PRAMANA LAKU UTTAMOPADESA
NGLAKONI KAWRUH
Penjelasan awal ... BUKA
Laku bukan sekadar tindakan lahiriah, melainkan proses menjadikan kawruh sebagai dasar dalam menjalani kehidupan.
Semakin sering kawruh dijalani dengan sadar, semakin kecil jarak antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan.
- Kawruh Uttamopadesa -
Dalam rangkaian Nawa Pramana Kawruh Sejati, Pramana Laku merupakan tataran keenam setelah Pramana Kawruh, Pramana Cipta, Pramana Rasa, Pramana Budi, dan Pramana Karsa. Pada tataran ini, kawruh tidak lagi berhenti sebagai sesuatu yang dipahami, diamati, dirasakan, dipertimbangkan, atau diniatkan, tetapi mulai dijalani secara nyata melalui laku kehidupan.
Pramana Laku dapat dipahami sebagai tataran nglakoni kawruh, yaitu menjalankan kawruh dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pengetahuan berhadapan langsung dengan keadaan yang sesungguhnya.
Apa yang sebelumnya dipahami sebagai kebenaran mulai diuji oleh pilihan, kebiasaan, hubungan dengan orang lain, keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, serta berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan.
Kawruh yang benar-benar telah meresap tidak hanya tampak ketika seseorang sedang berbicara tentangnya. Kawruh mulai terlihat ketika seseorang berada dalam keadaan yang menguji dirinya.
Ketika menghadapi perbedaan pendapat, misalnya, seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya memahami pentingnya ketenangan, tetapi pemahaman tersebut baru memperoleh makna yang lebih dalam ketika ia mampu menjaga ketenangan itu pada saat benar-benar menghadapi perbedaan.
Pengertian Pramana Laku.
Pramana Laku adalah tataran ketika kawruh mulai diwujudkan dalam tindakan dan perilaku. Laku bukan sekadar melakukan sesuatu secara lahiriah, melainkan menjalankan apa yang telah dipahami, dirasakan, ditimbang, dan diniatkan sebagai bagian dari kehidupan.
Dengan demikian, laku mempunyai kedudukan penting karena menjadi penghubung antara kesadaran batin dan kenyataan hidup. Sebelum sampai pada laku, kawruh masih berada terutama dalam wilayah diri.
Seseorang mungkin telah mengetahui apa yang baik, mampu menjelaskan alasan mengapa sesuatu dianggap baik, merasakan nilai dari kebaikan tersebut, mempertimbangkannya dengan budi, kemudian mempunyai niat untuk menjalankannya.
Namun, selama belum dilakukan, kawruh tersebut belum benar-benar diuji dalam kehidupan.
Karena itu, Pramana Laku bukan sekadar tahap “melakukan”, melainkan tahap menguji kawruh melalui kehidupan.
Nglakoni Kawruh Berbeda dengan Sekadar Bertindak.
Tidak semua tindakan dapat disebut nglakoni kawruh. Seseorang dapat melakukan sesuatu karena kebiasaan, tekanan keadaan, kepentingan pribadi, rasa takut, keinginan mendapatkan penghargaan, atau sekadar mengikuti orang lain. Tindakan semacam itu belum tentu menunjukkan bahwa kawruh telah menjadi dasar laku.
Nglakoni kawruh berarti tindakan tersebut memiliki hubungan dengan kesadaran yang telah dibangun pada tahap-tahap sebelumnya. Apa yang dilakukan mempunyai dasar dari kawruh yang telah dimengerti, diamati dalam cipta, dirasakan dalam batin, ditimbang oleh budi, dan kemudian diniatkan melalui karsa.
Misalnya, seseorang telah memahami pentingnya kejujuran. Pada Pramana Kawruh, ia mengetahui arti kejujuran. Pada Pramana Cipta, ia mulai melihat berbagai pikiran dan alasan yang muncul ketika dirinya hendak berkata jujur atau tidak jujur. Pada Pramana Rasa, ia merasakan bagaimana ketidakjujuran dapat menimbulkan kegelisahan batin. Pada Pramana Budi, ia menimbang akibat dari pilihan yang akan diambil. Pada Pramana Karsa, ia meniatkan untuk tetap jujur.
Namun seluruh proses tersebut belum selesai sebelum ia menghadapi keadaan nyata ketika berkata jujur justru dapat membuat dirinya berada dalam keadaan yang tidak nyaman.
