PRAMANA KAWRUH UTTAMOPADESA
Mangerteni Kawruh, Tataran Pertama dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati
Penjelasan awal ... BUKA
Seseorang dapat merasa telah memahami sesuatu hanya karena telah mampu menjelaskannya dengan lancar.
Padahal kemampuan menjelaskan tidak selalu menunjukkan kedalaman pemahamannya.
Kadang-kadang seseorang baru mengetahui bahwa pemahamannya masih dangkal ketika menghadapi persoalan nyata.
- Kawruh Uttamopadesa -
Pengertian Pramana Kawruh.
Pramana Kawruh merupakan tataran pertama dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati, yaitu tahap ketika seseorang mulai benar-benar mangerteni kawruh, memahami pengetahuan yang diterimanya dengan kesadaran, bukan sekadar mengetahui atau mengingatnya.
Kata Pramana dalam kerangka Nawa Pramana Kawruh Sejati menunjuk pada ukuran atau jalan yang digunakan untuk melihat sejauh mana suatu kawruh telah masuk dan berkembang di dalam diri.
Sementara kawruh berarti pengetahuan, pengertian, atau pemahaman yang diperoleh seseorang melalui proses belajar, mengamati, mengalami, dan merenungkan kehidupan.
Karena itu, Pramana Kawruh tidak dapat dipahami hanya sebagai kegiatan memasukkan informasi ke dalam ingatan.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal, mampu menjelaskan berbagai istilah, bahkan mampu menghafalkan berbagai ajaran, tetapi keadaan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia telah mangerteni kawruh.
Memahami kawruh berarti mulai mengetahui apa yang dimaksud, mengapa hal tersebut demikian, bagaimana hubungannya dengan kehidupan, serta apa akibatnya apabila kawruh tersebut benar-benar diterapkan dalam diri.
Dengan demikian, tataran pertama ini menjadi dasar bagi seluruh perjalanan berikutnya. Tanpa pemahaman yang cukup, tataran-tataran selanjutnya mudah kehilangan arah.
Mengetahui Tidak Sama dengan Memahami.
Perbedaan antara mengetahui dan memahami merupakan hal penting dalam Pramana Kawruh.
Mengetahui dapat terjadi hanya karena seseorang mendengar atau membaca sesuatu. Misalnya, seseorang mengetahui bahwa ketenangan merupakan keadaan batin yang baik. Ia dapat mengucapkan kalimat tersebut dan bahkan menjelaskannya kepada orang lain.
Namun, ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, pikirannya mudah dikuasai kemarahan, rasa kecewa, atau ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, pengetahuan tentang ketenangan ternyata belum menjadi pemahaman yang mendalam.
Memahami berarti seseorang mulai melihat makna dari pengetahuan tersebut dan mengetahui hubungan antara pengetahuan itu dengan dirinya sendiri.
Ia bukan hanya tahu bahwa ketenangan itu baik, tetapi mulai mengerti mengapa ketenangan diperlukan, bagaimana gejolak batin muncul, bagaimana pikiran dapat memperbesar suatu persoalan, serta bagaimana keadaan cipta mempengaruhi keputusan dan tindakan.
Jadi, mengetahui berada pada tingkat menerima informasi, sedangkan memahami mulai memasuki tingkat melihat makna dan hubungan.
Perbedaan inilah yang membuat Pramana Kawruh menjadi penting dalam perjalanan kawruh sejati.
Mangerteni Kawruh sebagai Proses.
Mangerteni bukan keadaan yang muncul secara seketika. Ia merupakan proses.
Ketika menerima suatu pengetahuan, seseorang perlu memberikan ruang kepada cipta untuk mengamati, memikirkan, mempertanyakan, dan menghubungkan pengetahuan tersebut dengan pengalaman yang telah dimilikinya.
Pada tahap ini seseorang tidak seharusnya terburu-buru mengatakan bahwa suatu kawruh benar hanya karena kawruh tersebut berasal dari orang yang dianggap memiliki kewibawaan.
Demikian pula seseorang tidak seharusnya menolaknya hanya karena kawruh tersebut berbeda dari apa yang selama ini diketahuinya.
Kawruh perlu dipahami terlebih dahulu.
Sikap tersebut membuat proses belajar menjadi lebih jernih. Seseorang tidak sekadar menjadi pengikut suatu gagasan, tetapi mulai berusaha melihat isi dan maknanya.
Karena itu, Pramana Kawruh juga berkaitan dengan kejernihan dalam menerima pengetahuan.
Cipta yang terlalu penuh dengan prasangka akan sulit melihat sesuatu sebagaimana adanya. Pikiran yang telah terlebih dahulu menentukan bahwa dirinya benar akan cenderung mencari pembenaran, bukan pemahaman.
Mangerteni membutuhkan kesediaan untuk melihat dan memahami sebelum menilai.
Hubungan Pramana Kawruh dengan Cipta.
Cipta memiliki kedudukan penting dalam tataran pertama ini karena pemahaman berlangsung melalui proses berpikir dan melihat.
Namun, cipta bukan hanya tempat menyimpan berbagai informasi. Cipta juga merupakan ruang tempat seseorang membentuk pengertian terhadap apa yang diterimanya.
