NAWA PANGAWIKANING DHIRI
(Pengetahuan tentang Hakikat Diri)
Pembuka.
Setiap manusia memiliki keinginan untuk mengenal dirinya sendiri. Namun, dalam banyak pemahaman, pengenalan diri sering kali hanya dibatasi dengan pertanyaan, “Siapakah aku sebenarnya?” Atau dengan mencari jawaban melalui angan-angan dan pertimbangan pikiran.
Menurut Kawruh Uttamopadesa, hakikat diri tidak dapat ditemukan hanya melalui pemikiran, tetapi harus lahir dari laku membersihkan diri dan menyelaraskan kehidupan dengan Tatananing Panguripan.
Oleh karena itu, Sembilan Tahap Pengenalan Diri tidak menjadikan Jatining Dhiri sebagai awal dari ajaran, melainkan sebagai buah laku yang dicapai setelah manusia menjalani kehidupan dengan teguh dan jernih.
Jatining Dhiri bukan sekadar pengetahuan yang hanya dipahami, tetapi menjadi cahaya yang tumbuh dari perubahan cipta, rasa, karsa, dan laku.
Laku pengenalan diri dimulai dengan mengamati keadaan raga, kemudian menyadari gerak indriya, cipta, rasa, dan karsa. Dari sana manusia belajar melihat buah lakunya sendiri, memahami penghalang yang menutupi kasunyatan, dan perlahan-lahan menyelaraskan seluruh tindakan dengan Tatananing Panguripan.
Apabila laku tersebut dijalani dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus, cahaya kawruh akan muncul dengan sendirinya.
Maka, Pangawikaning Dhiri bukan hanya berarti mengetahui siapa dirinya, tetapi merupakan laku menuju kaweningan batin.
Pada setiap tataran, manusia belajar meluruskan pemikiran, menjernihkan rasa, memuliakan karsa, dan membenahi laku, hingga kabut batin semakin sirna dan pandangan terhadap kasunyatan semakin terang.
Menurut Uttamopadesa, ukuran pangawikaning dhiri tidak dilihat dari banyaknya kata-kata atau luasnya pemahaman, tetapi dari perubahan pola kehidupan.
Ketika cipta telah wening, rasa telah bening, karsa telah utama, dan laku telah selaras dengan Tatananing Panguripan, pada saat itulah manusia mulai menyadari Jatining Dhiri.
Dengan demikian, Jatining Dhiri bukanlah awal dari laku, melainkan buah luhur dari laku panguripan yang bersih, jernih, dan selaras.
1. Mengenali Raga.
Pengenalan raga merupakan awal dari laku pangawikaning dhiri. Melalui raga, manusia dapat melihat dunia, melakukan pekerjaan, berhubungan dengan sesama, dan menjalani segala peristiwa dalam kehidupan.
Tanpa raga, laku panguripan di dunia tidak dapat berlangsung. Karena itu, raga harus dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya, sebab raga merupakan sarana untuk menjalani Tatananing Panguripan.
Namun, meskipun raga memiliki manfaat yang besar, raga tidak sama dengan Jatining Dhiri.
Raga tumbuh, berubah, semakin tua, dan pada akhirnya akan kembali kepada asalnya. Apa pun yang terikat dengan raga semuanya hanya bersifat sementara.
Karena itu, manusia tidak sepatutnya mengikatkan dirinya hanya kepada wujud raga, sebab keadaannya selalu berubah mengikuti perjalanan waktu.
Mengenali raga bukan hanya berarti mengetahui wujud dan kebutuhannya, tetapi juga memahami batas-batas raga.
Raga dapat merasa lelah, sakit, kuat, ataupun lemah. Keadaan tersebut merupakan bagian dari tatanan kehidupan yang harus diterima dengan bijaksana.
Manusia yang telah memahami raga tidak menjadi sombong ketika kuat dan tidak berputus asa ketika lemah, sebab ia telah memahami bahwa semuanya hanyalah perubahan keadaan.
Melalui pengenalan terhadap raga, manusia juga belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan harus dipenuhi agar raga tetap sehat dan dapat menjalani kehidupan. Sedangkan keinginan yang tidak terbatas dapat membuat manusia terikat oleh kenikmatan lahiriah dan melupakan tujuan kehidupan.