Ketika dalam keadaan seperti itu ia tetap memilih kejujuran, di situlah kawruh mulai menjadi laku.
Laku sebagai Ujian terhadap Kawruh.
Kehidupan sehari-hari merupakan tempat paling nyata untuk mengetahui seberapa jauh kawruh telah dipahami. Selama kawruh hanya dibicarakan dalam keadaan tenang, seseorang mungkin merasa dirinya telah memahami banyak hal.
Akan tetapi, keadaan yang berubah dapat memperlihatkan bagian diri yang sebelumnya belum disadari.
Seseorang dapat mengatakan bahwa ia memahami kesabaran, tetapi ketika menghadapi sesuatu yang mengganggu kepentingannya, kesabaran tersebut diuji.
Ia dapat mengatakan bahwa ia memahami pentingnya menghargai orang lain, tetapi ketika pendapatnya ditolak, pemahaman tersebut diuji kembali.
Ia dapat mengatakan bahwa ia memahami pentingnya tidak dikuasai kemarahan, tetapi ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, kawruh tersebut memperoleh kesempatan untuk dibuktikan.
Karena itu, laku dapat menjadi cermin bagi kekuatan kawruh.
Jika seseorang mudah kembali pada kebiasaan lama ketika menghadapi tekanan, hal tersebut bukan berarti seluruh kawruhnya tidak berguna.
Sebaliknya, keadaan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat jarak antara apa yang telah dipahami dengan apa yang telah menjadi kebiasaan dalam diri.
Kesadaran semacam ini penting karena Pramana Laku bukan tuntutan untuk langsung menjadi sempurna. Yang lebih penting adalah keberanian untuk menjalani, mengamati, memperbaiki, dan mengulangi laku dengan semakin sadar.
Laku Mengubah Kawruh Menjadi Kebiasaan.
Kawruh yang hanya diketahui dapat hilang dari ingatan, sedangkan kawruh yang dijalani berpeluang menjadi kebiasaan. Ketika seseorang berulang kali memilih tindakan yang sesuai dengan kawruh yang telah diyakininya, pilihan tersebut perlahan menjadi bagian dari cara hidup.
Misalnya, seseorang memahami bahwa sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain, ia perlu mengetahui keadaan secara lebih lengkap.
Pada awalnya, ia mungkin harus secara sadar menahan keinginan untuk segera menyimpulkan. Setelah berkali-kali melakukan hal tersebut, kebiasaan untuk memeriksa keadaan terlebih dahulu mulai terbentuk.
Di sini terjadi perubahan penting. Dahulu ia mungkin langsung bereaksi terhadap apa yang dilihat atau didengarnya. Setelah menjalani kawruh tersebut, ia mulai mempunyai ruang untuk melihat, menimbang, dan menentukan respons dengan lebih sadar.
Dengan demikian, laku bukan hanya menghasilkan tindakan tertentu, tetapi juga dapat membentuk pola kehidupan baru.
Keteguhan Laku Ketika Menghadapi Kesulitan.
Nilai sebuah laku sering kali terlihat bukan ketika keadaan mendukung, melainkan ketika keadaan justru berlawanan dengan apa yang hendak dijalani.
Menjalani kejujuran ketika berkata jujur mudah dilakukan tentu berbeda dengan tetap jujur ketika kebohongan tampak lebih menguntungkan.
Menjaga ketenangan ketika keadaan damai tentu berbeda dengan menjaga ketenangan ketika sedang berada dalam tekanan.
Menghormati orang lain ketika dihormati tentu berbeda dengan tetap menjaga sikap ketika seseorang merasa dirinya tidak dihargai.
Di sinilah karsa dari tahap sebelumnya memperoleh bentuk nyata. Karsa yang kuat tidak hanya berupa niat yang baik, tetapi mempunyai kemampuan untuk mengarahkan tindakan ketika terdapat dorongan lain yang berlawanan.
Oleh sebab itu, Pramana Laku juga memperlihatkan apakah niat yang telah dibentuk pada tahap Pramana Karsa benar-benar mempunyai kekuatan untuk menjadi dasar kehidupan.
Laku Tidak Harus Selalu Besar.
Nglakoni kawruh tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar atau luar biasa. Justru kehidupan sehari-hari menyediakan banyak kesempatan untuk menjalankan kawruh melalui hal-hal yang sederhana.
Cara berbicara kepada orang lain, cara menerima kritik, cara menghadapi kesalahan, cara menggunakan waktu, cara mengambil keputusan, cara memperlakukan orang yang berbeda pendapat, serta cara menyikapi keuntungan dan kerugian merupakan bagian dari laku.
