejati bukanlah menjadikan manusia sebagai orang yang paling banyak mengetahui. Tujuannya adalah membantu manusia menjadi lebih jernih dalam memahami kehidupan dan lebih matang dalam menjalani kehidupan.

Kawruh Sejati yang hanya membuat seseorang pandai berbicara tetapi tidak mampu mengendalikan diri perlu dipertanyakan. Kawruh Sejati yang membuat seseorang merasa paling suci tetapi mudah merendahkan orang lain juga perlu diperiksa kembali. Kawruh Sejati yang membuat seseorang semakin sombong karena merasa memiliki kebenaran justru telah kehilangan salah satu makna penting dari pengetahuan itu sendiri.

Sebaliknya, ketika pengetahuan membuat seseorang semakin rendah hati, semakin mampu mengendalikan diri, semakin jujur terhadap dirinya sendiri, semakin berhati-hati dalam menilai orang lain, dan semakin bertanggung jawab terhadap tindakannya, maka pengetahuan tersebut mulai menjadi bagian dari pembentukan budi.

Karena itu, pertanyaan paling penting tentang Kawruh Sejati bukanlah, “Seberapa banyak yang sudah aku ketahui?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Setelah mengetahui semua itu, menjadi manusia seperti apakah aku?”

Sebab pengetahuan yang tidak mengubah budi hanya akan menjadi beban pikiran. Pengetahuan yang dipahami tetapi tidak dijalankan hanya akan menjadi wacana.

Sebaliknya, pengetahuan yang dihayati dan diwujudkan melalui laku akan menjadi bagian dari kehidupan.

Di situlah Kawruh Sejati menemukan maknanya.

Bukan ketika manusia merasa telah menemukan kebenaran, melainkan ketika manusia mulai berani melihat dirinya sendiri dengan jernih, membersihkan cipta, menata rasa, mengendalikan karsa, dan membuktikan pemahamannya melalui tindakan nyata.

Kawruh Sejati bukan tentang siapa yang paling tahu. Kawruh Sejati adalah tentang bagaimana pengetahuan membentuk manusia menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan.

FAQ Kawruh Sejati dan Pembentukan Budi.
Apa itu Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati dapat dipahami sebagai pengetahuan yang membawa manusia kepada pemahaman yang lebih jernih tentang kehidupan dan dirinya sendiri, kemudian diwujudkan melalui laku dan perubahan nyata dalam perilaku.

Apakah Kawruh Sejati sama dengan banyak pengetahuan?
Tidak. Banyak pengetahuan belum tentu menunjukkan pemahaman yang mendalam. Kawruh Sejati tidak hanya berkaitan dengan apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dihayati dan diterapkan dalam kehidupan.

Apa hubungan Kawruh Sejati dengan budi?
Kawruh Sejati memberikan dasar pemahaman, sedangkan budi menunjukkan hasilnya dalam kehidupan. Semakin matang pemahaman seseorang, semestinya semakin matang pula cara berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.

Bagaimana mengetahui apakah seseorang memahami Kawruh Sejati?
Salah satu ukurannya adalah laku. Perubahan dalam pengendalian diri, kejujuran, tanggung jawab, cara memperlakukan orang lain, serta kesediaan mengoreksi diri dapat menjadi tanda bahwa pengetahuan mulai benar-benar dihayati.

Apakah Kawruh Sejati dapat mengubah seseorang secara otomatis?
Tidak. Kawruh Sejati memberikan pemahaman, tetapi manusia sendirilah yang harus memilih untuk menjalankan pemahaman tersebut. Perubahan terjadi melalui laku yang dilakukan secara sadar dan terus-menerus.

Mengapa cipta, rasa, dan karsa penting dalam Kawruh Sejati?
Karena ketiganya berkaitan dengan cara manusia berpikir, merasakan, dan bertindak. Pembentukan budi membutuhkan penataan cipta, rasa, dan karsa agar pemahaman tidak berhenti sebagai pikiran, tetapi menjadi tindakan yang nyata.

Baca juga artikel-artikel tentang :

identitas penulis

Komentar