MENGETAHUI BUKAN MEMAHAMI
Kita bisa mengetahui sejarah, ilmu pengetahuan, filsafat, kesehatan, teknologi, bahkan berbagai ajaran kehidupan hanya dalam hitungan detik.
Tetapi ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih sulit:
Apakah mengetahui berarti memahami?
Belum tentu.
Seseorang bisa mengetahui bahwa marah itu tidak baik, tetapi masih mudah marah. Ia bisa mengetahui bahwa iri hati membuat batin tidak tenang, tetapi tetap merasa gelisah ketika melihat keberhasilan orang lain. Ia bisa mengetahui pentingnya mengendalikan diri, tetapi ketika keinginannya terganggu, ia justru kehilangan kendali.
Kalau demikian, apa sebenarnya yang dimaksud dengan memahami?
Di sinilah persoalan menjadi menarik. Sebab antara mengetahui dan memahami terdapat sebuah jarak yang kadang sangat jauh.
Dan mungkin, perjalanan menuju kawruh sejati justru dimulai ketika seseorang menyadari bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai pengetahuan ternyata belum tentu merupakan pemahaman.
Mengetahui Adalah Awal, Bukan Akhir.
Mengetahui tentu penting.
Tanpa mengetahui, seseorang tidak mungkin belajar. Pengetahuan membuka pintu pertama menuju pemahaman.
Kita membaca tentang kesabaran, lalu mengetahui apa yang dimaksud dengan sabar. Kita membaca tentang pengendalian diri, kemudian mengetahui pentingnya mengendalikan diri. Kita mempelajari tentang kehidupan batin, lalu mendapatkan berbagai gambaran mengenai cara manusia berpikir dan merasakan.
Tetapi semua itu baru berada pada tingkat pengetahuan.
Kita bisa mengetahui sebuah peta tanpa pernah berjalan di jalan yang digambarkan oleh peta tersebut.
Kita bisa mengetahui teori berenang tanpa pernah masuk ke dalam air.
Kita bisa mengetahui banyak hal tentang kehidupan tanpa benar-benar memahami bagaimana kehidupan bekerja di dalam diri kita sendiri.
Karena itu, pengetahuan seharusnya bukan tempat untuk berhenti.
Ia adalah pintu.
Yang menjadi persoalan adalah apakah kita mau masuk melalui pintu tersebut.
Mengapa Orang yang Tahu Masih Bisa Salah?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya cukup dalam.
Sebab mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat seseorang mampu menerapkannya.
Kita semua mungkin mengetahui bahwa kemarahan dapat merusak hubungan. Namun ketika seseorang merasa tersinggung, pengetahuan itu bisa saja kalah oleh emosi.
Kita mengetahui bahwa keputusan yang tergesa-gesa sering membawa masalah. Tetapi ketika keinginan muncul dengan kuat, kita tetap bisa bertindak tanpa berpikir panjang.
Artinya, ada sesuatu di dalam diri yang tidak selalu tunduk kepada apa yang kita ketahui.
Pikiran dapat berkata:
“Jangan lakukan itu.”
Tetapi rasa berkata:
“Aku ingin melakukannya.”
Kemudian karsa bergerak:
“Lakukan sekarang.”
Di sinilah kita mulai melihat bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang memiliki pengetahuan.
Manusia juga memiliki cipta, rasa, dan karsa.
Dan ketiganya dapat berjalan tidak searah.
Memahami Berarti Melihat Apa yang Terjadi di Dalam Diri.
Memahami bukan hanya mampu menjelaskan sesuatu.
Memahami berarti mulai melihat bagaimana sesuatu itu bekerja.
Seseorang yang mengetahui tentang kemarahan mungkin dapat menjelaskan panjang lebar mengenai penyebab dan akibatnya.
Tetapi seseorang yang memahami kemarahan mulai mampu mengenali kemarahan ketika ia muncul di dalam dirinya.
Ia melihat perubahan pikirannya.
Ia merasakan perubahan emosinya.
Ia menyadari dorongan untuk membalas.
Dan sebelum dorongan itu berubah menjadi tindakan, ia mampu melihatnya dengan lebih jernih.
Di situlah pengetahuan mulai berubah menjadi kesadaran.
Perbedaannya sangat halus, tetapi sangat penting.
Mengetahui berkata, “Saya tahu.”
Memahami berkata, “Saya melihatnya.”
Yang pertama bisa diperoleh melalui informasi.
Yang kedua membutuhkan pengamatan.
Diri Sendiri Adalah Tempat Pengujian
Ada hal menarik dalam perjalanan memahami kehidupan. Kita sering lebih mudah memahami kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri.
Ketika orang lain marah, kita melihatnya sebagai kemarahan. Ketika kita marah, kita sering menyebutnya sebagai alasan yang wajar.
Ketika orang lain keras kepala, kita menyebutnya keras kepala. Ketika kita mempertahankan pendapat, kita menyebutnya prinsip.
Ketika orang lain mengejar kepentingan sendiri, kita menyebutnya egois. Ketika kita melakukan hal yang sama, kita mempunyai seribu alasan.