Menurut Uttamopadesa, raga bukan tempat untuk menyombongkan diri, melainkan sarana untuk menjalankan kebaikan.
Raga adalah alat, bukan penguasa.
Yang seharusnya menuntun kehidupan adalah cipta yang wening, rasa yang bening, dan karsa yang utama.
Maka, mengenali raga menjadi tataran awal pangawikaning dhiri.
Ketika manusia telah memahami bahwa raga hanya merupakan sarana panguripan, bukan Jatining Dhiri, mulai terbukalah jalan menuju pengenalan yang lebih dalam.
Dari sana laku membersihkan cipta, rasa, dan karsa dapat dijalankan hingga tumbuh keselarasan dengan Tatananing Panguripan.
2. Mengenali Indriya (indera).
Indriya merupakan pintu bagi manusia untuk menerima segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan rasa tubuh, manusia menerima berbagai tanda dari dunia.
Segala sesuatu yang masuk melalui indriya kemudian menjadi dasar bagi cipta untuk membangun pemikiran dan pemahaman.
Namun, apa yang diterima oleh indriya belum tentu menggambarkan kasunyatan secara utuh.
Indriya hanya menangkap tanda-tanda lahiriah, sedangkan makna dan jatining suatu keadaan masih membutuhkan keweningan cipta dan kebeningan rasa.
Karena itu, manusia dapat keliru apabila hanya mengandalkan indriya tanpa mawas dhiri.
Penglihatan dapat tersesat oleh sesuatu yang tampak indah.
Pendengaran dapat terpengaruh oleh kata-kata.
Penciuman dapat menimbulkan rasa suka ataupun tidak suka.
Pengecap lidah dapat menimbulkan keinginan.
Sedangkan rasa tubuh dapat membuat manusia mengejar kenikmatan atau menghindari penderitaan.
Apabila semua itu tidak disadari, indriya dapat menjadi awal keterikatan batin.
Mengenali indriya bukan berarti menghindari penglihatan, pendengaran, ataupun rasa tubuh, tetapi belajar memahami bagaimana semuanya membentuk pemikiran.
Manusia harus mampu membedakan antara apa yang benar-benar diterima oleh indriya dan apa yang telah ditambahkan oleh pertimbangan cipta.
Dengan demikian, pemikiran tidak segera menjadi pedoman sebelum diperiksa dengan kejernihan.
Menurut Uttamopadesa, indriya merupakan sarana untuk belajar, bukan penguasa kehidupan.
Indriya memberikan pintu menuju kawruh, tetapi tidak menentukan kasunyatan.
Yang menentukan adalah cipta yang bersih, rasa yang bening, dan karsa yang teguh dalam mengolah segala sesuatu yang diterima.
Maka, Mengenali Indriya merupakan laku mawas dhiri agar manusia tidak terseret hanya oleh tanda-tanda lahiriah.
Ketika indriya digunakan dengan kewaspadaan dan keweningan batin, pemikiran akan semakin jelas, pemahaman semakin dalam, dan manusia dapat mendekati kasunyatan dengan semakin selaras dengan Tatananing Panguripan.
3. Mengenali Cipta.
Cipta merupakan tempat tumbuhnya pemikiran, pertimbangan, dan angan-angan.
Segala sesuatu yang diterima melalui indriya masuk ke dalam cipta, kemudian diolah menjadi pemahaman.
Karena itu, cipta memiliki manfaat yang besar dalam menjalani kehidupan.
Namun, cipta juga dapat menjadi awal kekeliruan apabila tidak dibersihkan dan tidak diwaspadai.
Banyak manusia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada di dalam pikirannya pasti merupakan kasunyatan.
Sesungguhnya, pemikiran yang muncul dari cipta belum tentu sesuai dengan kasunyatan.
Pemikiran dapat terbentuk dari pengalaman, kebiasaan, keinginan, rasa suka, rasa benci, ataupun harapan.
Karena itu, pemikiran sering kali menjadi bayangan dari kasunyatan, bukan kasunyatan itu sendiri.
Mengenali cipta berarti belajar mengamati setiap pemikiran yang muncul. Tidak segera mempercayainya, tetapi juga tidak segera menolaknya.