Ketika suatu kawruh masuk ke dalam cipta, kawruh tersebut dapat diterima secara berbeda oleh setiap orang. Pengalaman masa lalu, kebiasaan berpikir, kepentingan, ketakutan, dan keinginan dapat mempengaruhi cara seseorang memahami sesuatu.
Karena itu, seseorang perlu mengenali keadaan ciptanya sendiri.
Jika cipta dipenuhi oleh prasangka, pemahaman dapat menjadi kabur.
Jika cipta terlalu dikuasai keinginan untuk membenarkan diri, seseorang dapat memaknai suatu kawruh sesuai dengan kepentingannya sendiri.
Pramana Kawruh dengan demikian bukan hanya persoalan mempelajari pengetahuan, tetapi juga mulai menyadari bagaimana diri sendiri memahami pengetahuan tersebut.
Kesadaran ini menjadi jembatan menuju tataran kedua, yaitu Pramana Cipta — Mirsani Kawruh ing Cipta.
Memahami Makna, Bukan Hanya Kata.
Salah satu kesalahan dalam menerima kawruh adalah berhenti pada kata-kata atau teks yang terbaca.
Kata hanyalah wadah. Makna berada lebih dalam daripada kata yang digunakan untuk menyampaikannya.
Misalnya, suatu ajaran mengatakan bahwa manusia perlu mengendalikan diri. Jika hanya berhenti pada kata mengendalikan, seseorang mungkin mengartikannya sebagai menekan semua perasaan dan tidak boleh menunjukkan emosi.
Padahal, pemahaman yang lebih dalam dapat membawa seseorang untuk melihat bahwa mengendalikan diri berarti tidak membiarkan dorongan sesaat menentukan seluruh tindakan.
Karena itu, mangerteni kawruh membutuhkan kemampuan untuk melihat konteks, hubungan, tujuan, dan akibat.
Seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya dimaksud oleh kawruh ini? Dalam keadaan seperti apa kawruh tersebut berlaku? Apa hubungannya dengan kehidupan? Apa yang berubah apabila kawruh ini benar-benar dipahami?
Pertanyaan semacam itu membantu pengetahuan bergerak dari sekadar kata menuju pengertian.
Tidak Tergesa-gesa Menganggap Diri Sudah Paham.
Pramana Kawruh juga mengajarkan kerendahan hati dalam belajar.
Seseorang dapat merasa telah memahami sesuatu hanya karena telah mampu menjelaskannya dengan lancar. Padahal kemampuan menjelaskan belum selalu menunjukkan kedalaman pemahaman.
Kadang-kadang seseorang baru mengetahui bahwa pemahamannya masih dangkal ketika menghadapi persoalan nyata.
Misalnya, seseorang memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Ia dapat menjelaskan hubungan sebab dan akibat dengan baik. Namun ketika menghadapi suatu masalah yang disebabkan oleh tindakannya sendiri, ia justru menyalahkan orang lain.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai sebab dan akibat belum sepenuhnya dipahami dalam hubungannya dengan dirinya sendiri.
Karena itu, mangerteni memiliki sifat terbuka. Semakin seseorang mendalami kawruh, semakin ia menyadari bahwa masih terdapat bagian-bagian yang perlu dipahami.
Kesadaran semacam ini bukan kelemahan, tetapi merupakan tanda bahwa proses belajar berlangsung secara jujur.
Dari Kawruh Menuju Kesadaran Diri.
Tujuan Pramana Kawruh bukan membuat seseorang sekadar menjadi lebih banyak tahu.
Kawruh yang benar-benar dipahami mulai membawa seseorang untuk melihat dirinya sendiri. Ketika seseorang memahami tentang cipta, ia mulai memperhatikan pikirannya. Ketika memahami tentang rasa, ia mulai menyadari keadaan batinnya. Ketika memahami tentang budi, ia mulai melihat cara dirinya menimbang sesuatu. Ketika memahami tentang karsa, ia mulai memperhatikan dorongan yang menggerakkan tindakannya.
Dengan demikian, kawruh perlahan menjadi cermin bagi dirinya sendiri.
Inilah yang membuat Nawa Pramana Kawruh Sejati berbeda dari sekadar pengumpulan pengetahuan. Yang menjadi perhatian bukan hanya seberapa banyak seseorang mengetahui, melainkan seberapa jauh pengetahuan tersebut membuka kesadaran terhadap dirinya sendiri.
Ciri-Ciri Pramana Kawruh.
Seseorang yang mulai memasuki tataran Pramana Kawruh dapat menunjukkan beberapa tanda.
Pertama, ia tidak mudah menerima suatu pengetahuan hanya karena mendengarnya dari orang lain.
Kedua, ia berusaha memahami makna sebelum memberikan penilaian.
Ketiga, ia mulai melihat hubungan antara pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Keempat, ia menyadari bahwa pemahamannya sendiri dapat dipengaruhi oleh pengalaman, keinginan, dan prasangka.
Kelima, ia tidak merasa malu untuk mengakui bahwa masih ada bagian yang belum dipahami.
