NAWA PRAMANA KAWRUH SEJATI

nawa pramana kawruh sejati
Sembilan Tataran Perkembangan Kawruh di dalam Dhiri
Penjelasan awal ... BUKA

Kata Nawa berarti sembilan, sedangkan Pramana berarti ukuran, jalan, atau otoritas pengetahuan yang valid.
Dalam filsafat spiritual, Pramana digunakan sebagai pedoman agar para pencari pencerahan spiritual tidak tersesat oleh ilusi duniawi dan mampu melihat esensi diri serta keTuhanan dengan lebih jernih.

- Kawruh Uttamopadesa -

Nawa Pramana Kawruh Sejati merupakan kerangka untuk memahami bagaimana sebuah kawruh berkembang d
i dalam diri manusia, mulai dari sekadar diketahui hingga benar-benar menjadi bagian dari kehidupan.

Kawruh tidak berhenti pada kemampuan seseorang untuk mengingat, menjelaskan, atau mengucapkan suatu pengetahuan.

Kawruh menjadi berarti ketika apa yang dipahami mampu mempengaruhi cara berpikir, cara merasakan, cara menimbang, kehendak, tindakan, hingga akhirnya tampak dalam perilaku sehari-hari.

Dalam perjalanan kehidupan, manusia menerima berbagai macam pengetahuan. Sebagian hanya lewat dan kemudian dilupakan, sebagian tersimpan dalam ingatan, sedangkan sebagian lainnya mampu mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan kehidupan di sekitarnya.

Perbedaan tersebut tidak semata-mata terletak pada isi kawruhnya, tetapi juga pada bagaimana kawruh itu diterima, dipahami, dihayati, diuji, dan diwujudkan dalam kehidupan.

Karena itu, Nawa Pramana Kawruh Sejati menggambarkan sembilan tataran yang saling berhubungan. Setiap tataran merupakan bagian dari proses pendalaman. Seseorang tidak cukup berhenti pada pemahaman, sebab pemahaman perlu masuk ke dalam cipta, dirasakan dalam batin, ditimbang dengan budi, diwujudkan melalui karsa dan laku, kemudian dilihat kebenarannya melalui pengalaman hidup.

1. Pramana Kawruh — Mangerteni Kawruh.
Tataran pertama adalah Pramana Kawruh, yaitu memahami kawruh. Segala perjalanan pengetahuan bermula dari kesediaan untuk menerima dan memahami sesuatu secara sungguh-sungguh.

Memahami bukan sekadar mendengar atau menghafalkan kata-kata. Seseorang perlu mengetahui maksud, hubungan, dan makna dari apa yang dipelajarinya. Pemahaman juga membutuhkan sikap tidak tergesa-gesa dalam menerima suatu pandangan sebagai kebenaran.

Pada tataran ini, cipta mulai dibuka agar mampu menerima pengetahuan dengan jernih. Apa yang didengar perlu dipikirkan, dipelajari, dan dipahami sesuai maknanya. Dengan demikian, kawruh memiliki dasar yang cukup sebelum dibawa menuju tahap berikutnya.

2. Pramana Cipta — Mirsani Kawruh ing Cipta.
Setelah memahami kawruh, seseorang mulai melihat hubungan kawruh tersebut dengan keadaan cipta. Inilah Pramana Cipta.

Kawruh tidak lagi berada sebagai pengetahuan yang terpisah dari diri. Ia mulai digunakan untuk melihat bagaimana pikiran bekerja. Seseorang mulai memperhatikan pamawas, dugaan, anggapan, dan berbagai pikiran yang muncul di dalam dirinya.

Pada tahap ini, kawruh menjadi semacam penerang untuk melihat keadaan batin sendiri. Seseorang dapat mulai menyadari bahwa tidak semua yang muncul dalam pikirannya merupakan kenyataan. Ada pikiran yang lahir dari pengalaman, ketakutan, keinginan, kebiasaan, ataupun kepentingan pribadi.

Kesadaran tersebut menjadi langkah penting karena seseorang mulai mampu membedakan antara apa yang dipikirkan dan apa yang sebenarnya terjadi.

3. Pramana Rasa — Ngraosake Kawruh
Tataran ketiga adalah Pramana Rasa, yaitu merasakan kawruh dalam batin.

Pengetahuan yang hanya dipahami oleh cipta belum tentu memberikan perubahan. Kawruh perlu dirasakan sehingga maknanya menjadi lebih dekat dengan kehidupan seseorang.

Pada tahap ini, seseorang mulai mengalami sendiri pengaruh dari pemahaman yang telah diterimanya.

Misalnya, seseorang memahami pentingnya ketenangan. Pemahaman tersebut kemudian digunakan ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Dari pengalaman itu, ia mulai merasakan perbedaan antara batin yang terbawa gejolak dan batin yang mampu tetap tenang.

Dengan demikian, kawruh mulai memiliki kedalaman. Ia tidak hanya menjadi sesuatu yang diketahui, tetapi sesuatu yang dialami.