Manusia belajar melihat dengan wening apakah pemikiran tersebut benar-benar sesuai dengan keadaan atau hanya merupakan buah dari angan-angan dan pertimbangan pribadi.
Dengan demikian, cipta tidak menjadi penguasa, tetapi menjadi sarana untuk memahami.
Cipta yang wening tidak dipenuhi keruwetan dan tidak terikat oleh pemikirannya sendiri.
Ketika pemikiran muncul, cipta dapat melihatnya dengan tenang dan bijaksana.
Dari keweningan tersebut, manusia semakin mampu membedakan antara kasunyatan dan tafsir terhadap kasunyatan.
Menurut Uttamopadesa, kasunyatan tidak bergantung pada pemikiran manusia. Yang harus diubah bukan kasunyatannya, tetapi cara melihat kasunyatan.
Karena itu, membersihkan cipta menjadi laku yang penting agar kabut pemikiran semakin sirna dan cahaya kawruh semakin jelas.
Maka, Mengenali Cipta merupakan laku melatih pamawas batin. Manusia belajar untuk tidak menjadi hamba pikirannya sendiri, tetapi menjadi manusia yang mampu mawas dan mengolah pemikiran dengan wening.
Ketika cipta telah bersih, pemikiran tidak lagi menutupi kasunyatan, tetapi menjadi sarana untuk mendekati Tatananing Panguripan dengan lebih jelas dan bijaksana.
4. Mengenali Rasa.
Rasa merupakan salah satu daya yang menyertai seluruh laku kehidupan. Melalui rasa, manusia dapat merasakan kegembiraan, kesedihan, ketenteraman, kekhawatiran, kesukaan, kebencian, cinta, dan berbagai gerak batin lainnya.
Rasa memberikan warna kepada panguripan dan membuat manusia dapat merasakan makna dari setiap peristiwa. Namun, rasa yang tidak diwaspadai dapat menjadi penghalang bagi pangawikaning dhiri.
Manusia sering terseret oleh rasa suka, benci, takut, ataupun kecewa sehingga pandangan terhadap kasunyatan menjadi kabur. Ketika rasa menjadi penguasa, cipta tidak dapat melihat dengan wening dan karsa sering bertindak mengikuti gerak rasa.
Mengenali rasa bukan berarti menahan atau menghindari rasa, sebab rasa merupakan bagian dari panguripan. Yang dilakukan adalah mawas terhadap setiap gerak rasa dengan tenang dan wening.
Ketika rasa bahagia muncul, manusia memahami bahwa itu hanyalah salah satu gerak batin.
Demikian pula ketika rasa sedih, benci, atau khawatir muncul, semuanya disadari tanpa segera diikuti.
Dengan mawas rasa, manusia mulai memahami bahwa rasa selalu bergerak dan berubah. Tidak ada rasa yang abadi.
Pemahaman tersebut membuat batin tidak mudah terikat oleh suatu rasa tertentu.
Rasa dipahami sebagai tanda yang harus diolah dengan kebijaksanaan, bukan sebagai penguasa yang mengendalikan laku kehidupan.
Menurut Uttamopadesa, rasa yang bening bukan berarti tidak memiliki rasa, tetapi rasa yang telah bersih dari keinginan, pamrih, dan keterikatan.
Rasa yang bening dapat menjadi pintu menuju cahaya kawruh, sebab tidak lagi menutupi kasunyatan dengan gerak batin yang tidak terawat.
Maka, Mengenali Rasa merupakan laku melatih keweningan batin. Manusia belajar memahami setiap gerak rasa tanpa terseret oleh rasa tersebut.
Ketika rasa telah bening, cipta semakin
terang, karsa semakin teguh, dan laku kehidupan semakin selaras dengan Tatananing Panguripan.
5. Mengenali Karsa.
Karsa merupakan daya yang menghidupkan kehendak dan menuntun tindakan. Setiap laku yang dilakukan manusia selalu bermula dari karsa.
Karena itu, karsa menjadi salah satu dasar yang menentukan arah panguripan. Apabila karsa teguh dan luhur, laku kehidupan akan melahirkan kebaikan.
Namun apabila karsa dipengaruhi oleh keinginan dan pamrih, laku dapat menyimpang dari Tatananing Panguripan.
