PRAMANA RASA UTTAMOPADESA
Ngraosake Kawruh, Tataran Ketiga dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati
Penjelasan awal ... BUKA
Semakin seseorang mampu mengenali pengalaman batinnya dengan jujur, semakin ia memiliki kesempatan untuk memahami dirinya sendiri.
Rasa menjadi sumber pengalaman yang memperdalam kawruh dan mempersiapkan diri untuk menimbang apa yang seharusnya dilakukan.
- Kawruh Uttamopadesa -
Pengertian Pramana Rasa.
Pramana Rasa — Ngraosake Kawruh merupakan tataran ketiga dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati.
Setelah seseorang mangerteni kawruh melalui Pramana Kawruh dan mulai mirsani kawruh ing cipta melalui Pramana Cipta, perjalanan kawruh kemudian bergerak lebih dalam menuju rasa.
Pada tataran ini, kawruh tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dipahami oleh pikiran. Kawruh mulai dialami dan dirasakan dalam batin.
Kata rasa dalam kerangka ini tidak hanya berarti perasaan dalam pengertian emosional. Rasa menunjuk pada pengalaman batin yang muncul ketika seseorang berhadapan langsung dengan suatu keadaan, menjalani suatu laku, dan mengalami sendiri apa yang sebelumnya hanya dipahami sebagai pengetahuan.
Karena itu, ngraosake kawruh berarti merasakan atau mengalami kawruh sehingga maknanya tidak lagi berada semata-mata di dalam pikiran, tetapi mulai mempunyai kedalaman pengalaman di dalam diri.
Seseorang dapat memahami bahwa kesabaran merupakan sesuatu yang baik. Namun pemahaman tersebut menjadi lebih bermakna ketika ia menghadapi keadaan yang benar-benar menguji kesabarannya.
Pada saat itulah kawruh bertemu dengan pengalaman. Di sanalah rasa mulai bekerja.
Dari Memahami Menuju Mengalami.
Pengetahuan memiliki jarak tertentu dari pengalaman. Seseorang dapat membaca tentang ketenangan, mendengar penjelasan tentang ketenangan, bahkan mampu menerangkan mengapa ketenangan penting.
Namun semua itu berbeda dengan mengalami sendiri keadaan ketika batin berada dalam tekanan tetapi tetap mampu menjaga ketenangan.
Perbedaan antara keduanya merupakan wilayah Pramana Rasa.
Pada Pramana Kawruh, seseorang bertanya:
“Apa yang dimaksud dengan kawruh ini?”
Pada Pramana Cipta, perhatian berkembang menjadi:
“Bagaimana kawruh ini terlihat dalam cipta saya?”
Pada Pramana Rasa, pertanyaannya semakin dalam:
“Bagaimana kawruh ini saya alami dan rasakan dalam kehidupan?”
Perubahan tersebut membuat kawruh menjadi semakin dekat dengan diri. Pengetahuan tidak lagi hanya berada sebagai gagasan yang berada di luar pengalaman. Ia mulai disentuh oleh kehidupan nyata.
Rasa sebagai Pengalaman Batin.
Rasa merupakan wilayah yang sangat dekat dengan pengalaman manusia. Seseorang dapat merasakan ketenangan, kegelisahan, keberanian, ketakutan, kasih, kecewa, lapang, sempit, ringan, atau berat dalam menghadapi suatu keadaan.
Namun dalam Pramana Rasa, seseorang tidak hanya mengalami rasa secara pasif. Ia mulai mirsani dan mengenali pengalaman batinnya.
Ketika marah, misalnya, ia mulai mengetahui bagaimana kemarahan terasa dalam dirinya. Ia dapat memperhatikan bagaimana pikiran tertentu menyertai kemarahan, bagaimana tubuh ikut bereaksi, bagaimana dorongan untuk berbicara atau bertindak muncul, dan bagaimana keadaan batin berubah setelah kemarahan mereda.
Dengan demikian, pengalaman rasa menjadi sumber pembelajaran.