4. Pramana Budi — Nimbang Kawruh.
Setelah dipahami dan dirasakan, kawruh perlu ditimbang melalui Pramana Budi.

Tidak semua pengetahuan yang diterima manusia harus langsung diterapkan. Seseorang perlu memiliki kemampuan untuk menimbang, memilah, dan melihat akibat dari apa yang akan dilakukannya.

Budi berperan dalam membedakan mana yang selaras dengan kebaikan dan mana yang justru membawa penyimpangan.

Tataran ini juga mengajarkan kehati-hatian terhadap pamrih pribadi. Sesuatu yang tampak benar belum tentu benar apabila penilaiannya hanya didasarkan pada kepentingan diri sendiri.

Dengan budi yang tertata, seseorang tidak mudah terbawa oleh keinginan, kemarahan, rasa takut, ataupun dorongan untuk membenarkan dirinya sendiri. Kawruh mulai memperoleh tempat yang lebih matang karena tidak hanya diterima, tetapi juga dipertimbangkan.

5. Pramana Karsa — Niyatake Kawruh.
Kawruh yang telah dipahami, dirasakan, dan ditimbang kemudian mulai menggerakkan karsa. Inilah Pramana Karsa, yaitu meniatkan kawruh.

Pada tahap ini, seseorang mulai memiliki kehendak untuk menjadikan apa yang dipahaminya sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Kawruh tidak lagi berhenti sebagai pemikiran, tetapi mulai menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki diri.

Niat tersebut bukan sekadar keinginan yang muncul sesaat. Ia perlu menjadi dorongan yang cukup kuat untuk mengubah kebiasaan dan mengarahkan tindakan.

Seseorang yang memahami pentingnya kejujuran, misalnya, mulai memiliki kehendak untuk berlaku jujur meskipun keadaan tertentu membuat kebohongan terasa lebih mudah. Di sinilah kawruh mulai memiliki daya yang nyata terhadap kehidupan.

6. Pramana Laku — Nglakoni Kawruh.
Tataran keenam adalah Pramana Laku, yaitu menjalankan kawruh.

Inilah tahap ketika pengetahuan mulai diuji melalui kehidupan sehari-hari. Apa yang dipahami dan diniatkan mulai diwujudkan melalui ucapan, pilihan, kebiasaan, dan tindakan.

Kawruh yang belum menjadi laku masih berada pada tingkat gagasan. Sebaliknya, kawruh yang benar-benar dijalani mulai menunjukkan pengaruhnya terhadap perilaku.

Pada tahap ini, seseorang akan berhadapan dengan berbagai keadaan yang tidak selalu mudah. Justru melalui keadaan tersebut dapat diketahui seberapa kuat pemahaman dan niat yang telah dibangun.

Ketika seseorang mampu tetap menjalankan apa yang diyakininya benar meskipun menghadapi kesulitan, kawruh mulai tumbuh menjadi bagian dari kehidupan.

7. Pramana Pamawas — Nyumurupi Kasunyataning Kawruh Lumantar Laku.
Setelah kawruh dijalankan, seseorang perlu melihat hasilnya. Tataran ketujuh disebut Pramana Pamawas.

Pada tahap ini, seseorang mengamati apakah kawruh yang dijalani benar-benar membawa perubahan dalam dirinya. Ia melihat keadaan cipta, rasa, budi, dan karsa setelah melalui berbagai pengalaman.

Pamawas menjadi penting karena seseorang tidak hanya percaya bahwa dirinya telah berubah, tetapi mampu melihat perubahan tersebut melalui kehidupan nyata.

Apabila seseorang berlatih menata cipta, misalnya, ia dapat melihat apakah dirinya menjadi lebih jernih ketika menghadapi persoalan.

Apabila ia belajar mengendalikan rasa, ia dapat mengamati apakah dirinya menjadi lebih tenang ketika menghadapi perbedaan.

Dengan demikian, kawruh memperoleh pembuktian melalui laku dan pengalaman, bukan hanya melalui perkataan.

8. Pramana Jati — Nyawijikake Kawruh lan Dhiri.
Tataran kedelapan adalah Pramana Jati, yaitu menyatukan kawruh dengan diri.

Pada tahap ini, kawruh mulai menjadi bagian dari jati diri. Seseorang tidak lagi merasa sedang menjalankan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Apa yang dahulu dipelajari perlahan menjadi cara alami dalam berpikir, merasakan, menimbang, dan bertindak.

Laku yang baik tidak lagi dilakukan semata-mata agar dipuji atau dianggap baik. Ia muncul karena telah tumbuh menjadi bagian dari kesadaran diri.

Inilah salah satu perbedaan antara mengetahui kebaikan dan menjadi manusia yang hidup dalam kebaikan. Orang yang hanya mengetahui masih membutuhkan dorongan dari luar, sedangkan orang yang telah menyatukan kawruh dengan dirinya mulai memiliki tuntunan dari dalam.