Mengenali karsa berarti mawas dengan jujur apa yang sebenarnya menjadi dasar dari setiap kehendak dan tindakan.
Setiap manusia sebaiknya bertanya kepada dirinya:
“Apa yang sebenarnya menjadi dasar laku saya?”
Apakah karena kasih, kebijaksanaan, dan keselarasan?
Ataukah karena kesombongan, ketakutan, kebencian, dan keinginan yang tidak terawat?
Dengan mengamati pertanyaan tersebut, manusia mulai memahami asal-usul setiap tindakannya.
Karsa yang tidak diwaspadai dapat menyamar sebagai kebaikan. Banyak tindakan yang tampak baik, tetapi sebenarnya bermula dari pamrih atau keinginan pribadi.
Maka, yang perlu diwaspadai bukan hanya wujud tindakan, tetapi juga dasar karsa yang melahirkan tindakan tersebut.
Menurut Uttamopadesa, karsa yang utama tidak lahir dari keinginan untuk menguasai, mengungguli, atau mempertahankan kepentingan pribadi, tetapi lahir dari cipta yang wening dan rasa yang bening.
Karsa yang demikian akan menuntun manusia menuju laku yang teguh, berguna bagi sesama, dan selaras dengan Tatananing Panguripan.
Ketika manusia mampu mengenali karsanya dengan sungguh-sungguh, setiap tindakan tidak lagi sekadar menjadi kebiasaan atau jawaban spontan dari rasa, tetapi menjadi laku yang dipilih dengan kebijaksanaan.
Setiap kehendak dipertimbangkan dengan tenang agar tidak melahirkan penghalang bagi diri sendiri maupun orang lain.
Maka, Mengenali Karsa merupakan laku membersihkan sumber tindakan.
Ketika dasar karsa telah bersih dan utama, tindakan akan semakin baik, buah panguripan semakin berguna, dan kehidupan semakin selaras dengan Tatananing Panguripan.
6. Mengenali Laku.
Laku merupakan wujud nyata dari cipta, rasa, dan karsa. Apa yang ada di dalam batin akan muncul melalui kata-kata, pekerjaan, dan perilaku sehari-hari.
Maka, laku bukan hanya rangkaian pekerjaan, tetapi juga menjadi cermin keadaan diri. Melalui laku, manusia dapat melihat apa yang sebenarnya tumbuh di dalam batinnya.
Banyak manusia senang melihat dirinya berdasarkan pemikiran dan harapan.
Namun, pangawikaning dhiri yang sejati harus diukur dari buah laku. Kata-kata dapat dipilih agar terlihat baik, tetapi laku lebih jelas menunjukkan watak dan dasar karsa.
Karena itu, laku menjadi ukuran yang lebih jujur daripada ucapan.
Mengenali laku berarti mawas terhadap setiap tindakan dengan jujur dan tanpa membenarkan diri sendiri.
Manusia belajar melihat apakah tindakannya melahirkan ketenteraman atau keruwetan, kasih atau pertikaian, menjaga keselarasan atau justru merusak tatanan.
Setiap buah laku menjadi pelajaran untuk memahami keadaan cipta, rasa, dan karsa.
Menurut Uttamopadesa, laku tidak dapat dipisahkan dari kawruh.
Kawruh yang sejati selalu melahirkan laku yang baik, sedangkan laku yang baik semakin menjernihkan kawruh.
Apabila masih banyak tindakan yang menimbulkan keruwetan bagi diri sendiri dan sesama, hal itu menjadi tanda bahwa masih ada sesuatu yang perlu dibersihkan dalam batin.
Mawas laku bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk belajar dan memperbaiki laku yang belum selaras.
Setiap kesalahan dapat menjadi pelajaran, dan setiap kebaikan dapat menjadi dasar untuk meninggikan laku berikutnya.
Dengan demikian, kehidupan terus berkembang menuju kebijaksanaan.
Maka, Mengenali Laku merupakan tataran yang mengungkap kasunyatan diri melalui buah tindakan. Ketika laku telah selaras dengan cipta yang wening, rasa yang bening, dan karsa yang utama, manusia semakin jelas mengenali keadaan dirinya dan semakin dekat dengan Tatananing Panguripan.