Kawruh tentang kesadaran, misalnya, dapat dijalani dengan membiasakan diri melihat keadaan sebelum bereaksi. Kawruh tentang kejujuran dapat dijalani dengan tidak memutarbalikkan keadaan demi kepentingan pribadi. Kawruh tentang pengendalian diri dapat dijalani dengan tidak langsung mengikuti dorongan emosi ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, ukuran laku bukan terutama besarnya tindakan, melainkan kesesuaian antara kawruh dan cara menjalani kehidupan.
Ketika Laku Tidak Sesuai dengan Kawruh
Dalam proses menjalani kawruh, seseorang dapat menemukan bahwa tindakannya belum selalu sesuai dengan apa yang dipahaminya.
Hal ini merupakan bagian penting dari perjalanan.
Ketidaksesuaian tersebut justru dapat membuka kesadaran baru. Seseorang mungkin mengetahui bahwa dirinya mudah marah, padahal ia memahami pentingnya ketenangan.
Ia mungkin menyadari bahwa dirinya masih sering mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi, padahal ia telah memahami pentingnya mempertimbangkan akibat bagi orang lain.
Yang penting bukan menutupi ketidaksesuaian tersebut, melainkan melihatnya dengan jujur.
Dari sinilah laku dapat menjadi jalan untuk memperbaiki diri.
Kawruh yang dijalani dengan kesadaran memungkinkan seseorang melihat kelemahan dirinya bukan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi sebagai sesuatu yang perlu dipahami dan diperbaiki.
Hubungan Pramana Laku dengan Tahap Sebelumnya.
Pramana Laku tidak berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari seluruh proses sebelumnya.
Pramana Kawruh memberikan pemahaman.
Pramana Cipta mengajarkan melihat apa yang berlangsung dalam cipta.
Pramana Rasa membawa kawruh ke pengalaman batin.
Pramana Budi membantu menimbang dan memilah.
Pramana Karsa membentuk niat dan kehendak untuk menjalani.
Kemudian Pramana Laku membawa semuanya ke dalam tindakan nyata.
Dengan demikian, laku merupakan titik penting karena seluruh proses sebelumnya mulai memperoleh bentuk dalam kehidupan.
Namun perjalanan belum selesai. Setelah seseorang menjalani kawruh, muncul kebutuhan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi sebagai akibat dari laku tersebut.
Apakah kawruh benar-benar membawa perubahan?
Apakah cipta menjadi lebih jernih?
Apakah rasa menjadi lebih tertata?
Apakah budi menjadi lebih matang?
Apakah karsa menjadi lebih kuat dan tidak mudah berubah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengantarkan perjalanan menuju tahap berikutnya, yaitu Pramana Pamawas — Nyumurupi Kasunyataning Kawruh Lumantar Laku.
Pramana Laku sebagai Jembatan Menuju Kasunyatan Kawruh.
Pada tahap berikutnya, seseorang tidak cukup hanya mengatakan bahwa dirinya telah menjalani kawruh. Ia perlu melihat kenyataan yang muncul dari laku tersebut.
Karena itu, Pramana Laku dapat dipandang sebagai jembatan antara kawruh yang berada dalam kesadaran dengan kenyataan yang tampak dalam kehidupan.
Melalui laku, seseorang memperoleh pengalaman langsung yang kemudian dapat diamati dan dipahami lebih dalam.
Kawruh menjadi semakin kuat bukan karena semakin sering dikatakan, melainkan karena semakin jelas terlihat dalam cara seseorang menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, nglakoni kawruh berarti memberikan kesempatan kepada kawruh untuk bekerja di dalam kehidupan. Kawruh tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang diketahui oleh diri, tetapi mulai memengaruhi cara berpikir, merasa, menimbang, berniat, memilih, dan bertindak.
Ciri-Ciri Pramana Laku.
Beberapa ciri yang dapat menunjukkan bahwa seseorang mulai memasuki tataran Pramana Laku antara lain:
1. Kawruh mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Tindakan tidak semata-mata didorong oleh kebiasaan lama.
3. Ada usaha menjaga kesesuaian antara pemahaman dan tindakan.
4. Seseorang mulai mampu menahan dorongan yang bertentangan dengan kawruh.
5. Kesalahan dalam laku dijadikan bahan untuk memperbaiki diri.
6. Kawruh mulai membentuk kebiasaan baru.
7. Keteguhan menjalankan kawruh semakin terlihat ketika menghadapi keadaan sulit.
8. Seseorang mulai melihat kehidupan sebagai tempat untuk menguji dan menghayati kawruh.
Penutup.