Kawruh tidak hanya memberi penjelasan mengenai keadaan batin, tetapi kehidupan sendiri menjadi ruang untuk mengenali kawruh tersebut.
Tidak Semua Rasa Menunjukkan Kebenaran.
Pendalaman Pramana Rasa juga membutuhkan kehati-hatian. Merasa sesuatu tidak otomatis berarti sesuatu tersebut benar.
Seseorang dapat merasa curiga tanpa memiliki bukti. Seseorang dapat merasa takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya. Seseorang dapat merasa dirinya paling benar karena egonya terluka.
Karena itu, rasa tidak boleh langsung dijadikan ukuran tunggal kebenaran.
Inilah sebabnya Pramana Rasa tidak berdiri sendiri. Ia tetap berhubungan dengan Pramana Kawruh dan Pramana Cipta.
Kawruh membantu memahami.
Cipta membantu melihat.
Rasa membantu mengalami.
Ketiganya saling melengkapi.
Jika rasa tidak disertai kejernihan cipta, pengalaman batin dapat ditafsirkan secara keliru. Sebaliknya, jika seseorang hanya menggunakan cipta tanpa memberi ruang kepada pengalaman rasa, kawruh dapat menjadi terlalu teoritis dan jauh dari kehidupan.
Membedakan Rasa dan Reaksi.
Salah satu pendalaman penting dalam Pramana Rasa adalah kemampuan membedakan rasa yang dialami dari reaksi yang muncul setelah rasa tersebut.
Misalnya seseorang merasa tersinggung.
Rasa tersinggung adalah pengalaman batin. Namun setelah rasa tersebut muncul, dapat timbul keinginan untuk membalas, meninggikan suara, menyalahkan, atau menjauh.
Jika seseorang tidak menyadari proses tersebut, rasa dan tindakan dapat dianggap sebagai satu hal yang sama.
Padahal terdapat ruang di antara keduanya.
Rasa dapat muncul tanpa harus langsung menentukan tindakan.
Kesadaran terhadap ruang tersebut membuat seseorang mulai mempunyai kebebasan dalam merespons.
Kawruh kemudian tidak hanya menjadi sesuatu yang diketahui, tetapi menjadi sesuatu yang dapat digunakan ketika pengalaman batin muncul.
Mengalami Kawruh dalam Keadaan Nyata.
Kawruh akan lebih dalam ketika bertemu dengan keadaan yang nyata.
Seseorang yang memahami pentingnya menerima keadaan dapat mengetahui maknanya ketika kehidupan berjalan sesuai harapan. Namun pemahaman tersebut benar-benar diuji ketika sesuatu yang diharapkan tidak terjadi.
Seseorang yang memahami pentingnya kejujuran akan mengalami kedalaman kawruh tersebut ketika berkata jujur mempunyai konsekuensi yang tidak menyenangkan.
Seseorang yang memahami pentingnya kesabaran akan mengetahui kekuatan kawruhnya ketika berhadapan dengan keadaan yang berulang kali menguji kesabarannya.
Dengan demikian, kehidupan menjadi tempat kawruh mengalami pengujian.
Apa yang sebelumnya tampak sederhana dalam teori dapat ternyata sangat dalam ketika dijalani.
Pada saat seperti itu, seseorang mulai menemukan bahwa memahami sebuah prinsip dan menghidupinya merupakan dua hal yang berbeda.
Pramana Rasa dan Pengalaman.
Pengalaman merupakan salah satu jalan penting dalam pendalaman kawruh. Namun pengalaman saja belum tentu menghasilkan pemahaman.
Seseorang dapat mengalami peristiwa yang sama berkali-kali tanpa memperoleh pelajaran darinya apabila ia tidak mau melihat dan merenungkan pengalaman tersebut.
Karena itu, Pramana Rasa berhubungan erat dengan kesadaran.