7. Mengenali Penghalang.
Laku menuju kasunyatan tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada penghalang yang sering kali tidak terlihat oleh mata lahiriah, tetapi menyelimuti cipta, rasa, dan karsa.
Penghalang tersebut bukan berasal dari luar, tetapi tumbuh dalam batin manusia sendiri.
Apabila tidak dipahami, penghalang dapat menutupi pamawas sehingga manusia semakin jauh dari kasunyatan.
Mengenali penghalang berarti memahami segala sesuatu yang mengikat dan menghalangi laku diri.
Salah satu penghalang adalah kesombongan, yang membuat manusia merasa lebih benar dan tidak mau menerima ajaran. Ketika kesombongan menguasai batin, pintu kawruh semakin tertutup karena manusia hanya percaya kepada pemikirannya sendiri.
Penghalang lainnya adalah keterikatan.
Keterikatan dapat berupa keterikatan kepada harta, kedudukan, pujian, hubungan, ataupun pemikiran. Ketika batin terikat, manusia sulit melihat kasunyatan dengan jujur karena segala sesuatu selalu dipertimbangkan berdasarkan apa yang disukai atau dipegangnya.
Ketakutan juga dapat menjadi penghalang.
Ketakutan sering membuat manusia tidak berani melihat kasunyatan dan tidak mau memperbaiki lakunya.
Demikian pula kebencian yang menutupi rasa kasih dan membuat pamawas dipenuhi keruwetan.
Sedangkan keinginan yang tidak terawat dapat menuntun manusia mengejar pemenuhan kehendak tanpa memperhatikan Tatananing Panguripan.
Menurut Uttamopadesa, penghalang tidak harus dilawan, tetapi harus disadari dengan wening. Ketika penghalang dipahami asal-usulnya dan bagaimana geraknya, perlahan-lahan kekuatannya akan berkurang.
Yang menghilangkan penghalang bukanlah paksaan, tetapi cahaya kawruh yang tumbuh dari mawas dhiri.
Maka, Mengenali Penghalang merupakan laku membersihkan batin dari segala sesuatu yang menutupi kasunyatan.
Ketika kesombongan semakin sirna, keterikatan semakin terlepas, ketakutan semakin berkurang, kebencian berubah menjadi kasih, dan keinginan semakin terawat, cipta menjadi lebih wening, rasa lebih bening, karsa lebih teguh, dan manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan selaras dengan Tatananing Panguripan.
8. Mengenali Keselarasan.
Keselarasan merupakan keadaan ketika cipta, rasa, dan karsa tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi telah menyatu dalam satu laku yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
Jika sebelumnya manusia belajar mengenali raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, dan penghalang, pada tataran ini seluruh kawruh tersebut mulai menjadi satu kesatuan dalam kehidupan.
Mengenali keselarasan berarti belajar menjaga agar apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan tidak saling bertentangan.
Cipta yang wening harus melahirkan rasa yang bening, sedangkan rasa yang bening harus menuntun karsa yang utama.
Jika salah satunya tidak selaras, kehidupan dapat dipenuhi keruwetan dan kebahagiaannya tidak akan bertahan lama.
Keselarasan bukan berarti kehidupan tanpa keruwetan atau tanpa penghalang. Keruwetan masih dapat terjadi, tetapi manusia tidak mudah terseret olehnya.
Batin tetap teguh, cipta tetap terang, rasa tetap tenang, dan karsa tetap menuju kebaikan.
Dengan demikian, keselarasan menjadi daya yang menjaga manusia tetap berjalan di jalan yang benar.
Menurut Uttamopadesa, keselarasan bukan hanya berkaitan dengan diri sendiri. Keselarasan juga harus diwujudkan dalam hubungan dengan sesama, alam, dan seluruh panguripan.
Manusia yang telah selaras tidak hanya mengejar ketenteraman bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjaga kerukunan dan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.
Keselarasan juga membuat manusia lebih mudah menerima perubahan kehidupan.
Tidak menjadi sombong ketika mendapatkan kebahagiaan dan tidak berputus asa ketika mendapatkan keruwetan. Semuanya diterima sebagai bagian dari laku panguripan yang harus dijalani dengan kebijaksanaan.
Maka, mengenali Keselarasan merupakan tataran yang menjadikan cipta, rasa, dan karsa menyatu menjadi satu laku.