Keenam, ia mulai menggunakan kawruh untuk melihat keadaan dirinya sendiri, bukan hanya untuk menilai orang lain.
Tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa kawruh mulai bergerak dari luar menuju ke dalam diri.
Pramana Kawruh sebagai Dasar Delapan Tataran Berikutnya.
Pramana Kawruh merupakan awal dari perjalanan, bukan tujuan akhir.
Setelah seseorang memahami kawruh, ia perlu melihat bagaimana kawruh tersebut bekerja di dalam cipta. Inilah Pramana Cipta.
Setelah itu, kawruh perlu dirasakan melalui pengalaman batin dalam Pramana Rasa.
Kemudian ditimbang melalui Pramana Budi, dikehendaki melalui Pramana Karsa, dan dijalankan melalui Pramana Laku.
Setelah kawruh dijalankan, hasilnya perlu diamati melalui Pramana Pamawas. Apabila kawruh semakin menyatu dengan diri, seseorang kemudian memasuki tahapan Pramana Jati, hingga akhirnya kawruh benar-benar tampak dalam kehidupan melalui Pramana Wujud.
Urutan tersebut menunjukkan bahwa kawruh sejati tidak berhenti hanya pada sebuah pemahaman.
Kawruh dimulai dari diketahui, dipahami, dilihat dalam cipta, dirasakan, ditimbang, diniatkan, dijalankan, diamati hasilnya, disatukan dengan diri, kemudian diwujudkan dalam kehidupan.
Karena itu, Pramana Kawruh merupakan pintu pertama dari perjalanan panjang tersebut.
Kesimpulan.
Pramana Kawruh — Mangerteni Kawruh adalah tataran ketika seseorang mulai memahami pengetahuan secara sadar dan mendalam. Ia bukan sekadar mengetahui istilah, mengingat ajaran, atau mampu mengulang perkataan orang lain, melainkan mulai melihat makna, hubungan, tujuan, dan akibat dari kawruh yang diterimanya.
Pada tahap ini, cipta mulai dibuka untuk menerima kawruh dengan lebih jernih. Seseorang belajar untuk tidak tergesa-gesa menerima maupun menolak, tetapi berusaha memahami terlebih dahulu.
Kawruh yang telah dimengerti kemudian dapat digunakan untuk melihat keadaan diri. Dari sinilah perjalanan menuju tataran-tataran berikutnya dimulai.
Dengan demikian, Pramana Kawruh merupakan dasar dari Nawa Pramana Kawruh Sejati karena tanpa mangerteni kawruh, proses pendalaman berikutnya belum memiliki landasan yang cukup.
FAQ Pramana Kawruh Uttamopadesa.
Apa yang dimaksud Pramana Kawruh?
Pramana Kawruh adalah tataran pertama dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati, yaitu proses memahami kawruh secara sadar sehingga seseorang mengetahui makna, hubungan, dan penerapannya dalam kehidupan.
Apa perbedaan mengetahui dan mangerteni kawruh?
Mengetahui dapat berarti sekadar menerima informasi, sedangkan mangerteni berarti memahami makna dan hubungan dari pengetahuan tersebut sehingga mulai dapat digunakan untuk melihat kehidupan dan diri sendiri.
Mengapa Pramana Kawruh menjadi tataran pertama?
Karena semua proses pendalaman kawruh membutuhkan dasar pemahaman. Seseorang tidak dapat menghayati, menimbang, menjalankan, atau mewujudkan sesuatu yang belum cukup dipahaminya.
Apakah orang yang mampu menjelaskan suatu kawruh berarti sudah memahami?
Belum tentu. Kemampuan menjelaskan menunjukkan adanya pengetahuan, tetapi kedalaman pemahaman akan terlihat dari kemampuan melihat makna, hubungan, dan penerapannya dalam kehidupan.
Apa hubungan Pramana Kawruh dengan cipta?
Cipta menjadi ruang awal bagi kawruh untuk dipahami. Karena itu, keadaan cipta sangat mempengaruhi bagaimana seseorang menerima dan memaknai suatu pengetahuan.
Mengapa seseorang perlu berhati-hati dalam menerima kawruh?
Karena pemahaman dapat dipengaruhi oleh prasangka, pengalaman, keinginan, kebiasaan, dan kepentingan pribadi. Sikap hati-hati membantu seseorang memahami kawruh secara lebih jernih.
Apakah Pramana Kawruh sudah termasuk pengamalan?
Belum sepenuhnya. Pramana Kawruh terutama berkaitan dengan pemahaman. Pengamalan kawruh secara nyata dibahas lebih lanjut dalam Pramana Laku.
Apa tahap setelah Pramana Kawruh?
Tahap berikutnya adalah Pramana Cipta — Mirsani Kawruh ing Cipta, yaitu melihat dan mengamati bagaimana kawruh berhubungan dengan keadaan cipta atau pikiran di dalam diri.
Apa tujuan utama Pramana Kawruh?
Tujuan utamanya adalah membangun pemahaman yang cukup jernih agar kawruh tidak berhenti sebagai informasi, tetapi dapat menjadi dasar bagi proses pendalaman dan perubahan diri.

Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.