Pengalaman menjadi kawruh ketika seseorang mampu melihat apa yang terjadi, merasakan pengaruhnya, memahami maknanya, kemudian mengambil pelajaran darinya.
Misalnya seseorang berulang kali mengalami konflik karena terlalu cepat berbicara ketika marah. Apabila ia hanya mengalami konflik tanpa melihat pola tersebut, pengalaman itu mungkin berlalu begitu saja.
Namun apabila ia mulai menyadari, “Setiap kali cipta saya dipenuhi gejolak, ucapan saya menjadi semakin keras dan persoalan semakin besar,” maka pengalaman tersebut mulai berubah menjadi pemahaman. Inilah salah satu cara kawruh tumbuh melalui rasa.
Kedalaman Rasa Tidak Sama dengan Kuatnya Emosi.
Perlu dibedakan antara kedalaman rasa dan kuatnya emosi. Emosi yang sangat kuat belum tentu menunjukkan kedalaman batin.
Seseorang dapat menangis dengan sangat kuat tetapi belum tentu memahami apa yang terjadi di dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang dapat mengalami rasa yang sangat dalam tanpa menunjukkannya melalui emosi yang berlebihan.
Pramana Rasa lebih menekankan kemampuan untuk mengalami dan mengenali keadaan batin dengan sadar, bukan sekadar mengalami emosi secara intens.
Semakin seseorang mengenali rasa, semakin ia mampu melihat perbedaan antara rasa yang muncul, penyebab yang diduga, pikiran yang menyertainya, dan tindakan yang hendak dilakukan. Dengan demikian, rasa menjadi sesuatu yang dapat dipelajari.
Rasa sebagai Jembatan antara Cipta dan Laku.
Rasa mempunyai kedudukan penting karena berada di antara pemahaman dan tindakan.
Cipta dapat memahami suatu kawruh.
Rasa membuat kawruh tersebut mempunyai
kedekatan pengalaman.
Dari pengalaman itu, seseorang kemudian dapat mempertimbangkan apa yang perlu dilakukan.
Karena itu, Pramana Rasa menjadi salah satu jembatan menuju tataran berikutnya, yaitu Pramana Budi — Nimbang Kawruh.
Apa yang dipahami dan dirasakan belum tentu langsung menjadi tindakan. Ia masih perlu ditimbang.
Misalnya seseorang memahami bahwa berkata kasar dapat melukai orang lain dan ia juga merasakan akibat batinnya setelah berbicara kasar.
Pengalaman tersebut kemudian dapat menjadi bahan bagi budi untuk menimbang bagaimana seharusnya ia berbicara pada kesempatan berikutnya.
Dengan demikian, rasa memberikan pengalaman yang kemudian dapat dipertimbangkan oleh budi.
Hubungan Rasa dengan Kejujuran terhadap Diri.
Pramana Rasa juga menuntut kejujuran. Seseorang perlu berani mengakui apa yang benar-benar dirasakan di dalam dirinya.
Kadang-kadang manusia berusaha menampilkan keadaan batin yang berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengatakan dirinya tenang padahal masih marah. Ia mengatakan tidak peduli padahal sebenarnya sangat kecewa. Ia mengatakan menerima keadaan padahal masih menolak dalam batin.
Pramana Rasa tidak mengharuskan seseorang langsung mengubah semua rasa tersebut.
Langkah pertama adalah mengakui keberadaannya.
Jika marah, sadari bahwa ada kemarahan.
Jika takut, sadari bahwa ada ketakutan.
Jika kecewa, sadari bahwa ada kekecewaan.
Kesadaran tersebut bukan berarti membenarkan semua dorongan yang muncul dari rasa. Kesadaran hanya membuat seseorang melihat keadaan batinnya secara lebih jujur. Setelah terlihat, rasa dapat dipahami dan ditimbang.
Rasa dan Perubahan Diri.
Kawruh mulai mempunyai kekuatan mengubah diri ketika pengalaman terhadap kawruh menjadi semakin nyata.