Ketika keselarasan telah tumbuh dalam batin dan diwujudkan dalam tindakan, manusia semakin dekat dengan kasunyatan dan semakin teguh menjalani kehidupan menurut Tatananing Panguripan.
9. Mengenali Jatining Dhiri.
Mengenali Jatining Dhiri merupakan tataran terakhir dari Nawa Pangawikaning Dhiri.
Tataran ini bukan awal dari laku, melainkan buah dari seluruh proses mawas dhiri yang telah dijalankan.
Setelah manusia mengenali raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, penghalang, dan keselarasan, perlahan-lahan cahaya kawruh muncul dengan sendirinya sehingga Jatining Dhiri mulai disadari.
Jatining Dhiri tidak berada dalam raga, sebab raga selalu berubah mengikuti perjalanan waktu.
Jatining Dhiri juga tidak berada dalam pemikiran, sebab pemikiran dapat berubah mengikuti kawruh dan pengalaman.
Demikian pula rasa yang selalu bergerak mengikuti keadaan.
Jika manusia mengikatkan dirinya kepada salah satunya, pandangannya terhadap kasunyatan akan selalu berubah mengikuti apa yang dipegangnya.
Menurut Uttamopadesa, Jatining Dhiri tidak ditemukan melalui angan-angan, kata-kata, ataupun pengakuan bahwa seseorang telah memahami.
Jatining Dhiri muncul ketika cipta telah wening, rasa telah bening, karsa telah utama, dan laku telah selaras dengan Tatananing Panguripan.
Karena itu, Jatining Dhiri lebih tepat dikenali melalui laku kehidupan daripada dibicarakan melalui kata-kata.
Manusia yang telah mengenali Jatining Dhiri tidak menjadi sombong karena merasa telah sampai pada akhir kawruh.
Sebaliknya, ia semakin rendah hati, semakin senang belajar, semakin tumbuh kasih, dan semakin menjaga keselarasan.
Kawruh yang sejati selalu melahirkan perubahan laku, bukan hanya perubahan pemikiran.
Mengenali Jatining Dhiri juga bukan berarti melepaskan diri dari panguripan. Sebaliknya, manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan utuh dan berguna.
Setiap tindakan dilandasi kebijaksanaan, setiap hubungan dijaga dengan kasih, dan setiap keruwetan diterima dengan hati yang tenang.
Maka, Mengenali Jatining Dhiri bukanlah akhir dari belajar, tetapi awal dari laku kehidupan yang semakin wening.
Ketika manusia telah selaras dengan Kasunyatan dan Tatananing Panguripan, Jatining Dhiri tidak lagi menjadi sesuatu yang dicari, tetapi menjadi cahaya yang menerangi setiap laku kehidupan.
Penutup.
Nawa Pangawikaning Dhiri merupakan laku mawas dhiri yang tersusun dari pengenalan terhadap raga hingga mengenali Jatining Dhiri.
Laku ini bukan untuk mengejar kawruh demi menambah pemikiran semata, tetapi diarahkan kepada perubahan cipta, rasa, karsa, dan laku kehidupan.
Setiap tataran saling mendukung sehingga manusia semakin jelas mengenali keadaan dirinya sendiri.
Jatining Dhiri tidak tiba-tiba ditemukan melalui angan-angan ataupun ucapan.
Jatining Dhiri muncul perlahan ketika kabut batin semakin sirna, cipta semakin wening, rasa semakin bening, karsa semakin utama, dan laku semakin selaras dengan Tatananing Panguripan.
Maka, pangawikaning dhiri bukan sekadar persoalan mengetahui siapa dirinya, tetapi persoalan menjadi pribadi yang semakin selaras dengan kasunyatan.
Menurut Uttamopadesa, buah pangawikaning dhiri tidak dilihat dari luasnya pemahaman, tetapi dari perubahan kehidupan.
Manusia yang sungguh-sungguh mengenali dirinya akan semakin rendah hati, semakin tumbuh kasih, semakin bijaksana, dan semakin menjaga keselarasan terhadap sesama dan alam.
Itulah tanda bahwa cahaya kawruh telah menjadi laku.
Karena itu, Nawa Pangawikaning Dhiri bukan sekadar piwulang untuk dibaca, tetapi tuntunan untuk dijalani.