Mengapa demikian?
Karena manusia tidak hanya melihat kenyataan. Manusia juga melihat melalui kepentingan, pengalaman, keinginan, dan gambaran tentang dirinya sendiri.
Inilah sebabnya memahami diri sendiri sering lebih sulit daripada mengetahui dunia.
Dunia dapat kita amati dari luar.
Diri sendiri harus kita lihat dari dalam.
Ketika Pengetahuan Berhadapan dengan Kehidupan.
Pengetahuan paling mudah terlihat ketika keadaan berjalan sesuai keinginan. Seseorang dapat terlihat sangat sabar ketika tidak ada masalah. Ia dapat terlihat sangat tenang ketika tidak ada yang mengganggunya. Ia dapat berbicara tentang kebijaksanaan ketika kehidupannya sedang baik-baik saja.
Namun bagaimana ketika keadaan berubah?
Ketika dihina?
Ketika ditolak?
Ketika kehilangan sesuatu?
Ketika keinginannya tidak terpenuhi?
Ketika orang lain mendapatkan apa yang ia inginkan?
Di situlah pengetahuan mulai diuji.
Sebab kehidupan tidak pernah hanya memberikan keadaan yang menyenangkan. Justru melalui berbagai keadaan itulah manusia dapat melihat dirinya sendiri.
Apa yang muncul ketika kita tertekan?
Apa yang muncul ketika kita takut?
Apa yang muncul ketika kita kehilangan?
Apa yang muncul ketika keinginan tidak terpenuhi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar mengetahui menuju pengenalan yang lebih dalam.
Dari Pengetahuan Menuju Kawruh.
Dalam pandangan kawruh sejati, pengetahuan tidak semestinya berhenti sebagai kumpulan informasi di dalam pikiran.
Ada perjalanan yang lebih jauh.
Manusia perlu melihat bagaimana pengetahuan itu berhubungan dengan dirinya sendiri.
Apa yang kita ketahui harus mulai diuji melalui pengalaman.
Apa yang kita alami perlu diamati.
Apa yang kita amati perlu disadari.
Dan apa yang disadari perlu diwujudkan dalam laku.
Dengan demikian, kawruh bukan sekadar sesuatu yang diketahui.
Kawruh menjadi sesuatu yang dihayati.
Di sinilah perbedaan antara mengetahui dan memahami menjadi semakin jelas.
Orang yang hanya mengetahui dapat berkata:
“Saya tahu manusia harus mengendalikan diri.”
Orang yang mulai memahami akan bertanya:
“Apa yang sebenarnya membuat saya kehilangan kendali?”
Pertanyaan kedua jauh lebih dalam.
Ia tidak lagi menunjuk kepada orang lain.
Ia menunjuk kepada diri sendiri.
Kasunyatan Tidak Selalu Sama dengan Apa yang Kita Pikirkan.
Dalam kawruh kasunyatan, persoalan ini menjadi semakin penting. Manusia sering mengira bahwa apa yang dipikirkannya adalah kenyataan. Padahal pikiran hanyalah cara manusia menangkap dan menafsirkan sesuatu.
Apa yang kita pikirkan belum tentu benar.
Apa yang kita rasakan belum tentu merupakan keadaan yang sebenarnya.
Apa yang kita inginkan juga belum tentu merupakan sesuatu yang baik bagi kehidupan.
Karena itu, memahami kasunyatan membutuhkan kejernihan dalam melihat cipta, rasa, dan karsa.
Bukan berarti pikiran harus dibuang.
Bukan pula berarti perasaan harus dimatikan.
Yang diperlukan adalah kemampuan untuk melihat semuanya dengan lebih jernih.
Ketika pikiran muncul, kita menyadarinya.
Ketika rasa bergerak, kita mengenalinya.
Ketika kehendak muncul, kita melihat arahnya.
Dengan cara demikian, manusia tidak langsung menjadi budak dari apa yang muncul di dalam dirinya.
Mengubah Cara Kita Bertindak.
Pemahaman yang benar pada akhirnya akan terlihat dalam tindakan.
Jika seseorang benar-benar memahami bahwa kemarahan dapat merusak dirinya dan orang lain, maka ia akan lebih berhati-hati ketika kemarahan muncul.
Jika seseorang memahami bahwa kehidupan selalu berubah, ia tidak akan terlalu melekat pada sesuatu seolah-olah semuanya akan berlangsung selamanya.
Jika seseorang memahami bahwa dirinya sendiri dapat keliru, ia akan lebih terbuka terhadap koreksi.
Jadi, pemahaman tidak harus selalu menghasilkan kata-kata yang indah.
Kadang-kadang pemahaman justru terlihat dalam diam.
Dalam kemampuan menahan diri.
Dalam kesediaan mengakui kesalahan.
Dalam keberanian melihat diri sendiri tanpa pembenaran.
Dalam tindakan sederhana yang dilakukan dengan kesadaran.
Di situlah pengetahuan mulai menjadi laku.
Tidak Semua yang Kita Hafal Sudah Kita Hayati.
Ada satu jebakan yang sering terjadi dalam perjalanan mencari pengetahuan.