Seseorang yang berkali-kali mengalami akibat dari ketergesaan dapat mulai merasakan nilai dari ketenangan.
Seseorang yang mengalami akibat dari kebohongan dapat mulai merasakan beban yang muncul ketika dirinya tidak jujur.
Seseorang yang mengalami manfaat dari keterbukaan dapat mulai merasakan bahwa kejujuran bukan sekadar aturan, tetapi memiliki hubungan langsung dengan ketenteraman hidup.
Pada titik tersebut, kawruh mulai memperoleh kedalaman.
Ia bukan lagi hanya sesuatu yang dikatakan baik karena sebuah ajaran mengatakan demikian. Ia mulai dirasakan melalui pengalaman pribadi.
Pramana Rasa dalam Kehidupan Sehari-hari.
Pramana Rasa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memperhatikan pengalaman batin ketika menghadapi berbagai keadaan.
Ketika mendapat pujian, seseorang dapat mengamati apa yang muncul dalam dirinya.
Ketika menerima kritik, ia dapat memperhatikan rasa yang muncul sebelum memberikan jawaban.
Ketika menghadapi kegagalan, ia dapat melihat bagaimana kecewa mempengaruhi pikirannya.
Ketika menghadapi keberhasilan, ia dapat melihat apakah keberhasilan tersebut menimbulkan kesombongan atau justru rasa syukur.
Ketika terjadi perbedaan pendapat, ia dapat mengamati apakah dorongan untuk menang lebih kuat daripada keinginan untuk memahami.
Semua keadaan tersebut dapat menjadi ruang untuk ngraosake kawruh.
Dengan cara demikian, kehidupan sehari-hari tidak hanya menjadi tempat menjalankan aktivitas, tetapi juga menjadi tempat untuk mengenali kedalaman diri.
Ciri-Ciri Berkembangnya Pramana Rasa.
Beberapa tanda berkembangnya Pramana Rasa antara lain seseorang mulai mampu mengenali keadaan batinnya dengan lebih jujur, tidak langsung menganggap setiap rasa sebagai kebenaran, mampu membedakan rasa dari tindakan, serta mampu menggunakan pengalaman sebagai bahan pembelajaran.
Ia juga mulai menyadari bahwa keadaan batin dapat berubah.
Rasa marah datang dan kemudian reda.
Kecemasan muncul dan kemudian dapat berkurang.
Kekecewaan terasa berat pada suatu waktu, tetapi dapat berubah ketika seseorang memperoleh pemahaman baru.
Kesadaran terhadap perubahan tersebut membuat seseorang tidak terlalu melekat pada keadaan batin yang sedang dialaminya.
Hubungan dengan Tataran Berikutnya.
Pramana Rasa menjadi dasar bagi Pramana Budi. Apa yang dipahami melalui Pramana Kawruh dan diamati dalam Pramana Cipta kini mulai dialami dalam rasa. Pengalaman tersebut kemudian perlu ditimbang agar tidak setiap dorongan batin langsung menjadi dasar tindakan.
Dengan demikian, perjalanan Nawa Pramana semakin bergerak dari pengetahuan menuju kedalaman penghayatan.
Mangerteni memberi dasar pemahaman.
Mirsani memberi kejernihan pengamatan.
Ngraosake memberikan pengalaman batin.
Kemudian pengalaman tersebut dibawa menuju Nimbang Kawruh, yaitu Pramana Budi.
Kesimpulan.
Pramana Rasa — Ngraosake Kawruh merupakan tataran ketiga dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati, ketika kawruh yang sebelumnya dipahami dan diamati mulai dialami secara langsung dalam batin.
Pada tahap ini, seseorang belajar bahwa pengetahuan tidak cukup hanya dipahami oleh cipta. Kawruh perlu bertemu dengan kehidupan agar maknanya dapat dirasakan.
Namun rasa tidak otomatis menjadi ukuran kebenaran. Rasa perlu diamati dan dipahami, karena manusia dapat merasakan sesuatu yang kuat tetapi belum tentu benar. Oleh sebab itu, Pramana Rasa tetap berhubungan dengan kejernihan cipta dan pemahaman terhadap kawruh.