Ketika seluruh tataran tersebut menjadi bagian dari kebiasaan kehidupan sehari-hari, manusia akan semakin dekat dengan kasunyatan dan semakin teguh menjalani kehidupan yang baik, bersih, wening, dan selaras.
Ketika manusia telah selaras dengan Kasunyatan dan Tatananing Panguripan, Jatining Dhiri tidak lagi menjadi sesuatu yang dicari, tetapi menjadi cahaya yang menerangi setiap laku kehidupan.
- kawruh sejati -
FAQ
1. Apa itu Nawa Pangawikaning Dhiri?
Nawa Pangawikaning Dhiri adalah sembilan tahap pengenalan diri dalam Kawruh Uttamopadesa, yang dimulai dari mengenali raga hingga mengenali Jatining Dhiri.
2. Apa tujuan Nawa Pangawikaning Dhiri?
Tujuannya bukan sekadar mengetahui siapa diri sendiri, tetapi menjalani laku untuk membersihkan cipta, menjernihkan rasa, memuliakan karsa, dan menyelaraskan kehidupan dengan Tatananing Panguripan.
3. Apa saja sembilan tahap Nawa Pangawikaning Dhiri?
Sembilan tahap tersebut adalah mengenali raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, penghalang, keselarasan, dan Jatining Dhiri.
4. Mengapa pengenalan diri dimulai dari raga?
Karena raga merupakan sarana manusia untuk menjalani kehidupan. Dengan mengenali raga, manusia belajar memahami fungsi sekaligus keterbatasannya dan tidak menganggap raga sebagai Jatining Dhiri.
5. Mengapa indriya perlu dikenali?
Indriya merupakan pintu untuk menerima berbagai tanda dari dunia. Namun, apa yang diterima indriya belum tentu menggambarkan kasunyatan secara utuh sehingga perlu diolah dengan cipta yang wening dan rasa yang bening.
6. Mengapa cipta harus dibersihkan?
Karena pemikiran belum tentu sama dengan kasunyatan. Cipta dapat dipengaruhi pengalaman, kebiasaan, keinginan, rasa suka, rasa benci, dan harapan.
7. Apa yang dimaksud rasa yang bening?
Rasa yang bening bukan berarti tidak memiliki rasa, tetapi rasa yang semakin bersih dari keinginan, pamrih, dan keterikatan sehingga tidak menutupi kasunyatan.
8. Mengapa karsa penting dalam pengenalan diri?
Karsa merupakan daya yang menghidupkan kehendak dan menuntun tindakan. Dengan mengenali karsa, manusia dapat melihat dasar sebenarnya dari setiap tindakan, termasuk apakah tindakan tersebut lahir dari kasih dan kebijaksanaan atau dari pamrih dan keinginan.
9. Mengapa laku menjadi ukuran pengenalan diri?
Karena laku merupakan wujud nyata dari cipta, rasa, dan karsa. Pemahaman dapat diucapkan dengan kata-kata, tetapi laku menunjukkan keadaan diri secara lebih nyata.
10. Apa saja yang menjadi penghalang dalam mengenali diri?
Beberapa penghalang yang dibahas adalah kesombongan, keterikatan, ketakutan, kebencian, dan keinginan yang tidak terawat. Penghalang tersebut dapat menutupi pamawas terhadap kasunyatan.
11. Apa yang dimaksud keselarasan dalam Nawa Pangawikaning Dhiri?
Keselarasan adalah keadaan ketika cipta, rasa, dan karsa tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menyatu dalam laku yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
12. Apa yang dimaksud Jatining Dhiri?
Jatining Dhiri merupakan tataran terakhir Nawa Pangawikaning Dhiri yang mulai disadari setelah manusia menjalani proses mawas dhiri dan membersihkan cipta, rasa, karsa, serta menyelaraskan laku kehidupannya.
13. Apakah Jatining Dhiri dapat ditemukan hanya melalui pikiran?
Tidak. Menurut artikel ini, Jatining Dhiri bukan hasil angan-angan, kata-kata, atau pengakuan bahwa seseorang telah memahami. Jatining Dhiri disadari melalui laku kehidupan yang semakin wening dan selaras.