9. Pramana Wujud — Ngawujudake Kawruh Lumantar Laku Urip.
Tataran pungkasan yaiku Pramana Wujud, yaitu mewujudkan kawruh melalui seluruh kehidupan.

Pada tahap ini, kawruh tidak perlu banyak dijelaskan karena keberadaannya dapat dilihat dari perilaku. Cipta yang semakin jernih, rasa yang semakin tenteram, budi yang semakin tertata, dan karsa yang semakin utama akan terlihat melalui cara seseorang berbicara, bersikap, berhubungan dengan sesama, serta menghadapi berbagai keadaan.

Kawruh telah menjadi wujud kehidupan.

Seseorang tidak perlu mengatakan bahwa dirinya telah memahami kesederhanaan apabila kesederhanaan telah tampak dalam cara hidupnya.

Tidak perlu banyak berbicara tentang ketenangan apabila ketenangan terlihat dalam cara menghadapi persoalan.

Tidak perlu menyatakan dirinya telah memahami kejujuran apabila kejujuran telah menjadi kebiasaan dalam setiap tindakannya.

Pada tataran ini, kehidupan seseorang menjadi cermin dari kawruh yang telah dijalaninya.

Makna Nawa Pramana Kawruh Sejati
Kesembilan tataran tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kawruh merupakan perjalanan yang bertahap. Pramana Kawruh menjadi wiwitan pemahaman, Pramana Cipta membawa kawruh untuk melihat keadaan pikiran, Pramana Rasa menjadikannya pengalaman batin, Pramana Budi menuntunnya untuk ditimbang, Pramana Karsa mengubahnya menjadi kehendak, Pramana Laku menjadikannya tindakan, Pramana Pamawas menguji hasilnya melalui pengalaman, Pramana Jati menyatukannya dengan diri, dan Pramana Wujud menampakkannya dalam kehidupan.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya tergesa-gesa merasa telah sampai hanya karena telah memahami suatu kawruh. Pemahaman merupakan awal. Perubahan yang sebenarnya baru dapat dilihat ketika kawruh mampu memengaruhi seluruh kehidupan.

Semakin dalam kawruh dipahami, seharusnya semakin tertata pula kehidupan.

Semakin jernih cipta, semakin hati-hati seseorang dalam menilai.

Semakin tertata rasa, semakin tenang seseorang menghadapi keadaan.

Semakin matang budi, semakin bijaksana seseorang dalam memilih.

Dan semakin kuat karsa yang baik, semakin nyata pula kawruh dalam laku.

Pada akhirnya, ukuran kawruh bukan banyaknya yang dapat diucapkan, melainkan perubahan yang benar-benar terjadi dalam diri dan kehidupan.

FAQ Nawa Pramana Kawruh Sejati.
1. Apa yang dimaksud Nawa Pramana Kawruh Sejati?
Nawa Pramana Kawruh Sejati adalah sembilan tataran perkembangan kawruh dalam diri manusia, mulai dari memahami kawruh hingga mampu mewujudkannya
melalui kehidupan sehari-hari.

2. Apakah sembilan tataran tersebut harus dijalani secara berurutan?
Kesembilan tataran memiliki hubungan yang bertahap, tetapi dalam kehidupan nyata prosesnya dapat saling berulang. Pengalaman baru dapat membuat seseorang kembali meninjau pemahamannya.

3. Mengapa memahami kawruh saja belum cukup?
Karena pengetahuan yang hanya berada dalam pikiran belum tentu mengubah perilaku. Kawruh perlu dirasakan, ditimbang, diniatkan, dijalankan, dan dibuktikan melalui kehidupan.

4. Apa perbedaan Pramana Laku dan Pramana Wujud?
Pramana Laku merupakan tahap ketika kawruh mulai dijalankan secara sadar. Pramana Wujud merupakan tahap ketika kawruh telah begitu menyatu sehingga tampak secara alami dalam keseluruhan perilaku dan cara hidup.

5. Mengapa Pramana Pamawas penting?
Karena tahap tersebut membantu seseorang melihat hasil nyata dari kawruh yang telah dijalani. Dengan demikian, seseorang dapat menilai perubahan dirinya berdasarkan pengalaman, bukan sekadar perasaan bahwa dirinya telah berubah.

6. Apa tanda kawruh telah menyatu dengan jati diri?
Salah satu tandanya adalah kebaikan tidak lagi dilakukan terutama demi pujian atau pengakuan. Laku tersebut mulai tumbuh secara wajar karena telah menjadi bagian dari kesadaran dan kebiasaan diri.

7. Apa tujuan akhir Nawa Pramana Kawruh Sejati?
Tujuan akhirnya bukan menjadikan seseorang pandai berbicara tentang kawruh, melainkan menjadikan kawruh benar-benar hidup dalam cipta, rasa, budi, karsa, dan tindak tanduk sehari-hari.

***Baca atau download
SERAT NAWA PRAMANA KAWRUH SEJATI

Komentar