Pramana Laku — Nglakoni Kawruh adalah tataran ketika kawruh mulai keluar dari wilayah pemahaman dan masuk ke dalam kehidupan nyata. Pada tahap ini, seseorang tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang saya ketahui?”, tetapi mulai berhadapan dengan pertanyaan yang lebih nyata, yaitu, “Bagaimana kawruh tersebut saya jalani?”
Laku menunjukkan bahwa kawruh memiliki hubungan langsung dengan kehidupan. Apa yang telah dipahami, dirasakan, ditimbang, dan diniatkan mulai diuji melalui tindakan, pilihan, kebiasaan, serta cara menghadapi berbagai keadaan.
Karena itu, laku bukan sekadar tindakan lahiriah, melainkan proses menjadikan kawruh sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Semakin sering kawruh dijalani dengan sadar, semakin kecil jarak antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan.
Dari sinilah kawruh mulai memperoleh kekuatan yang lebih nyata. Namun setelah menjalani kawruh, masih diperlukan kemampuan untuk melihat dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi melalui laku tersebut.
Proses itulah yang kemudian membawa perjalanan Nawa Pramana Kawruh Sejati menuju tataran ketujuh, Pramana Pamawas, yaitu nyumurupi kasunyataning kawruh lumantar laku.
FAQ Pramana Laku Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud dengan Pramana Laku?
Pramana Laku adalah tataran ketika kawruh yang telah dipahami, dirasakan, ditimbang, dan diniatkan mulai dijalankan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
2. Apa arti Nglakoni Kawruh?
Nglakoni kawruh berarti menjalani atau mempraktikkan kawruh dalam tindakan, pilihan, kebiasaan, dan cara seseorang menghadapi kehidupan.
3. Apakah setiap tindakan termasuk laku?
Tidak. Tindakan disebut laku dalam pengertian ini ketika tindakan tersebut merupakan penerapan sadar dari kawruh yang telah dipahami dan diniatkan, bukan semata-mata tindakan karena kebiasaan, tekanan, atau dorongan sesaat.
4. Mengapa kawruh perlu dijalani?
Karena pengetahuan yang hanya dipahami belum menunjukkan bagaimana pengetahuan tersebut bekerja dalam kehidupan. Melalui laku, kawruh dapat diuji dan mulai membentuk kebiasaan serta cara hidup.
5. Apakah laku harus berupa tindakan besar?
Tidak. Laku dapat terlihat dalam tindakan sederhana sehari-hari, seperti cara berbicara, mengambil keputusan, menghadapi perbedaan, mengendalikan reaksi, dan memperlakukan orang lain.
6. Apa hubungan Pramana Laku dengan Pramana Karsa?
Pramana Karsa merupakan tataran ketika seseorang meniatkan kawruh dan memiliki kehendak untuk menjalaninya, sedangkan Pramana Laku merupakan tahap ketika kehendak tersebut benar-benar diwujudkan dalam tindakan.
7. Bagaimana jika tindakan belum sesuai dengan kawruh?
Ketidaksesuaian tersebut dapat menjadi bahan kesadaran dan perbaikan. Dalam proses laku, seseorang perlu melihat dengan jujur bagian dirinya yang masih belum sesuai dengan kawruh yang dipahami.
8. Kapan laku dapat dikatakan semakin kuat?
Laku semakin kuat ketika seseorang mampu menjalankan kawruh secara konsisten, termasuk ketika menghadapi keadaan yang tidak mendukung, godaan kepentingan pribadi, tekanan, atau dorongan untuk kembali pada kebiasaan lama.
9. Apa tahap setelah Pramana Laku?
Tahap berikutnya adalah Pramana Pamawas — Nyumurupi Kasunyataning Kawruh Lumantar Laku, yaitu melihat atau menyadari kenyataan kawruh melalui pengalaman menjalani laku.
10. Apa tujuan utama Pramana Laku?
Tujuan utamanya adalah membawa kawruh menjadi bagian nyata dari kehidupan, sehingga apa yang diketahui tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi mulai memengaruhi cara berpikir, merasa, menimbang, berniat, memilih, dan bertindak.

Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar dengan sopan dan beradab, semata-mata demi perkembangan websiteblog ini. Salam Sahabat.