14. Apakah Nawa Pangawikaning Dhiri hanya untuk dipelajari?
Tidak. Nawa Pangawikaning Dhiri merupakan tuntunan untuk dijalani. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya pengetahuan, melainkan perubahan kehidupan, cipta, rasa, karsa, dan laku.
1. Apa itu Nawa Pangawikaning Dhiri?
Nawa Pangawikaning Dhiri adalah sembilan tahap pengenalan diri dalam Kawruh Uttamopadesa, yang dimulai dari mengenali raga hingga mengenali Jatining Dhiri.
2. Apa tujuan Nawa Pangawikaning Dhiri?
Tujuannya bukan sekadar mengetahui siapa diri sendiri, tetapi menjalani laku untuk membersihkan cipta, menjernihkan rasa, memuliakan karsa, dan menyelaraskan kehidupan dengan Tatananing Panguripan.
3. Apa saja sembilan tahap Nawa Pangawikaning Dhiri?
Sembilan tahap tersebut adalah mengenali raga, indriya, cipta, rasa, karsa, laku, penghalang, keselarasan, dan Jatining Dhiri.
4. Mengapa pengenalan diri dimulai dari raga?
Karena raga merupakan sarana manusia untuk menjalani kehidupan. Dengan mengenali raga, manusia belajar memahami fungsi sekaligus keterbatasannya dan tidak menganggap raga sebagai Jatining Dhiri.
5. Mengapa indriya perlu dikenali?
Indriya merupakan pintu untuk menerima berbagai tanda dari dunia. Namun, apa yang diterima indriya belum tentu menggambarkan kasunyatan secara utuh sehingga perlu diolah dengan cipta yang wening dan rasa yang bening.
6. Mengapa cipta harus dibersihkan?
Karena pemikiran belum tentu sama dengan kasunyatan. Cipta dapat dipengaruhi pengalaman, kebiasaan, keinginan, rasa suka, rasa benci, dan harapan.
7. Apa yang dimaksud rasa yang bening?
Rasa yang bening bukan berarti tidak memiliki rasa, tetapi rasa yang semakin bersih dari keinginan, pamrih, dan keterikatan sehingga tidak menutupi kasunyatan.
8. Mengapa karsa penting dalam pengenalan diri?
Karsa merupakan daya yang menghidupkan kehendak dan menuntun tindakan. Dengan mengenali karsa, manusia dapat melihat dasar sebenarnya dari setiap tindakan, termasuk apakah tindakan tersebut lahir dari kasih dan kebijaksanaan atau dari pamrih dan keinginan.
9. Mengapa laku menjadi ukuran pengenalan diri?
Karena laku merupakan wujud nyata dari cipta, rasa, dan karsa. Pemahaman dapat diucapkan dengan kata-kata, tetapi laku menunjukkan keadaan diri secara lebih nyata.
10. Apa saja yang menjadi penghalang dalam mengenali diri?
Beberapa penghalang yang dibahas adalah kesombongan, keterikatan, ketakutan, kebencian, dan keinginan yang tidak terawat. Penghalang tersebut dapat menutupi pamawas terhadap kasunyatan.
11. Apa yang dimaksud keselarasan dalam Nawa Pangawikaning Dhiri?
Keselarasan adalah keadaan ketika cipta, rasa, dan karsa tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menyatu dalam laku yang selaras dengan Tatananing Panguripan.
12. Apa yang dimaksud Jatining Dhiri?
Jatining Dhiri merupakan tataran terakhir Nawa Pangawikaning Dhiri yang mulai disadari setelah manusia menjalani proses mawas dhiri dan membersihkan cipta, rasa, karsa, serta menyelaraskan laku kehidupannya.
13. Apakah Jatining Dhiri dapat ditemukan hanya melalui pikiran?
Tidak. Menurut artikel ini, Jatining Dhiri bukan hasil angan-angan, kata-kata, atau pengakuan bahwa seseorang telah memahami. Jatining Dhiri disadari melalui laku kehidupan yang semakin wening dan selaras.
14. Apakah Nawa Pangawikaning Dhiri hanya untuk dipelajari?
Tidak. Nawa Pangawikaning Dhiri merupakan tuntunan untuk dijalani. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya pengetahuan, melainkan perubahan kehidupan, cipta, rasa, karsa, dan laku.


Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.