Kita mengira bahwa semakin banyak yang kita hafal, semakin dalam pula pemahaman kita.
Padahal belum tentu.
Seseorang bisa menghafal berbagai istilah tentang kesadaran, kehidupan, batin, atau kasunyatan, tetapi belum tentu mampu melihat dirinya sendiri dengan jernih.
Bahkan terkadang semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin mudah seseorang merasa paling memahami.
Ini justru bisa menjadi jebakan baru.
Pengetahuan dapat membentuk kesombongan jika tidak disertai kesadaran.
Sebaliknya, pemahaman yang semakin dalam biasanya membuat seseorang semakin menyadari keterbatasan dirinya.
Ia tidak terburu-buru mengatakan:
“Saya sudah memahami.”
Sebab ia tahu bahwa kehidupan jauh lebih luas daripada apa yang mampu dipikirkan manusia.
Bagaimana Cara Beralih dari Mengetahui ke Memahami?
Tidak ada jalan pintas.
Tetapi ada satu langkah yang sangat sederhana:
amati apa yang terjadi dalam diri sendiri.
Ketika marah, amati kemarahan.
Ketika takut, amati ketakutan.
Ketika iri, amati rasa iri.
Ketika ingin dipuji, amati keinginan tersebut.
Tidak perlu langsung menghakimi.
Tidak perlu langsung membenarkan.
Tidak perlu pula mencari alasan.
Cukup melihat dengan jernih.
Dari pengamatan seperti itulah seseorang mulai mengenali pola dirinya.
Dan dari pengenalan itulah pemahaman dapat tumbuh.
Maka perjalanan dapat berlangsung secara perlahan:
Mengetahui → Mengamati → Menyadari → Memahami → Melakoni.
Bukan sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi mulai hidup berdasarkan apa yang telah dipahami.
Penutup: Pengetahuan yang Belum Menjadi Kehidupan.
Pada akhirnya, mengetahui bukanlah sesuatu yang salah. Justru mengetahui adalah awal yang sangat penting.
Yang perlu dipertanyakan adalah apakah kita berhenti di sana.
Kita bisa mengetahui banyak ajaran, membaca banyak buku, mendengar banyak nasihat, dan memahami banyak istilah. Tetapi selama semuanya hanya tinggal di dalam pikiran, perubahan yang sebenarnya mungkin belum terjadi.
Kawruh sejati mengajak manusia bergerak lebih dalam daripada sekadar mengetahui.
Sementara kawruh kasunyatan mengajak manusia melihat kehidupan dan dirinya dengan lebih jernih, bukan hanya melalui apa yang dipikirkan dan diyakininya.
Pada akhirnya, ukuran sebuah kawruh bukanlah seberapa banyak yang dapat kita ucapkan.
Ukuran yang lebih penting adalah:
seberapa jauh kawruh tersebut mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Sebab seseorang mungkin mengetahui jalan menuju kejernihan.
Tetapi hanya dengan berjalanlah ia benar-benar mengetahui ke mana jalan itu membawa dirinya.
Dan mungkin inilah perbedaan paling sederhana antara mengetahui dan memahami:
Mengetahui membuat kita mampu berbicara tentang kehidupan.
Memahami membuat kita mulai mengubah cara kita menjalaninya.
“Kita bisa mengetahui kebenaran tanpa pernah memahaminya; sebab pengetahuan tinggal di pikiran, sedangkan pemahaman hidup dalam laku.”
- kawruh sejati -
FAQ
Apa perbedaan mengetahui dan memahami?
Mengetahui berarti memiliki informasi tentang sesuatu, sedangkan memahami berarti mampu melihat makna dan cara kerja sesuatu secara lebih mendalam sehingga memengaruhi cara berpikir dan bertindak.
Mengapa orang yang sudah tahu masih bisa melakukan kesalahan?
Karena pengetahuan tidak otomatis mengendalikan cipta, rasa, dan karsa. Seseorang dapat mengetahui sesuatu secara intelektual tetapi belum mampu menerapkannya ketika menghadapi keadaan nyata.
Apa hubungan kawruh sejati dengan pemahaman?
Kawruh sejati tidak berhenti pada pengetahuan. Ia mengarah pada pengenalan yang lebih dalam terhadap diri dan kehidupan sehingga kawruh dapat diwujudkan dalam laku.
Apa hubungan kawruh kasunyatan dengan kehidupan sehari-hari?
Kawruh kasunyatan dapat dipahami melalui usaha melihat kehidupan sebagaimana adanya, termasuk mengamati bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja dalam diri manusia.
Apakah banyak membaca berarti sudah memahami?
Tidak selalu. Membaca memperluas pengetahuan, sedangkan pemahaman membutuhkan pengamatan, pengalaman, kesadaran, dan penerapan dalam kehidupan.
Apa tanda seseorang mulai memahami sesuatu?
Salah satu tandanya adalah perubahan dalam cara melihat, merasakan, dan bertindak. Pemahaman yang semakin dalam biasanya terlihat dalam laku, bukan hanya dalam kemampuan berbicara.


Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.