Semakin seseorang mampu mengenali pengalaman batinnya dengan jujur, semakin ia memiliki kesempatan untuk memahami dirinya sendiri. Rasa menjadi sumber pengalaman yang memperdalam kawruh dan mempersiapkan diri untuk menimbang apa yang seharusnya dilakukan.
Dengan demikian, Pramana Rasa merupakan jembatan antara kawruh yang dipahami dan kawruh yang mulai dihayati dalam kehidupan.
Dari sinilah perjalanan berikutnya bergerak menuju Pramana Budi — Nimbang Kawruh, yaitu tataran ketika apa yang telah dipahami dan dirasakan mulai ditimbang dengan lebih jernih sebelum diwujudkan melalui karsa dan laku.
FAQ Pramana Rasa Uttamopadesa.
Apa yang dimaksud Pramana Rasa?
Pramana Rasa adalah tataran ketiga dalam Nawa Pramana Kawruh Sejati, yaitu proses ngraosake kawruh, merasakan dan mengalami kawruh secara langsung dalam kehidupan batin.
Apa arti Ngraosake Kawruh?
Ngraosake kawruh berarti mengalami dan merasakan makna kawruh dalam kehidupan, sehingga pengetahuan tidak hanya dipahami oleh pikiran tetapi mulai mempunyai kedalaman pengalaman batin.
Apakah rasa selalu menunjukkan kebenaran?
Tidak. Rasa merupakan pengalaman batin, sedangkan kebenaran tetap perlu dilihat dengan kejernihan cipta dan ditimbang melalui budi. Seseorang dapat merasakan takut atau curiga meskipun keadaan sebenarnya belum tentu seperti yang dirasakannya.
Apa perbedaan rasa dan emosi?
Emosi merupakan salah satu bentuk pengalaman rasa, tetapi Pramana Rasa tidak terbatas pada emosi yang kuat. Yang ditekankan adalah kemampuan menyadari, mengalami, dan mengenali keadaan batin secara sadar.
Mengapa pengalaman penting dalam Pramana Rasa?
Karena pengalaman membuat seseorang dapat merasakan sendiri apa yang sebelumnya hanya diketahui secara teoritis. Melalui pengalaman, kawruh dapat memperoleh kedalaman dan makna yang lebih nyata.
Apakah merasakan kawruh berarti langsung mengamalkannya?
Belum tentu. Rasa merupakan tahap penghayatan. Apa yang dirasakan masih perlu ditimbang melalui budi sebelum diwujudkan menjadi kehendak dan tindakan.
Bagaimana cara menerapkan Pramana Rasa?
Salah satunya dengan memperhatikan keadaan batin ketika menghadapi pujian, kritik, kegagalan, keberhasilan, perbedaan pendapat, kemarahan, ketakutan, atau kekecewaan, kemudian melihat apa yang terjadi tanpa langsung mengikuti dorongannya.
Apa hubungan Pramana Rasa dengan Pramana Cipta?
Pramana Cipta menekankan pengamatan terhadap pikiran dan cara pandang, sedangkan Pramana Rasa membawa kawruh lebih dalam menuju pengalaman batin. Cipta mengamati, sedangkan rasa mengalami.
Mengapa harus jujur terhadap rasa sendiri?
Karena seseorang sulit memahami keadaan batinnya apabila terus menyangkal apa yang sebenarnya sedang dialami. Kejujuran terhadap rasa menjadi dasar untuk memahami, menimbang, dan kemudian mengolahnya.
Apa tahap setelah Pramana Rasa?
Tahap berikutnya adalah Pramana Budi — Nimbang Kawruh, yaitu menimbang kawruh berdasarkan apa yang telah dipahami, diamati, dan dialami sehingga dapat menentukan arah yang selaras sebelum memasuki tahap karsa dan laku.

Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.